INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pasar ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi mencapai US$ 83 miliar pada tahun 2025. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, saat ini Indonesia sudah menguasai 41,9 persen transaksi ekonomi digital di Asia Tenggara. Tahun lalu, ekonomi digital Indonesia sudah menyentuh US$ 44 miliar atau setara Rp660 triliun (kurs Rp14.340 per dolar). Seiring booming transaksi digital, kejahatan transaksi juga semakin meningkat.
Temuan terbaru Vesta, platform yang menjamin keamanan transaksi jual-beli online dan solusi anti-fraud menunjukkan, pengguna e-commerce Indonesia merupakan target utama penipuan. Temuan Vesta, hampir tiga dari lima atau setara 57% pengguna transaksi belanja online di Indonesia berbagi akun ritel dengan keluarga atau teman. Hal inilah yang membuat akun pengguna lebih rentan terhadap berbagai skema kejahatan populer seperti pengambilalihan akun, pencurian identitas, dan penyusupan akun.
Khusus untuk transaksi e-commerce, Vesta mencatat bahwa jenis penipuan yang paling sering terjadi adalah pencurian identitas, phishing, penipuan identitas pedagang, transfer antar bank di negara berbeda, penipuan transfer biaya (penipu menjanjikan produk bernilai tinggi dengan imbalan uang muka rendah), dan pagejacking (menyalin konten situs web secara ilegal). Solusi keamanan terbaru merujuk pada otentikasi multi-faktor (MFA) sebagai cara untuk meningkatkan keamanan.
“Namun secara paradoks, Vesta menemukan bahwa pembeli online mengidentifikasi MFA sebagai masalah utama yang memengaruhi 33% pembeli online mengalami masalah pembayaran sehingga mayoritas pembeli online tidak kembali bertransaksi di e-commrece. Perlu banyak edukasi dan inovasi sehingga bisa mencegah penipuan dan tetap memberikan pengalaman menyenangkan untuk pelanggan,” ujar Shabab Muhaddes, Vesta General Manager in the Asia Pacific.
Temuan Vesta sama seperti hasil riset DBS Insight Asia yang melaporkan pada tahun 2020 tingkat penipuan e-commerce di Indonesia mencapai 44,1%. Maraknya kejahatan transaksi e-commerce menjadi peluang bagi pertumbuhan bisnis Vesta di Indonesia. Contoh, pada Agustus tahun ini, Vesta menjadi mitra solusi keamanan transaksi di e-commerce Bukalapak. Fokus layanan Vesta di Bukalapak yakni memberantas penipuan e-commerce dan memaksimalkan persetujuan transaksi kartu kredit, sehingga memberikan pengalaman bertransaksi yang mudah dan menyenangkan bagi pengguna.
Seiring pertumbuhan ekonomi digital, bisnis Vesta telah mencapai penetrasi dua digit dari total pasar e-commerce Indonesia. Perusahaan ini menyatakan, keunggulan sistem anti-fraud Vesta yakni mengadopsi machine learning yang mampu menunjukkan potensi penipuan secara real-time. “Notifikasi instan terkait ancaman penipuan ini memungkinkan pedagang e-commerce untuk langsung memutuskan apakah akan menerima atau menolak transaksi,” jelas Shabab.
Sekadar informasi, kemampuan machine learning berdasarkan data transaksional global yang telah dikumpulkan selama 25 tahun sehingga mampu mengidentifikasi secara akurat segala bentuk penipuan digital. Di tahun depan, Vesta berencana untuk memperkenalkan produk dan layanan baru di pasar Indonesia untuk memenuhi berbagai metode transaksi yang semakin berkembang. Vesta membidik sejumlah kerja sama strategis dengan banyak perusahaan e-commerce Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar di masa mendatang.