INDUSTRY.co.id - Berita bohong atau dikenal dengan hoaks saat ini merajalela di dunia digital. Informasi bohong dengan mudahnya dipercaya oleh masyarakat.
Dicky Renaldi dari Kreator Nongkrong by Siberkreasi menjelaskan, masyarakat mudah menyebarkan hoax karena bangga menjadi orang yang pertama kali menyebarkan informasi baru.
Dengan alasan ini, banyak yang tidak memperhatikan isi berita tersebut apakah sesuai dengan fakta atau tidak. Kemudian, senang berbagi tetapi malas untuk membaca. Sebagian lagi tidak tahu bahwa berita yang mereka sebarkan adalah hoax.
“Hoax dapat menimbulkan kecemasan dan memicu kepanikan publik jika terus dibiarkan,” ujar Dicky dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, melalui siaran pers yang diterima industry.co.id.
Hal ini mengakibatkan pikiran masyarakat menjadi imajiner dan membayangkan suatu keadaan secara berlebihan. Penyebaran informasi palsu dapat membentuk mental masyarakat ke arah pemahaman hoaks.
Untuk melawannya, hal yang bisa kita lakukan ialah teliti saat menerima informasi atau berita. Bacalah judul dan isi secara keseluruhan. Apabila ragu, kita bisa memeriksanya melalui situs turnbackhoaks.id atau cekfakta.com. Sebagai masyarakat yang berperan aktif di berbagai platform digital, kita harus mampu menangkal sesuatu-sesuatu yang bersifat hoaks pada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, kita bisa membatasi dan mencegah meluasnya penyebaran hoaks.
“Yang terakhir itu stop atau hentikan. Selalu pastikan informasi yang kamu dapatkan itu mengandung validitas dan sesuai fakta,” jelasnya.
Contoh kasus yang terjadi ialah dieditnya berita dari situs Republika.co.id yang berjudul “Nelayan Natuna Dibayangi Kapal China hingga Nelayan Vietnam” diubah menjadi “Nelayan Natuna Dibayangi Kapal Kuwait hingga Nelayan Yaman” oleh oknum. Manipulasi berita ini memiliki tujuan tertentu.
Ketika kita merasa ragu dan curiga terhadap suatu informasi, kita bisa stop penyebarannya di diri sendiri. Bagaimanapun kita harus menyaring sebelum menyebarkannya.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 - untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (2/12/2021) juga menghadirkan pembicara, Ginna Desiana (Creator Game Board Dolanan Yuk.id), Tetty Kadi (DPR RI 2009-2014), Ria Ariyanie (Praktisi Humas & Komunikasi), dan Clarissa Darwin (Key Opinion Leader).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.