Jababeka Digital Park Cikarang: Membangun Ekosistem Masa Depan RI di Era Digital dan AI
INDUSTRY.co.id - Jakarta — Transformasi menuju ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI) kian tak terelakkan. Namun di tengah arus global tersebut, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: menjadi sekadar pasar atau naik kelas sebagai pemain utama.
CEO & Founder PT. Jababeka, Tbk , S.D. Darmono menilai jawaban atas tantangan ini tidak cukup bertumpu pada regulasi atau insentif semata.
“Di tengah percepatan transformasi global menuju ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI), Indonesia menghadapi satu pertanyaan mendasar: apakah kita hanya akan menjadi pasar, atau pemain utama?” ujar Darmono.
Ia menegaskan, yang dibutuhkan adalah kehadiran ekosistem nyata yang mampu mempertemukan industri, talenta, teknologi, dan modal dalam satu ruang kolaboratif.
Konsep tersebut diwujudkan melalui pengembangan Jababeka Digital Park Cikarang. Kawasan ini menjadi langkah evolusi Jababeka yang selama lebih dari tiga dekade dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 2.000 perusahaan dari lebih dari 30 negara serta rantai pasok global yang telah mapan.
Menurut Darmono, keunggulan historis tersebut kini perlu ditransformasikan menjadi ekosistem berbasis inovasi. “Jababeka Digital Park bukan sekadar kawasan baru, tetapi evolusi dari industrial estate menjadi innovation-driven ecosystem,” katanya.
Pengembangan Digital Park ditopang oleh sejumlah pilar utama. Dari sisi infrastruktur, kawasan ini dirancang memiliki fondasi digital kelas dunia, mulai dari data center, ekosistem cloud, hingga kapabilitas komputasi AI seperti GPU cluster dan edge computing. Infrastruktur tersebut diharapkan mendorong Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga produsen dan pengelola data bernilai tinggi.
Di sisi lain, integrasi industri menjadi keunggulan utama. Kedekatan dengan basis manufaktur memungkinkan penerapan AI, Internet of Things (IoT), serta analitik data secara langsung dalam proses produksi. Transformasi ini diarahkan untuk mempercepat adopsi Industry 4.0, di mana pabrik tidak lagi sekadar tempat produksi, melainkan pusat inovasi.
Penguatan talenta juga menjadi fokus penting melalui peran President University sebagai penggerak utama pengembangan sumber daya manusia. Model yang diusung menggabungkan proses belajar, magang, dan bekerja dalam satu ekosistem, guna menciptakan pipeline talenta yang siap masuk ke sektor AI dan ekonomi digital.
Selain itu, kawasan ini juga diposisikan sebagai pusat inovasi dengan kehadiran inkubator startup, pusat riset dan pengembangan (R&D) perusahaan global, serta kolaborasi dengan modal ventura. Skema ini diharapkan menciptakan siklus inovasi berkelanjutan, dari pengembangan ide hingga ekspansi bisnis berbasis teknologi.
Berbeda dengan banyak proyek serupa di negara lain yang dibangun dari nol, Jababeka Digital Park bertumpu pada fondasi yang telah terbentuk. Kawasan ini telah memiliki basis industri, populasi kota mandiri, infrastruktur logistik seperti dry port, hingga fasilitas hunian dan gaya hidup yang mendukung konsep live-work-play.
Secara strategis, Darmono menilai pengembangan kawasan ini menjawab tiga kebutuhan nasional sekaligus, yakni kedaulatan digital, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta peningkatan daya saing regional.
“Artinya, ini bukan proyek spekulatif, tetapi akselerasi dari ekosistem yang sudah hidup,” ujarnya.
Lebih jauh, ambisi Jababeka tidak berhenti pada pengembangan kawasan industri modern. Darmono menyebut Digital Park sebagai platform nasional untuk mendorong ekonomi digital Indonesia agar mampu bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand dalam menarik investasi teknologi.
“Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Negara yang berhasil bukan yang paling besar, tetapi yang paling cepat membangun ekosistem,” kata dia.
Dengan kombinasi integrasi industri, penguatan talenta, infrastruktur digital, serta kolaborasi global, Jababeka Digital Park dinilai memiliki peluang untuk berkembang menjadi “Silicon Valley”-nya Indonesia. Jika terealisasi konsisten, kawasan Cikarang berpotensi bertransformasi dari sekadar kota industri menjadi pusat pertumbuhan ekonomi digital nasional.