Ini Penjelasan Bahlil Soal Mahalnya Harga Gas Industri

Oleh : Ridwan | Selasa, 09 Juni 2026 - 12:10 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.idJakarta - Kenaikan harga gas industri yang belakangan dikeluhkan pelaku usaha memicu kekhawatiran akan terganggunya aktivitas produksi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan gas untuk kebutuhan domestik tetap aman, meski mengakui terjadi kenaikan harga yang dipengaruhi dinamika pasar global.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah telah menjamin ketersediaan pasokan gas bagi sektor industri nasional, termasuk gas alam cair (LNG). Menurutnya, persoalan utama yang saat ini dihadapi industri bukanlah kelangkaan pasokan, melainkan penyesuaian harga yang mengikuti tren kenaikan energi dunia.

"Kalau pasokan, saya pastikan bahwa seluruh kebutuhan domestik untuk gas LNG kita semua sudah tersedia. Harganya memang ada terjadi kenaikan, dan itu bukan hanya di Indonesia, di dunia pun terjadi hal yang sama," kata Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (8/6).

Pernyataan Bahlil disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran kalangan industri terkait lonjakan harga gas yang dinilai dapat menekan biaya produksi dan mengganggu keberlangsungan usaha.

Sejumlah pelaku industri bahkan mengingatkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mengurangi daya saing produk nasional dan membuka risiko pengurangan tenaga kerja apabila beban biaya terus meningkat.

Meski demikian, Bahlil meminta dunia usaha tidak khawatir terhadap ketersediaan energi. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan pasar energi internasional guna mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap sektor industri nasional.

"Secara pasokan semuanya ada. Harganya memang ada terjadi koreksi karena mengikuti harga dunia," ujarnya.

Di tengah tekanan harga energi global, pemerintah juga berupaya menjaga keberlanjutan implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang selama ini menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya.

Bahlil mengungkapkan pemerintah masih mengkaji berbagai opsi agar biaya energi yang ditanggung industri tetap kompetitif tanpa mengganggu keberlanjutan pasokan energi nasional.

"Untuk harga HGBT itu memang sesuai dengan apa yang menjadi keputusan pemerintah. Sampai sekarang kita masih mencari jalan yang lebih efisien," ucapnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →