Targetkan 15 Juta Wisman Pemerintah Bidik Pasar ASEAN

Oleh : Ahmad Fadli | Minggu, 05 Februari 2017 - 19:53 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Bogor -Kementerian Pariwisata optimis bisa mendatangkan turis mancanegara diangka 15 juta tahun ini.  Berbagai strategi dilakukan, seperti membidik pasar ASEAN antara lain negara prioritas promosi pariwisata yakni Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand.

Adapun jumlah kunjungan wisman dari Singapura ditargetkan menjadi 2,275 juta, Malaysia 1,772 juta, Filipina 217.000, dan Thailand 135.000 pada tahun ini. Mengacu pada data Kemenpar, jumlah wisman dari Singapura menempati peringkat pertama tingkat kunjungan dari Asean yakni 1,3 juta, diikuti dengan Malaysia 1,1 juta, Filipina 137.180, dan Thailand 91.665 sepanjang Januari-November 2016.

“Target wisman 15 juta memang cukup tinggi karena rata-rata kunjungan wisman ke Indonesia tiap bulan hanya 1 juta sehingga total wisman mencapai 12 juta sepanjang tahun. Tapi bukan berarti, target kini mustahil,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana saat membuka Rapat Koordinasi Promosi Pariwisata di Asia Tenggara, di Bogor, Minggu (5/2).

Kendati demikian, kontribusi wisatawan dari pasar intraAsean terhadap total kunjungan wisman ke Indonesia masih belum meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.

Adapun, dari negara anggota Asean lainnya masih cenderung kecil dan bahkan tidak masuk dalam daftar 12 pasar terbesar wisman ke Indonesia. Filipina dan Thailand sehingga Kemenpar belum memasukkan wilayah-wilayah tersebut sebagai fokus promosi pariwisata.

“Pangsa pasar Vietnam, Kamboja, dan Myanmar memang masih kalah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tetapi, Vietnam ini patut diwaspadai karena potensinya cukup besar. Sayang belum ada penerbangan langsung dari Vietnam ke Indonesia,” tuturnya.

Dari sisi pemerintah daerah, dirinya juga mengharapkan sinergi dan kerja sama untuk mendorong penciptaan festival (event) pariwisata dan destinasi prioritas yang berkelanjutan.

 

Ahmad Fadli Lihat semua artikel →