Menanti Realisasi Investasi Saudi Arabia Sebesar Rp93 Triliun di Cilacap

Oleh : Ridwan | Senin, 06 Maret 2017 - 13:18 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Lawatan resmi Raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi di Indonesia selama tiga hari telah berakhir pada tanggal 3 Maret, walau dia bersama rombongannya masih akan melanjutkan liburan ke Bali.

Menjelang kedatangan Raja Salman, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung sempat mengatakan MoU senilai US$25 miliar atau Rp333 triliun merupakan potensi investasi dalam lawatan raja Saudi dengan 1.500 delegasinya.

Sampai akhir acara resmi, kontrak yang paling besar ditandatangani adalah penanaman modal langsung Arab Saudi di tempat penyulingan minyak di Cilacap, Jawa Tengah senilai Rp93 triliun atau kurang sepertiga dari yang disebut pemerintah Indonesia sebelumnya.

Tetapi pengamat perminyakan, Kurtubi, tetap menyambut positif MOU tersebut karena menguntungkan kedua negara.

"Dari sisi Saudi Aramco. Pertama, sejak awal mereka memiliki pasar yang tetap di Indonesia, otomatis nanti setelah kapasitas kilang bertambah maka crude oil yang akan dijual ke Indonesia akan bertambah. Jadi efisien dari pihak Aramco karena tidak harus melewati pihak ketiga dan langsung ke usernya yaitu Pertamina, " ungkap Kurtubi di Jakarta (6/3/2017).

Pertamina juga diuntungkan karena ada kepastian pasokan minyak mentah untuk Indonesia karena jika menyangku kilang minyak, maka crude oil harus tersedia dalam jangka panjang.

Desember 2016 kedua pihak sudah mencapai kesepakatan, dan pada tahun 2017 disain engineering dijadwalkan sudah selesai.

Pembangunan kilang baru, yang merupakan perbaikan atas kilang sudah ada akan memerlukan 6.000 tenaga kerja dan kelak akan mengurangi impor BBM Indonesia.

"Saat ini kapasitas kilang Indonesia satu juta barel/hari dan yang efektif beroperasi sebesar 800 ribu barel/hari. Kilang baru akan memberikan tambahan 75.000 barel/hari dalam waktu dua tahun lagi," terang Kurtubi.

 

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →