Waduh Gawat! Mendag Lutfi dan Bahlil Kini Beda Sudut Pandang, Ada Apa?

Oleh : Ridwan | Selasa, 26 Januari 2021 - 20:15 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia punya sudut pandang berbeda terkait mana yang lebih penting didahulukan, peningkatan investasi atau konsumsi.

Mendag Lutfi menganalogikan investasi dan konsumsi seperti hubungan kasih antara laki-laki dan perempuan. Dia mengibaratkan konsumsi dan kegiatan dagang seperti pacaran, dan investasi sebagai komitmen jangka panjang.

"Yang pertama kali kita mesti kenalan, saling mengunjungi. setelahnya kita pacaran atau trading dulu. Setelah trading, jatuh cinta dan saling kenal itu baru kita punya komitmen atau investasi, dalam pergaulan ini adalah perkawinan," jelasnya, Selasa (26/1/2021).

Dengan begitu, ia menilai konsumsi harus lebih dahulu diutamakan agar ke depannya muncul komitmen dari pelaku untuk bisa berinvestasi.

"Perdagangan itu pacaran. Apa yang kamu punya, saya punya, kita saling jatuh hati. Komitmennya investasi. Perdagangan membawa investasi dan investasi membawa industrialisasi," kata Mendag Lutfi.

Sementara Bahlil punya penilaian sedikit berbeda. Menurutnya, investasi merupakan pintu utama dari tumbuhnya konsumsi yang menopang pendapatan negara.

Bahlil menuturkan, konsumsi akan tumbuh jika ada daya beli dari masyarakat. Daya beli ini akan muncul jika ada kepastian pendapatan.

Kepastian pendapatan ini, lanjut Bahlil, bisa terjadi bila ada lapangan pekerjaan. Sementara lapangan pekerjaan bukan hanya untuk posisi PNS atau pegawai BUMN saja, melainkan pihak swasta juga harus ikut membuka lapangan kerja lewat investasi.

"Jadi kalau secara subjektif, investasi atau konsumsi dulu, saya mengatakan bahwa investasi adalah sumber pintu masuk untuk menaikan konsumsi uang masif," ujar Bahlil.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →