INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Peran Human Resource (HR) di dunia kerja terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan kerap dipandang selesai setelah gaji dibayarkan setiap bulan, kini paradigma tersebut mulai bergeser.
Employee benefit tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga kesejahteraan, produktivitas, sekaligus loyalitas karyawan. Salah satu aspek yang semakin mendapat perhatian adalah financial wellness dan financial literacy karyawan.
Kondisi finansial yang tidak stabil dapat menjadi persoalan serius bagi dunia kerja. Ketika kebutuhan mendesak muncul sementara gaji atau tabungan belum mencukupi, karyawan bisa terdorong mencari solusi melalui pinjaman online (pinjol) maupun pinjaman informal.
Alih-alih menyelesaikan masalah, pilihan tersebut berpotensi menambah beban finansial. Pada akhirnya, persoalan keuangan karyawan juga dapat menjadi beban tersembunyi bagi perusahaan karena tekanan finansial berpotensi mengganggu konsentrasi dan produktivitas kerja.
Kredit Macet Pinjol Jadi Sinyal bagi Perusahaan
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026 menunjukkan tingkat kredit macet pinjaman online meningkat dari 2,77 persen menjadi 4,52 persen. Kelompok usia 19–34 tahun menyumbang hampir separuh dari total gagal bayar tersebut.
Kelompok usia tersebut banyak terdiri dari profesional muda dan keluarga muda yang berada dalam fase kehidupan dengan kebutuhan finansial cukup besar, mulai dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, hingga menjaga arus kas rumah tangga sampai waktu gajian berikutnya.
Fenomena tersebut tidak selalu berkaitan dengan persoalan kedisiplinan dalam mengelola keuangan.
Berdasarkan Laporan Kesejahteraan Finansial Karyawan Indonesia Mekari 2022, sebanyak 88,3 persen karyawan setidaknya pernah membutuhkan dana darurat dalam satu tahun. Dari jumlah tersebut, 92 persen dana darurat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan kebutuhan konsumtif.
Artinya, kebutuhan terhadap akses dana darurat merupakan persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian perusahaan.
CEO Mekari, Suwandi Soh, menyebut kondisi tersebut sebagai signal yang seharusnya ditangkap perusahaan sejak dini.
“Data ini adalah signal, bukan noise. Kenaikan kredit macet pinjol di kelompok usia produktif bukan anomali sesaat yang bisa diabaikan, melainkan signal yang jelas bahwa banyak pekerja Indonesia belum memiliki akses yang aman terhadap kebutuhan finansial mendesak,” ujar Suwandi.
Menurutnya, apabila persoalan tersebut dibiarkan, masalah finansial dapat berulang dan pada akhirnya memengaruhi produktivitas serta loyalitas karyawan.
Mekari Flex Tawarkan Akses Gaji Tanpa Bunga
Melihat kebutuhan tersebut, Mekari menghadirkan Mekari Flex, solusi employee benefits yang terintegrasi dengan ekosistem Mekari.
Salah satu fitur utamanya adalah Accessible Salary yang memungkinkan karyawan mengakses gaji yang telah menjadi hak mereka kapan pun dibutuhkan. Fitur ini tidak menggunakan bunga maupun proses pinjaman yang berbelit.
Karyawan hanya dikenakan biaya administrasi transaksi. Skema tersebut berbeda dengan pinjaman online yang dapat membebankan bunga sehingga sebagian dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting seperti listrik, air, pulsa, dan tagihan rumah tangga justru terserap untuk membayar biaya pinjaman.
Accessible Salary juga terhubung langsung dengan Mekari Talenta sebagai sistem payroll dan HRIS. Dengan integrasi tersebut, dana yang telah digunakan karyawan dapat otomatis diperhitungkan ketika proses payroll berlangsung.
Dengan demikian, perusahaan tidak perlu melakukan rekonsiliasi manual maupun proses reimbursement untuk menangani kebutuhan dana mendesak karyawan.
Selain Accessible Salary, Mekari Flex menyediakan flexible benefit, administrasi asuransi, hingga DPLK dalam satu dashboard. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengelola berbagai kebutuhan employee benefits dalam satu ekosistem.
Penerapan sistem digital tersebut juga diklaim memberikan dampak terhadap operasional perusahaan.
Salah satu perusahaan dengan sekitar 400 karyawan mengungkapkan bahwa penggunaan Earned Wage Access (EWA) membantu mengurangi risiko gangguan terhadap arus kas perusahaan yang sebelumnya dapat terjadi melalui sistem kasbon tradisional.
“Dengan fitur Earned Wage Access (EWA), risiko cash flow tersebut dapat diminimalisir sepenuhnya tanpa mengganggu likuiditas bisnis. Di sisi lain, karyawan mendapatkan akses dana darurat secara instan dan aman kapan saja. Ini solusi win-win,” ujar jajaran manajemen perusahaan yang membidangi people & culture tersebut.
Pengalaman serupa dirasakan HR Manager yang menggunakan Mekari Flex. Menurutnya, EWA membuat perusahaan tidak lagi harus menangani permintaan pinjaman langsung dari karyawan secara manual. Karyawan cukup menggunakan fitur Earned Wage Access, sementara dana yang dicairkan akan otomatis diperhitungkan saat proses payroll.
Sementara itu, Head of Business Mekari Flex, Stevens Jethefer, menyoroti tantangan lain yang dihadapi HR, yakni pengelolaan benefit yang masih dilakukan melalui berbagai vendor dan sistem terpisah.
Menurut Stevens, kondisi tersebut dapat membuat proses administrasi menjadi lebih kompleks dan sulit dipantau.
Melalui Mekari Flex, perusahaan dapat mengelola Accessible Salary, flexible benefits, asuransi, hingga DPLK dalam satu platform yang terhubung dengan Mekari Talenta.