Acedero, Desa di Spanyol yang Muncul Kembali ke Permukaan Setelah Tenggelam 30 Tahun

Oleh : Chodijah Febriyani | Rabu, 15 Desember 2021 - 11:15 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Menurut sebuah laporan perubahan iklim akan berlalu, beberapa landmark paling favorit di dunia mungkin akan segera tenggelam. Namun, sebuah desa Spanyol memiliki cerita yang berbeda.

Sesuai laporan, Acedero, sebuah desa Spanyol, yang pernah tenggelam selama 30 tahun kini telah muncul kembali karena curah hujan yang sangat rendah. 

Dilansir dari laman Times of India, laporan mengatakan bahwa pada 1992, puluhan keluarga dipaksa harus meninggalkan rumah mereka di Acedero karena pada saat itu akan dibangun sebuah bendungan. Desa di perbatasan Spanyol dan Portugal tersebut sengaja ditenggelamkan dengan cara pintu air di bendungan Lindoso sebagai pembangkit listrik tenaga air ditutup. Sehingga, Sungai Limea yang berada di dekat wilayah desa itu pun membanjiri tanah dan bangunan sekitar.

Selain Aceredo, empat desa lain yang terendam di wilayah Galicia ini yaitu A Reloeira, Buscalque, O Bao, dan Lantemil. Kabarnya, masyarakat di lima desa di provinsi Ourense melakukan semua upaya untuk menghindari ancaman penggusuran, tetapi mereka tidak berhasil dalam upaya mereka, dan akhirnya dipaksa untuk pergi.

Meskipun tempat ini sebagian besar tetap tersembunyi selama hampir tiga dekade, beberapa bangunan kadang-kadang terlihat ketika bendungan yang digunakan mengering, yang terjadi bahkan baru-baru ini pada 2012 dan 2017.

Namun, pada November 2021, permukaan air di bendungan menurun ke tingkat rendah sehingga, menyebabkan desa tersebut muncul
kembali. Pintu-pintu rumah tampak dipenuhi lumpur, dinding batu bangunan tampaknya telah hancur, sementara tanah berserakan dengan puing-puing.

Sementara itu, bagian-bagian desa masih tetap terpelihara dengan baik, seperti jalan masih terlihat serta lahan pertanian. Dan karena air telah surut,masyarakat mungkin bisa berjalan di sepanjang jalan-jalannya dan melihat sekilas kerangka bangunannya.

Chodijah Febriyani Lihat semua artikel →