Petani Melon Tuban Bongkar Cara Hitung Untung Rugi di Greenhouse, Ini Rahasia Low Cost Smart Farming Kementan

Oleh : Ridwan | Jumat, 06 Februari 2026 - 14:30 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Malang – Puluhan petani melon asal Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban mulai “melek hitung-hitungan” bisnis pertanian. Sebanyak 40 petani melon, perangkat desa, dan penyuluh pertanian mengikuti pembelajaran analisis usahatani melon berbasis low cost smart farming di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang, Rabu (4/2).

Kegiatan yang difasilitasi Kementerian Pertanian (Kementan) ini bertujuan membekali petani agar tidak hanya piawai dalam budidaya, tetapi juga mampu menghitung modal, biaya operasional, keuntungan, hingga kelayakan usaha secara detail. Analisis usahatani dinilai krusial untuk meminimalkan risiko akibat fluktuasi harga input dan hasil panen.

BBPP Ketindan sendiri memiliki fasilitas smart farming, mulai dari greenhouse berteknologi tinggi hingga greenhouse low cost, yang bisa dijadikan percontohan bagi petani sebelum mengembangkan usaha secara mandiri.

Kepala Desa Klotok, Suhartoyo, menyebut wilayahnya memiliki potensi besar di sektor hortikultura, khususnya melon. Saat ini terdapat sekitar 250 hektare lahan melon, dan pada 2026 Desa Klotok direncanakan menjadi tuan rumah Pestani bekerja sama dengan Petrokimia Gresik.

“Kami ingin belajar lebih dalam tentang usahatani melon di greenhouse, terutama yang biayanya terjangkau bagi petani,” ujarnya.

Di sesi diskusi, Suwanto, salah satu petani melon, mengaku selama ini menjalankan usaha hanya bermodalkan pengalaman. “Saya belum pernah mencatat usahatani secara tertulis. Fokusnya hanya tanam dan jual, tanpa tahu pasti untung ruginya,” ungkapnya.

Petani lain, Ridwan, menambahkan bahwa harga jual menjadi faktor utama penentu keuntungan. “Kalau harga tinggi, untung besar. Kalau turun, ya keuntungannya ikut menipis,” katanya.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi pertanian modern melalui teknologi mampu menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi, dan mendongkrak produktivitas.

“Penggunaan teknologi membuat anggaran lebih efektif. Tenaga manusia bisa dialihkan ke kegiatan produktif dan hasil panen meningkat,” kata Mentan.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya adopsi smart farming agar petani mampu mengoptimalkan hasil, mengurangi kerugian akibat cuaca, serta memanfaatkan sumber daya alam secara efisien.

“Sudah saatnya petani Indonesia maju melalui teknologi pertanian yang mempermudah kegiatan usahatani,” tegasnya.

Widyaiswara sosial ekonomi pertanian BBPP Ketindan, Nining Hariyani, menjelaskan bahwa konsep low cost smart farming memungkinkan petani mengadopsi teknologi modern tanpa harus terbebani biaya tinggi.

“Ini bisa meningkatkan efisiensi, pendapatan, dan berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, widyaiswara budidaya pertanian Nunung Nurhadi mengingatkan pentingnya sterilisasi greenhouse, peralatan, dan SDM untuk mencegah serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

“Penyemaian benih adalah titik awal yang sangat menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman ke depan,” pungkasnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →