INDUSTRY.co.id - Surabaya – Peran auditor internal di Indonesia dituntut terus berkembang seiring meningkatnya risiko bisnis, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta perubahan regulasi yang semakin cepat.
Auditor internal kini tidak cukup hanya memastikan kepatuhan organisasi terhadap aturan. Mereka dituntut mampu memberikan insight strategis sekaligus membangun kepercayaan bagi organisasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam IIA Indonesia National Conference 2026 yang digelar The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia di The Westin Surabaya.
Konferensi yang mengusung tema “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence” tersebut berlangsung selama dua hari dan diikuti lebih dari 600 pimpinan serta praktisi audit internal dari berbagai daerah di Indonesia.
Presiden IIA Indonesia, Angela Simatupang mengatakan, auditor internal memiliki tanggung jawab untuk membantu memastikan organisasi benar-benar dapat dipercaya, bukan sekadar memberikan kesimpulan bahwa kondisi organisasi berjalan baik.
“Internal Audit tidak menciptakan confidence dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tugas kita adalah membantu memastikan bahwa organisasi dan institusi kita memang layak untuk dipercaya,” ujar Angela.
Dalam konferensi tersebut, IIA Indonesia juga memaparkan hasil survei terkait penerapan Global Internal Audit Standards (GIAS).
Hasil survei menunjukkan kompetensi dalam pelaksanaan penugasan audit internal dinilai sudah cukup kuat. Namun, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, khususnya terkait metodologi audit dan tata kelola pengawasan kualitas.
Angela menyebut, baru 40 persen organisasi yang metodologi auditnya telah sepenuhnya disesuaikan dengan GIAS. Sementara itu, baru 49 persen dewan yang secara rutin melakukan peninjauan terhadap Quality Assurance and Improvement Program (QAIP).
“Survei menunjukkan bahwa kita sudah cukup kuat dalam menjalankan penugasan audit. Namun, baru 40 persen organisasi yang metodologi auditnya telah sepenuhnya disesuaikan dengan GIAS, dan baru 49 persen dewan yang secara rutin meninjau QAIP,” kata Angela.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan bersama terhadap metodologi, tata kelola, dan pengawasan kualitas audit internal di Indonesia.
Angela juga mendorong para auditor internal Indonesia untuk berani menggunakan standar internasional sebagai tolok ukur profesionalisme. Menurutnya, penerapan standar global penting agar auditor Indonesia mampu meningkatkan daya saing sekaligus berkontribusi lebih besar di tingkat internasional.
“Kalau kita ingin profesional Indonesia diakui mampu bersaing secara global, kita juga harus berani diukur dengan benchmark yang digunakan secara global,” ujarnya.
Ia menegaskan, kematangan profesi auditor internal tidak dapat hanya dilihat dari banyaknya standar yang dimiliki.
“Kematangan profesi tidak diukur dari banyaknya standar yang kita buat, tetapi dari kualitas dan konsistensi kita dalam menerapkannya,” lanjut Angela.
IIA Indonesia National Conference 2026 turut menghadirkan sejumlah pejabat dan tokoh penting, termasuk Menteri Keuangan, Menteri Koperasi, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wakil Gubernur Jawa Timur, serta jajaran direksi, komisaris, dan Chief Audit Executive (CAE) dari berbagai perusahaan, BUMN, dan instansi pemerintah.
Berbagai isu strategis dibahas dalam konferensi tersebut, mulai dari tata kelola perusahaan, internal audit, ESG, perkembangan teknologi dan AI, hingga kesiapan talenta auditor masa depan.
Perkembangan AI dinilai menjadi salah satu faktor yang akan mengubah cara auditor internal menjalankan pekerjaannya. Di tengah perubahan tersebut, auditor dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan analisis, pemahaman bisnis, serta keberanian memberikan rekomendasi strategis.
Dengan perubahan peran tersebut, auditor internal diharapkan mampu menjadi mitra strategis bagi manajemen dan dewan dalam menghadapi ketidakpastian bisnis.
Angela berharap peningkatan kualitas profesi audit internal dapat membuat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna atau pengikut praktik terbaik yang berkembang di dunia.
Ia mendorong auditor Indonesia untuk memiliki kapasitas yang mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan praktik audit internal secara global.
“Saya tidak ingin Indonesia hanya menjadi negara yang selalu belajar dari praktik terbaik dunia. Saya ingin Indonesia juga ikut membentuknya,” kata Angela.
Menurutnya, pengakuan dunia terhadap profesional Indonesia seharusnya bukan menjadi tujuan utama, melainkan konsekuensi dari kualitas dan konsistensi profesi.
"Bukan karena kita ingin dunia mengakui bahwa kita hebat, tetapi karena kualitas kita membuat dunia tidak punya pilihan selain mengakuinya," pungkas Angela.