Juni 2017, Ekspor Kalbar Turun 15,58 Persen

Oleh : Ridwan | Kamis, 03 Agustus 2017 - 03:00 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Pontianak, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) melalui berita Resmi Statistik merilis nilai ekspor Kalbar Juni 2017 turun 15,58 persen dibanding Mei 2017 dari 51,20 juta dolar AS menjadi 43,22 juta dolar.

Kepala BPS Kalbar, Pitono mengatakan produksi karet, barang dari karet dan plastik mengalami pertumbuhan permintaan pada tahun ini sebesar 4,14 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Tiga komoditi unggulan ekspor Kalbar Juni 2017 yaitu bahan kimia anorganik (HS28) menyumbang 53,68 persen,kayu barang dari kayu (HS44) menyumbang 13,18 persen dan karet dan barang dari karet (HS40) menyumbang 12,23 persen. Adapun tujuan ekspor Kalbar Juni 2017 masih didominasi negara Asia yaitu dengan kontribusi 92,50 sedangkan kontribusi nilai ekspor ke negara tujuan utama lainnya Argentina dan Amerika Serikat 4,69 sampai 2,61 ke negara tujuan lainnya," ungkap Pitono melalui keterangan resminya di Pontianak, Kalimantan Barat (2/8/2017).

Ia menambahkan, setelah tiga golongan barang yang menyumbang nilai ekspor terbesar di Kalbar, ada 3 komoditi-komoditi unggulan yaitu lemak dan minyak hewan HS15 bijih kerak dan Abu logam HS26 dan buah-buahan HS08. Ada 10 golongan HS 2 dijit yang memberikan kontribusi sebesar 99.04 persen terhadap nilai ekspor Kalbar.

"10 barang tersebut bahan kimia anorganik (HS28), kayu barang dari kayu (HS44), karet dan barang dari karet (HS40), lemak dan minyak hewani nabati (HS15), bijih kerak dan abu logam (HS26), buah-buahan (HS08), ampas sisa industri makanan (HS23), tembakau (HS24), ikan dan udang (HS03), biji-bijian berminyak (HS12)," tambahnya.

Data yang ada juga menunjukkan kenaikan dari kuartal II-2017 dari industri yang sama sebesar 0,32 persen sementara pada kuartal sebelumnya sebesar 0,08 persen. "Kenaikan dari hasil alam juga berasal dari komoditas kayu dan barang-barang dari kayu (tidak termasuk furnitur) dan barang-barang anyaman sebesar 0,21 persen. Pada kuartal sebelumnya sebesar 0,12 persen," kata Pitono.

Sementara, untuk sektor berikutnya adalah industri makanan yang turun sebesar 0,52 persen pada kuartal II-2017 yang berkontribusi terhadap penurunan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Kalbar.
Pitono mengatakan produksi Industri Manufaktur Besar (IBS) kalbar pada kuartal II/2017 turun sebesar 0,36 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kendati demikian secara year on year (y-o-y) dibandingkan kuartal yang sama pada 2016, pertumbuhan produksi IBS kuartal sekarang meningkat 0,63 persen.

Menurut Pitono, penopang industri dari Kalbar berasal dari industri manufaktur mikro dan kecil yang pada kuartal II-2017 ini turun 0,45 perseb dan y-o-y turun 0,19 persen.

Ia menyebutkan ada 15 industri IMK Kalbar, terdiri dari industri makanan, minuman, tekstil, industri pakaian jadi, industri kayu dan barang anyaman dari bambu serta rotan, industri kertas dan barang dari kertas, industri percetakan dan reproduksi media rekaman.

Selanjutnya, industri bahan kimia, industri farmasi, produk kimia dan obat tradisional, industri karet, industri barang galian bukan logam, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya, industri alat angkutan, industri furniture dan industri pengolahan lainnya.

 

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →