AFTECH Dorong Kolaborasi Perbankan dan Fintech Lewat IDBS 2026

Oleh : Hariyanto | Selasa, 07 Juli 2026 - 18:14 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) kembali menggelar Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 sebagai forum strategis yang mempertemukan regulator, industri perbankan, fintech, pelaku sektor riil, akademisi, hingga mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem keuangan digital Indonesia yang semakin inklusif, resilien, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Mengusung tema "Beyond Banking: Redesigning Finance for Wellbeing and Growth in the Real Economy", IDBS 2026 tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga platform untuk menghasilkan agenda kolaborasi, rekomendasi kebijakan, serta kemitraan strategis yang dapat segera diimplementasikan guna mempercepat transformasi sektor jasa keuangan.

Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengatakan Indonesia saat ini memasuki era financial convergence, ketika perbankan, fintech, sistem pembayaran, dan aset keuangan digital semakin terintegrasi dalam satu ekosistem. Menurutnya, tren tersebut didorong oleh perkembangan universal banking, Open Finance, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), serta semakin pentingnya Digital Public Infrastructure (DPI) dan Digital Financial Infrastructure (DFI).

"Fintech kini bukan lagi alternatif bagi perbankan, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun sistem keuangan masa depan. IDBS 2026 menjadi momentum bagi AFTECH untuk menegaskan bahwa fintech siap naik kelas, memperkuat kolaborasi dengan perbankan dan regulator, serta memastikan inovasi keuangan digital memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan sektor riil," ujar Pandu.

Melalui penyelenggaraan IDBS 2026, AFTECH mendorong sejumlah agenda prioritas, mulai dari penguatan sinergi lintas pemangku kepentingan, pengembangan konsep financial wellbeing, percepatan implementasi universal banking dan Open Finance, penguatan DPI dan DFI, perluasan kolaborasi pembiayaan sektor riil dan UMKM, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan yang bersifat implementatif bagi regulator.

Ketua Dewan Pengawas AFTECH, Arsjad Rasjid, menegaskan fintech tetap menjadi penggerak inovasi yang melengkapi layanan perbankan melalui pemanfaatan teknologi, data, dan jangkauan ke segmen masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani.

"Dalam era universal banking dan beyond banking, fintech dan perbankan berperan sebagai mitra yang saling melengkapi. Melalui IDBS 2026, AFTECH ingin memastikan output forum ini mencerminkan kepentingan kolektif anggota sekaligus menjadi masukan konstruktif bagi regulator," ujar Arsjad.

Optimisme terhadap prospek industri juga tercermin dari temuan awal Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang diluncurkan dalam IDBS 2026. Survei terhadap 141 anggota AFTECH menunjukkan industri fintech Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang lebih matang. Sebanyak 43% responden telah membukukan laba, 84% telah mengadopsi AI, dan 86% menilai regulasi yang ada saat ini mendukung inovasi.

Sementara itu, Ketua Dewan Etik AFTECH, Harun Reksodiputro, menekankan bahwa integrasi fintech dan perbankan harus dibarengi dengan penguatan tata kelola industri, mulai dari manajemen risiko, keamanan siber, perlindungan konsumen, tata kelola data, hingga kesiapan menghadapi risiko baru yang muncul dari pemanfaatan AI.

"Tata kelola yang kuat bukanlah penghambat inovasi, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan industri yang berkelanjutan," kata Harun.

Sebagai tindak lanjut, AFTECH akan merangkum hasil diskusi dari empat pilar utama IDBS 2026, yakni Beyond Banking, Financial Wellbeing, Inclusive Growth, dan Digital Infrastructure, ke dalam policy brief, rekomendasi kebijakan, serta agenda koordinasi bersama regulator, industri perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan.

Menutup sambutannya, Pandu menegaskan bahwa masa depan sektor jasa keuangan Indonesia bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun sistem keuangan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Ukuran keberhasilan kita bukanlah siapa yang paling besar atau paling cepat, tetapi apakah sistem keuangan Indonesia benar-benar mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas sektor riil, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," pungkas Pandu.

IDBS 2026 dihadiri lebih dari 350 profesional senior yang berasal dari regulator, perbankan, fintech, penyedia teknologi, investor, akademisi, hingga pelaku sektor riil. Penyelenggaraan forum tersebut juga didukung oleh sejumlah mitra strategis ekosistem keuangan digital, di antaranya BNIdirect, Privy, Telkom Indonesia, Pluang, DANA, TikTok Shop by Tokopedia, Easycash, Yuanli Technology, Oz Forensics, Compass Plus Technologies, Finpoint, Oradian, Concentrix, ADVANCE.AI, Prudential, Hukumonline, AIForesee, InvestBanq, dan Samir.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →