INDUSTRY.co.id - Jakarta - Bank Indonesia mewaspadai potensi meningkatnya inflasi sepanjang Juni 2017 karena tingginya konsumsi masyarakat saat bulan puasa dan Lebaran, serta masih ada pengaruh dari penyesuaian tarif listrik pelanggan 900 VA.

"Masih ada dampak (kenaikan) listrik 900 VA sampai Juni 2017, ada konsumsi saat lebaran, dan juga ada pembayaran masuk uang sekolah," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat (2/6/2017)

Kenaikan konsumsi masyarakat, kata Agus, disebabkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap bahan makanan dan juga permintaan jasa transportasi untuk mudik seperti lazimnya perayaan Idulfitri di setiap tahun.

Khusus untuk bahan makanan, Agus memberikan perhatian tinggi. Pasalnya, pada bulan Mei 2017, inflasi dari kelompok tarif barang bergejolak (volatile food), utamanya pangan, tercatat sebesar 0,91 persen. Padahal, sejak Februari hingga April 2017, indeks harga konsumen "volatile food" selalu tercatat deflasi.

Inflasi "volatile foof" pada bulan Mei 2017 juga lebih tinggi daripada inflasi harga yang diatur oleh Pemerintah (administered prices) dan inflasi inti yang masing-masing tercatat sebesar 0,69 persen dan 0,16 persen.

"Kami harapkan ke depan lebih terjaga. Prediksi kami inflasi keseluruhan pada bulan Mei 2017 itu 0,37 persen tetapi sampai 0,39 persen," ujarnya.

Oleh karena itu, Agus mengatakan bahwa BI dan pemerintah pusat serta pemerintah daerah akan melakukan rapat koordinasi untuk mengantisipasi kenaikan inflasi. Rapat koordinasi itu diselenggarakan pada tanggal 12 Juni 2017.

Bank Sentral menargetkan untuk menjangkar inflasi tahun ini di antara 3 dan 5 persen. Hingga Mei 2017, inflasi tahun ke tahun berada di 4,33 persen (year on year/yoy), setelah inflasi bulanan, Mei 2017, sebesar 0,39 persen (mtm).(Ant)