Meneguk Energi Bumi dari Secangkir Canaya

Oleh : Candra Mata | Rabu, 01 Juli 2026 - 11:17 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di sebuah ruang kolaborasi energi bersih di Jakarta, secangkir kopi tidak lagi sekadar minuman. Ia menjadi perpanjangan dari sebuah sistem yang lebih dalam: uap bumi yang diubah menjadi nilai ekonomi, teknologi yang menyatu dengan desa, dan petani yang perlahan masuk ke dalam arsitektur transisi energi nasional.

Di ruang itu, kopi bernama Canaya diperkenalkan sebagai wajah baru dari inovasi panas bumi Indonesia. 

Produk binaan Koperasi Pemasaran Bersama Kanyaah Kamojang (KOPBASHKA) ini lahir dari kolaborasi bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk melalui program Geothermal Coffee Process (GCP), yang memanfaatkan panas bumi bukan hanya untuk listrik, tetapi juga untuk proses pengeringan kopi.

“Melalui inovasi seperti Geothermal Coffee Process, kami ingin menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik,” ujar Ahmad Yani, Direktur Utama PGE. “Tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.”

Pernyataan itu menjadi semacam jangkar dari sebuah narasi baru: energi tidak lagi berhenti di gardu pembangkit, tetapi bergerak hingga ke ladang kopi di kaki Kamojang.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menempatkan proyek ini sebagai bagian dari ekosistem transisi energi yang lebih inklusif. 

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menyebut ruang seperti RECHARGE – Green Brew Space sebagai “bukti bahwa sektor energi dapat berkontribusi langsung pada pemberdayaan masyarakat.”

Namun, perubahan paling nyata tidak terjadi di panggung, melainkan di ruang pengeringan kopi.

Melalui sistem heat exchanger, panas bumi dari fasilitas Kamojang dialirkan untuk menjaga suhu dan kelembapan pengeringan biji kopi secara konstan. 

Proses yang biasanya memakan waktu 30–40 hari kini dipangkas menjadi hanya 3–10 hari.

“Dengan suhu dan kelembapan yang terjaga 24 jam, kualitas biji kopi lebih bersih, seragam, dan minim cacat rasa,” ujar Novi Purwono, General Manager PGE Area Kamojang. “Cita rasa manis buah dan keasaman khas Arabika Kamojang tetap terjaga.”

Di tingkat petani, dampaknya tidak berhenti pada teknologi. 

Lebih dari 300 petani kini terlibat dalam rantai produksi Canaya, dengan harga beli ceri kopi meningkat menjadi Rp17.000–Rp18.000 per kilogram. Sebuah kenaikan kecil di atas kertas, namun signifikan dalam struktur ekonomi desa.

“Ini bukan hanya soal kopi, tapi soal posisi tawar,” begitu salah satu penggerak koperasi menggambarkan perubahan yang terjadi di lapangan.

Kini, kopi Canaya tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga telah menembus ekspor ke Jerman dan Jepang. 

Sebuah perjalanan yang dimulai dari uap bumi, melewati sistem pipa energi, lalu berakhir di cangkir-cangkir yang disajikan di ruang-ruang modern Jakarta dan meja konsumsi global.

Dalam lanskap yang lebih luas, proyek ini juga menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi, mengurangi ketergantungan pada pengering berbahan bakar fosil. 

Pada saat yang sama, inovasi ini mengantarkan PGE Area Kamojang meraih penghargaan ASEAN Renewable Energy Project Awards 2024.

Di balik semua itu, Canaya berdiri sebagai simbol kecil dari transformasi besar: bahwa energi bersih tidak hanya soal megawatt, tetapi juga soal kehidupan yang ikut menghangat di sekitarnya.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →