Laba Tumbuh, Core Melemah: Menelisik Kualitas Earnings DEWA
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di kuartal pembuka 2026, Darma Henwa ($DEWA) membuka tahun dengan catatan laba bersih Rp93 miliar—melonjak 35% secara tahunan. Angka ini memang selaras dengan ekspektasi pasar, meski baru merepresentasikan sekitar 12% dari proyeksi konsensus setahun penuh. Sebuah awal yang solid, namun belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang diyakini akan terakselerasi di paruh berikutnya.
Optimisme tersebut bertumpu pada momentum yang mulai terbentuk sejak April 2026, ketika perseroan mengambil alih secara penuh pengerjaan proyek Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal. Di luar itu, peluang ekspansi kontrak dari klien non-Bumi Resources turut membuka ruang pertumbuhan tambahan.
Namun, membaca performa kuartal ini tidak bisa dilakukan secara lurus jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Ada distorsi dari pendapatan non-recurring akibat konsolidasi PT Gayo Mineral Resources pada 4Q25, yang membuat basis pembanding menjadi kurang seimbang.
Jika fokus diarahkan pada profit inti, cerita yang muncul justru lebih bernuansa. Core profit turun ke Rp125 miliar—terkoreksi 24% secara kuartalan dan relatif stagnan secara tahunan. Penurunan ini berakar dari beberapa faktor: pendapatan melemah 11% QoQ seiring turunnya rate pengerjaan di tengah volume material yang cenderung datar akibat curah hujan tinggi. Hilangnya kontribusi kontrak pihak ketiga yang sebelumnya menyumbang Rp83 miliar juga memperdalam tekanan.
Di sisi biaya, opex melonjak 40% QoQ, terutama dari pos “Others” yang tidak dijelaskan secara rinci oleh manajemen—menyisakan tanda tanya tersendiri. Sementara itu, margin kotor hanya menguat tipis, tertahan oleh komposisi pengerjaan in-house yang stagnan di 74%, sehingga penurunan beban subkontraktor terbatas.
Laba bersih kuartalan juga tertekan oleh beban pajak Rp24 miliar, berbanding terbalik dengan manfaat pajak besar di kuartal sebelumnya. Meski begitu, dalam perspektif tahunan, performa tetap terlihat kokoh. Normalisasi effective tax rate ke 21% menjadi penopang utama pertumbuhan laba, sementara stabilnya core profit didukung oleh ekspansi margin kotor dari efisiensi beban subkontraktor, yang berhasil menyeimbangkan tekanan dari pendapatan yang sedikit menurun dan kenaikan beban keuangan.