Indeks Daya Saing Pariwisata Meningkat, Menpar Tambah Direct Flight

Oleh : Chodijah Febriyani | Sabtu, 08 April 2017 - 09:00 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Pariwisata Indonesia diapresiasi lagi, kali ini Indeks daya saing Indonesia melesat naik 8 peringkat, dari posisi 50 besar dunia ke peringkat 42. Reputasi itu dipotret oleh The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017, yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF), pada 6 April 2017.

Ini adalah sukses kedua Menpar Arief Yahya, setelah 2015 lalu mendongkrak posisi Indonesia dari papan 70 besar ke nomor 50.

"Terima kasih!" ujar Menteri Pariwisata, Arief Yahya melalui siaran persnya yang diterima Industry.co.id, Sabtu (8/4/2017)

Ini berkat support dan komitmen  Presiden Joko Widodo, yang menempatkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama, leading sector dan sekaligus menjadikan core economy bangsa Indonesia, sambung Arief.

Di tahun 2017, Indeks Daya Saing Pariwisata Malaysia turun satu strip ke posisi 26 dunia. Sementara Thailand naik satu strip ke posisi 34.

“Wonderful Indonesia harus segera move on ke 30 besar dunia. Untuk mencapai ranking 30 dunia, kita terus memperbaiki kelemahan seperti infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, health and hygiene, dan aksesibilitas khususnya konektivitas penerbangan, kapasitas kursi dan penerbangan langsung,“ kata Arief Yahya.

Untuk memperbaikinya memang tak bisa instan. Tak bisa juga digarap Kemenpar sendirian. Karenanya Arief Yahya mendorong "Indonesia Incorporated", harus kerja bareng bergotong royong dengan kementerian dan lembaga lain.

Kementerian Pariwisata juga merumuskan  3 program prioritas di 2017. Yang pertama, ekosistem pariwisata ditampung dalam pasar digital. Buyers dan sellers yang terdiri dari travell agen’, akomodasi, atraksi dikumpulkan jadi satu di ITX untuk bertransaksi.

Program home stay dalam desa wisata merupakan pendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas ‘Bali baru’ yakni, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu,Candi Borubudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai.

Satu lagi, pembangunan konektivitas udara, mengingat sekitar 75 persen kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara. Ketersedian jumlah kursi pesawat menjadi kunci pencapaian target di tahun 2017 hingga 2019.

“Kapasitas seat 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan Indonesia dan asing saat ini hanya cukup untuk memenuhi target kunjungan 12 juta Wisman. Sedangkan untuk target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan 4 juta seat,” sambungnya.

Untuk itu kemenpar, lanjut Arief, akan melakukan startegi 3A (Airlines, Airport dan Air Navigation Authorities), yang diawali dengan melakukan nota kesepahaman (Mou) dengan perusahaan penerbangan Indonesia dan asing.

“Yaitu PT Angkasa Pura I dan II dan Airnav Indonesia yang akan menambah direct flight melalui pembukaan rute baru, extra flight, maupun flight baru dari pasar potensial serta pemberian incentive airport change,” Kata Arief.‎

Ia berharap, ke depannya semua sektor yang berhubungan dengan industri pariwisata terus berbenah dan bersinergi demi mewujudkan target yang akan dicapai pada tahun 2019 tersebut.

“Semua unsur yang menjadi kelemahan terus kita perbaiki dengan melibatkan stakeholder, pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, pers, dan komunitas masyarakat atau sebagai kekuatan penta helix. Sinergisitas penta helix ini merupakan kunci sukses dalam mengembangkan pariwisata nasional,” pungkas Arief Yahya.

Chodijah Febriyani Lihat semua artikel →