Catatan Pertanian Mampu Juara Hadapi Covid-19

Oleh : NM Habibi | Rabu, 29 Desember 2021 - 14:03 WIB

MN Habibi
MN Habibi

INDUSTRY.co.id-Jakarta-Tahun 2021 ditutup dengan catatan manis di sektor pertanian. Meski Pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi ekonomi, sektor pertanian masih mampu tumbuh dan menjadi salah satu tumpuan ekonomi bangsa.

Namun demikian, tantangan di tahun mendatang tidaklah lebih mudah. Pandemi masih belum berakhir, apalagi virus corona telah bermutasi menjadi semakin ganas, kemunculan varian Omicron jadi ancaman baru, termasuk di Indonesia. Belum lagi ancaman perubahan iklim dan anomali cuaca serta bencana alam. Padahal Indonesia telah menargetkan untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2021 menunjukkan sektor pertanian masih tetap tumbuh dan memberikan kontribusi positif bagi pemulihan ekonomi nasional. Pada kuartal pertama tahun 2021, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tetap tumbuh di angka 2,95% saat PDB Nasional masih minus 0,74%. Tren positif ini tetap berlanjut di kuartal kedua tahun 2021 yang mencatatkan PDB sektor pertanian tumbuh 12,93% dan menjadi penyelamat resesi ekonomi kita.

Sektor pertanian juga memberikan sumbangan positif bagi pendapatan negara. Ekspor produk pertanian pada periode Januari hingga Oktober 2021 bernilai Rp 518,85 triliun. Naik 47,37% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Di dalam negeri, pembatasan aktivitas dan pekerjaan akibat pengendalian wabah corona, tidak lantas menurunkan produksi pertanian. Setelah di akhir tahun 2020, produksi beras mancatatkan surplus sebesar 7,39 juta ton, maka tahun 2021 ini produksi padi ditargetkan mencapai 31,82 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi yang diperkirakan sebesar 29,58 juta ton, maka masih akan ada surplus 9,63 juta ton di akhir tahun ini.

Tentunya kita berharap catatan ini bisa lebih baik di tahun 2022. Asalkan, tentunya, segenap pemangku pemangku kepentingan di sektor pertanian mampu melewati tantangan dan kendala yang ada.

Faktor alam masih menjadi salah satu ancaman utama sektor pertanian. Masih belum lepas dari ingatan kita, ketika Gunung Semeru di Jawa Tengah memuntahkan awan panas. Erupsi Semeru tidak hanya menyebabkan ribuan warga mengungsi, tapi juga menyebabkan rusaknya areal pertanian di daerah Lumajang dan sekitarnya.

Bencana alam seperti ini menjadi salah satu tantangan sektor pertanian, karena gugusan kepulauan Indonesia terletak pada wilayah cincin api (ring of fire). Wilayah yang memiliki gunung berapi paling aktif di dunia, yang berpotensi meletus kapan saja dengan tingkat kegempaan yang tinggi.

Tak hanya itu, perubahan iklim global menjadi ancaman tersendiri bagi sektor pertanian kita. Badan Pangan Dunia (FAO) telah mewanti-wanti akan ancaman kekeringan global yang bisa berdampak pada krisis ketersediaan pangan.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi munculnya fenomena La Nina yang akan berlangsung akhir tahun ini hingga Februari tahun 2022. Peningkatan curah hujan yang ekstrem akibat La Nina ini tentu saja akan berdampak besar pada sektor pertanian.

Adaptasi dan Minimalisasi Dampak

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan pentingnya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif perubahan iklim bagi sektor pertanian. Sebuah langkah yang bisa dibilang tidak menentang atau menantang alam, namun lebih sebagai upaya berdamai dengan alam.

Beberapa langkah yang telah dilakukan Kementerian Pertanian dalam mengantisipasi perubahan iklim ini. Ada Kalender Tanam (KATAM) yang disediakan sebagai panduan waktu bagi petani untuk menanam sesuai prediksi iklim di daerahnya.

Kementerian Pertanian juga sudah menghasilkan beberapa varietas bibit unggul yang tahan terhadap hama dan toleran terhadap kondisi kering dan basah. Penggunaan bibit ini, diharapkan bisa mengurangi potensi gagal panen akibat kelebihan atau kekurangan air akibat perubahan cuaca yang drastis.

Kemudian pembangunan embung dan irigasi untuk mengatur distribusi air baik ketika musim hujan maupun kemarau. Teknologi irigasi tetes juga telah dikembangkan untuk membantu pengairan lahan dengan keterbatasan air dan cuaca yang tidak menentu.

Bahkan saat ini tengah dikembangkan konsep pertanian cerdas (_smart farming_) yang memadukan penerapan teknologi robotik, sensor dan teknologi informasi untuk menghasilkan pertanian yang lebih produktif namun ramah lingkungan.

Perlindungan terhadap Petani

Di lain sisi, petani sebagai pelaku utama sektor pertanian adalah pihak yang paling rentan. Oleh karenanya program perlindungan petani jadi hal yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pertanian kita. Pemerintah telah menyediakan fasilitas asuransi bagi petani, yang bagi dunia usaha dan perbankan dinilai tidak feasible. Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) diluncurkan pemerintah untuk melindungi petani dari potensi gagal panen akibat bencana dan serangan hama dan penyakit.

Dana asuransi jadi sangat bermanfaat bagi petani sebagai modal untuk menanam kembali tanaman yang rusak akibat bencana ataupun serangan hama dan penyakit. Petani akan mendapatkan penggantian kerusakan/gagal panen maksimal sebesar Rp 6 juta per hektare untuk satu musim tanamnya. Sementara dari kewajiban premi sebesar Rp 180 ribu, pemerintah memberikan subsidi sebesar 80%, sehingga petani cukup membayar Rp 36 ribu per hektare per musim tanam.

Asuransi serupa juga diluncurkan untuk peternak sapi dan kerbau, yakni Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau.

Sementara itu, untuk akses permodalan, pemerintah talah menyediakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kredit permodalan tanpa agunan ini terbukti jadi pilihan petani dalam pengembangan usaha pertaniannya. Petani tidak lagi bergantung pada rentenir, yang justru sering jadi penyebab lilitan hutang yang tak berkahir baik. Melalui KUR, setiap petani bisa mengajukan pinjaman Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Untuk sektor pertanian, tahun ini dari target penyaluran Rp 70 triliun, hingga akhir tahun, sudah terserap tidak kurang dari Rp 85 triliun atau 121,5%.

Membangun Sinergi dan Kolaborasi

Hal yang tak kalah penting adalah membangun sinergi dan kolaborasi dengan pihak lain. Kementerian pertanian, saat ini telah bekerja sama dengan BMKG untuk melakukan mitigasi perubahan iklim. Bersama BMKG, Kementerian Pertanian telah membentuk Brigade La Nina untuk mengambil langkah-langkah dalam meminimalisir dampak buruk dari La Nina yang akan datang.

Sinergi dan kolaborasi ini memang harus terus diperluas. Banyak pihak yang berperan besar dalam penyediaan pangan bagi bangsa ini. Petani hanyalah bagian terdepan dalam produksi. Namun, menjadi pihak yang paling rentan terdampak dari permasalahan pertanian, termasuk permasalahan di sisi hilirnya.

Permasalahan utama yang saat ini masih ditemui adalah keterbatasan akses perani terhadap informasi, baik itu program maupun paket teknologi yang telah disediakan. Akses informasi terhadap program dan teknologi teknologi yang tepat untuk berdaptasi dengan perubahan iklim, semestinya bisa diperoleh dengan mudah oleh masyarakat petani. Peran-peran penyampai informasi kepada petani tidak hanya dilakukan oleh penyuluh yang terbatas jumlahnya. Perlu ada kolaborasi dan sinergi antara banyak pihak sehingga akses petani terhadap informasi dan teknologi menjadi semakin mudah.

Kolaborasi dan sinergi antara elemen ini terbukti bisa memberikan hasil yang luar biasa. Kampanye penerapan protokol kesehatan dan penanganan Pandemi Covid-19 terbukti efektif dalam penanggulangan Covid-19 di negeri ini. Andai sinergi dan kolaborasi seperti ini bisa diwujudkan dalam sektor pertanian, tentu para petani kita tidak lagi kesulitan mendapatkan hal-hal yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Petani kita bisa berdamai dengan alam dan berproduksi maksimal. Target untuk menjadi lumbung pangan duniapun bukan lagi sekadar mimpi. Semoga.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Tambang Batu Bara PT Bukit Asam Tbk

Sabtu, 22 Januari 2022 - 07:10 WIB

Bikin Menteri Erick Tersenyum! Kinerja Bukit Asam Dapat Pujian DPR

Jakarta-Meningkatnya ekspor batu bara Indonesia akibat tingginya permintaan dan tingginya harga batu bara internasional, dikhawatirkan mengancam ketersediaan batu bara untuk kepentingan dalam…

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono

Sabtu, 22 Januari 2022 - 07:00 WIB

Manajemen PT Hutama Karya (Persero) dan Menteri PUPR Pastikan SPM Optimal

Guna memastikan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada Jalan Tol Trans Sumatera, Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) bersama manajemen PT Hutama Karya (Persero) (Hutama…

KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman

Sabtu, 22 Januari 2022 - 06:00 WIB

KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman Dukung Upaya GRANAT Berantas Peredaran Narkoba

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M., menerima Audiensi Ketua Umum DPP Organisasi Gerakan Anti Narkoba ( Granat) DR. H. KRH. Henry Yosodiningrat, S.H,…

Perwira Brigif 2 Marinir Surabaya Tingkatkan Kemampuan Menembak Pistol

Sabtu, 22 Januari 2022 - 05:40 WIB

Perwira Brigif 2 Marinir Surabaya Tingkatkan Kemampuan Menembak Pistol

Dalam rangka mengasah dan meningkatkan profesionalisme, Perwira Brigif 2 Marinir melaksanakan latihan menembak pistol di lapangan tembak pistol Bhumi Marinir Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur.…

Prajurit Batalyon Howitzer 2 Marinir Laksanakan Cross Country

Sabtu, 22 Januari 2022 - 05:20 WIB

Prajurit Batalyon Howitzer 2 Marinir Laksanakan Cross Country

Dalam rangka uji kemampuan fisik, prajurit Batalyon Howitzer 2 Marinir laksanakan Latihan Perorangan Dasar (LPD) Tw I Tahun 2022 bertempat di Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra, Karangpilang,…