Menperin Agus Gumiwang Buka Jalan Produk IKM Pangan Lokal Tembus Industri Besar

Oleh : Ridwan | Rabu, 17 Juni 2026 - 16:30 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.idJakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri pangan nasional melalui program Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition. Program ini menjadi langkah strategis untuk membantu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) pangan mengembangkan produk antara berbasis sumber daya lokal agar mampu masuk ke rantai pasok industri yang lebih luas.

Langkah tersebut dinilai penting karena industri pangan masih menjadi salah satu sektor manufaktur andalan Indonesia. Selain menopang pertumbuhan ekonomi nasional, sektor ini juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan olahan dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan industri pangan harus dilakukan dari hulu hingga hilir, termasuk mendorong pengembangan produk antara yang menjadi fondasi rantai pasok nasional.

"Penguatan industri pangan nasional perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal, pengembangan produk antara, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas," kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6).

Agus juga mengapresiasi penyelenggaraan IFI 2026 yang dinilai dapat menjadi wadah bagi pelaku IKM untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

"Kami akan terus memperkuat kemampuan IKM pangan untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah, berstandar, dan mampu menjawab kebutuhan industri maupun pasar," ujarnya.

Program IFI 2026 resmi dimulai melalui kegiatan kickoff secara daring yang diikuti pelaku IKM pangan dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut turut melibatkan perwakilan kementerian dan lembaga, dinas perindustrian daerah, asosiasi industri makanan dan minuman, perguruan tinggi, hingga alumni IFI.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan, industri makanan dan minuman menjadi kontributor terbesar sektor manufaktur dengan porsi 36,6 persen pada triwulan I-2026. Selain itu, sektor ini juga mencatat nilai ekspor mencapai USD 3,16 miliar pada Maret 2026.

Reni menyebut jumlah IKM di Indonesia saat ini mencapai 99,7 persen dari total unit usaha industri nasional, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 65 persen.

"IKM pangan menjadi yang terbesar dengan jumlah sekitar 2,07 juta unit usaha atau setara 46,63 persen dari total IKM nasional," katanya.

Meski memiliki jumlah besar, pelaku IKM pangan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, legalitas usaha, inovasi produk, hingga pasokan bahan baku yang fluktuatif.

Menurut Reni, pengembangan produk antara (intermediate product) menjadi salah satu solusi penting. Ada empat alasan utama mengapa produk antara perlu diperkuat, yakni meningkatkan nilai tambah, memperpanjang masa simpan bahan pangan, memperluas akses pasar business to business (B2B), serta menjadi dasar pengembangan produk hilir bernilai ekonomi tinggi.

Di sisi lain, Kemenperin bersama Badan Pangan Nasional saat ini juga tengah menyiapkan berbagai insentif bagi pengembangan pangan berbasis sumber daya lokal. Dukungan yang disiapkan meliputi akses pembiayaan, subsidi teknologi, percepatan sertifikasi, fasilitasi pasar B2B, hingga standardisasi produk.

Direktur Industri Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin Afrizal Haris mengatakan, IFI telah berjalan sejak 2020 dan diikuti lebih dari 2.000 IKM pangan di seluruh Indonesia.

"Tahun 2026 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya IFI secara khusus difokuskan pada pengembangan produk antara sebagai bagian dari upaya transformasi IKM pangan agar mampu masuk ke dalam rantai pasok industri yang lebih luas," kata Afrizal.

Peserta yang lolos nantinya akan menjalani program Food Camp dan Food Business Scale-Up yang mencakup pendampingan strategi bisnis, manajemen risiko, skema co-manufacturing, hingga pelatihan keamanan pangan.

Melalui program ini, Kemenperin berharap lahir lebih banyak IKM pangan yang adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di pasar nasional hingga global.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →