INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sejak kebijakan presiden Jokowi menyetop keran impor jagung, para petani dari berbagai daerah indonesia merasa senang. Karena harga jual hasil panen jagung sekarang membuat para petani bisa merasa lega, bisa menutupi semua biaya produksi selama musim tanam dan petani mendapatkan keuntungan yang signifikan.
“Para petani jagung diberbagai daerah Indonesia merasa senang karena hasil kerja keras mereka dalam menanam jagung membuahkan laba yang cukup bagus”, demikian disampaikan oleh M Hadi Nainggolan selaku CEO Daun Agro dalam sambutannya pada acara “Farmer Fest” di Desa Dalu Sepuluh A Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
Para petani jagung yang menjadi mitra binaan Daun Agro saat ini rata-rata sudah bisa mendapatkan laba bersih sebesar 12,5 juta rupiah per hektarnya. Untuk laba tertinggi saat ini sudah tembus sampai di 21 juta rupiah per hektar, sedangkan untuk laba terendah para petani mitra binaan kita itu di angka 4 juta rupiah per hektarnya. Itu artinya dampak nyata dari kebijakan stop impor jagung membuat serapan hasil panen dalam negeri semakin meningkat dan menbuat harga beli jagung petani naik, tentu hal ini menjadi satu jalan terbaik membuat petani sejahtera, imbuh Hadi Nainggolan yang juga founder gerakan #TaniMillenial.
Tapi tentu kita tidak hanya berpikir petani saja yang makin baik kesejahteraannya, tapi juga dampak akibat tingginya harga jagung dalam negeri berimbas kepada para peternak ayam petelur maupun ayam pedaging. Keseimbangan harga jagung dalam negeri antara petani jagung dan peternak ayam mestinya bisa kita ciptakan solusinya.
Hadi Nainggolan berpendapat salah satu cara terbaik agar petani jagung sejahtera dan para peternak ayam juga sejahtera adalah dengan “fokus untuk meningkatkan produktifitas hasil panen serta bisa menekan biaya budidaya jagung per musim tanam”. Karena secara nasional rata-rata hasil panen jagung itu masih sekitar 6 ton per hektar. Sedangkan biaya untuk bercocok tanam per hektarnya bisa tembus sampai di 13 uta rupiah. Kalau kita mau berkaca dengan Negara-negara yang sektor pertanian pangannya maju, rata-rata hasil produksi panen jagung mereka sudah mencapai 12 ton per hektar secara konsisten dengan biaya bercocok tanam jagung per hektarnya bisa di reduksi menjadi 8 juta rupiah. Itulah sebabnya kenapa jagung impor lebih murah daripada kita tanam sendiri di Indonesia.
“Kata kunci agar indonesia bisa swasembada jagung adalah inovasi, mekanisasi, transformasi teknologi, digitalisasi dan mereformasi semua industri hulu sarana produksi pertanian”. Agar biaya produksi budidaya per musim tanam bisa kita pangkas lebih murah dan hasil produksi panen nyata naiknya. Jika hal ini bisa kita lakukan, maka harga jagung untuk pakan ternak bisa kita sesuaikan. Petani jagung sejahtera dan para peternak ayam juga akan sejahtera. Saya yakin presiden jokowi memberi perhatian khusus dalam mewujudkan visinya membuat Negara Indonesia menjadi swasembada pangan dan bahkan kita bisa ekspor jagung ke berbagai negara lainnya. Kita sebagai tani millenial siap berkolaborasi secara kongkrit dengan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia maju di sektor pangan, tutup Hadi Nainggolan yang merupakan pengusaha nasional di sektor pertanian dalam sambutannya di depan para komunitas petani jagung.
Pada kegiatan “Farmer Fest” tersebut, Daun Agro melakukan kegiatan tanam dan panen raya kebun demo plot jagung serta ngobrol tani millenial. Untuk panen raya demplot jagung petani mitra binaan di Deli Serdang tersebut hasil panennya mencatatkan hasil di angka 13,1 ton per hektar. Demplot jagung itu sendiri adalah kolaborasi antara Daun Agro dengan KTNA Deli Serdang, Enam Sembilan Benih dengan merek produk jagung hibrida JAB69-01 SAKTI dan Pupuk Mahkota.
Dalam acara “farmer fest” yang dilaksanakan di lokasi hamparan jagung tersebut, hadirnya juga dari Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Bupati Deli Serdang yang diwakili oleh Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang, Fakultas Pertanian UISU yang di wakili oleh Dr. Ir. Mhd. Rizwan, MP dan Ir. Deni Faisal MM, Lomo Hutabalian dari Pehimpunan Penyuluh Pertanian (Pehiptani) Deli Serdang, Ketua Umum BPC HIPMI Deli Serdang M Fachrul Adli Seregar, Tokoh Masyarakat Sumatera Utara Aripay Tambunan, Syamsul Sinaga Ketua KTNA Deli Serdang, Ketua Umum DPP BKPRMI Said Aldi Al Idrus, Ketua Umum DPP IKA Fakultas Pertanian UISU Edy Koesradi Ody, Ketua PW JPRMI Sumut Abdul Jalil Ritonga, Agronomis dan Marketing Pupuk Mahkota Syaiful Panjaitan dan Johana Purba, serta perwakilan dari berbagai komunitas petani dan lainnya.