Laporan SUSREG WWF: Bank Sentral dan Otoritas Perbankan Jadi Kunci Dalam Mobilisasi Sistem Keuangan untuk Hadapi Risiko Iklim dan Alam

Oleh : Hariyanto | Sabtu, 30 Oktober 2021 - 10:27 WIB

Ilustrasi Bank (Kompas.com)
Ilustrasi Bank (Kompas.com)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menyusul diluncurkannya publikasi kerangka kerja SUSREG dan tracking tool secara daring pada April 2021 lalu, World Wide Fund for Nature (WWF) meluncurkan Laporan Tahunan SUSREG yang pertama pada 28 Oktober 2021.

Laporan ini mengangkat berbagai temuan terkait upaya dan perkembangan yang telah dilakukan oleh bank sentral dan otoritas perbankan dalam mengintegrasikan aspek-aspek terkait lingkungan dan sosial sesuai mandat dan ranah kegiatannya.

Analisis tersebut mencakup 38 negara di Amerika, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia-Pasifik, termasuk mayoritas anggota dan pengamat Basel Committee on Banking Supervision. Secara keseluruhan, ke-38 negara tersebut telah berkontribusi lebih dari 90% PDB global, 80% dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK), dan 11 di antaranya termasuk dalam 17 negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar.

Merujuk pada hasil analisis, bank sentral dan otoritas perbankan telah mengembangkan strateginya untuk mengambil langkah nyata dalam memitigasi risiko-risiko terkait iklim, namun tidak demikian terhadap risiko terkait lingkungan dan sosial yang belum banyak dipertimbangkan.

“Perkembangan yang telah dicapai para bank sentral dan otoritas perbankan cukup menjanjikan. Kita harus meningkatkan upaya tersebut agar dapat mengatasi berbagai tantangan lingkungan dansosial, terutama apabila kita ingin memenuhi komitmen berdasarkan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ungkap Margaret Kuhlow, Finance Practice Leader WWF yang dikutip INDUSTRY.co.id, Sabtu (30/10/2021).

“Degradasi lingkungan memiliki ancaman yang sama besarnya dengan perubahan iklim, dan keduanya saling berkaitan. Oleh karenanya, kita tidak bisa menyelesaikan persoalan iklim tanpa mengatasi permasalahan degradasi lingkungan.” imbuhnya.

Saat ini, berbagai ekspektasi dari bank sentral dan otoritas perbankan terkait integrasi risiko iklim, lingkungan, dan sosial secara global semakin terbangun. Dari keseluruhan negara yang telah dianalisis, 35% di antaranya memandatkan perbankan untuk mengembangkan dan/atau memperkuat praktik manajemen risiko terkait iklim, lingkungan, dan/atau sosial mereka.

Sebagai contoh, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ ECB) dan Otoritas Keuangan Singapura (Monetary Authority of Singapore/ MAS) mengeluarkan pedoman baru terkait manajemen risiko iklim dan lingkungan; Bank Sentral Brazil (Banco Central do Brasil) memperkuat aturan manajemen risiko mereka sehingga mencakup seluruh spektrum risiko lingkungan dan sosial.

Di samping itu, semakin banyak riset dilakukan untuk memahami dan mengukur paparan perbankan terhadap berbagai macam risiko terkait perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, serta pengembangan taksonomi untuk menentukan praktik-praktik yang masuk ke dalam kategori ‘berkelanjutan’.

Namun demikian, ditemukan bahwa belum banyak otoritas perbankan yang membuat aturan khusus ataupun menggunakan perangkat pengawasan untuk memastikan kepatuhan terhadap berbagai aturan yang telah dibuat maupun ekspektasi para regulator guna menjaga sistem keuangan terhadap risiko-risiko iklim dan lingkungan secara luas.

“Perkembangan awal kebijakan keuangan berkelanjutan di Indonesia menunjukkan kemajuan yang positif, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengesahkan POJK 51 sebagai kerangka integrasi pertimbangan lingkungan dan sosial, serta kini tengah mengembangkan taksonomi hijau. Hal ini merupakan langkah lanjutan yang baik. Diharapkan pengembangan taksonomi ini dilakukan secara berbasis ilmiah guna efektif dalam membangun ekonomi rendah karbon yang tangguh.” pungkas Rizkiasari Yudawinata, Sustainable Finance Program Lead, WWF-Indonesia.

“Berdasarkan analisis Sustainable Banking Assessment (SUSBA) WWF di tahun 2020, terlihat kemajuan yang lebih pesat pada perkembangan integrasi lingkungan, sosial dan tata kelola (LST) dari perbankan nasional setelah regulasi efektif berlaku. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pemenuhan indikator integrasi LST sebanyak 30% dibandingkan tahun sebelumnya,” tambahnya.

Dari sisi bank sentral, pertimbangan terhadap aspek lingkungan dan sosial belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan-kebijakan utama, seperti pembelian aset, kerangka penjaminan, maupun program pelunasan pembiayaan/ pembiayaan kembali. Sejauh ini, baru 22% bank sentral yang telah memiliki beberapa kebijakan tersebut, dan belum ada yang memenuhi indikator SUSREG secara keseluruhan.

Walaupun sudah terlihat adanya perkembangan pada cadangan devisa dan manajemen portofolio secara keseluruhan, pemanfaatan perangkat-perangkat kebijakan tersebut akan memastikan bahwa bank sentral dapat mengendalikan risiko lingkungan dan sosial, sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan.

OJK dan Bank Indonesia (BI) merekognisi bahwa perubahan iklim merupakan risiko yang signifikan terhadap stabilitas keuangan dan kedua institusi dimaksud telah bergabung pada platform NGFS (Network for Greening the Financial System) yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan di dalam mengelola risiko iklim dan lingkungan yang lebih luas.

“Bank Indonesia tengah menjajaki riset terkait risiko transisi dari perubahan iklim. Ini merupakan langkah penting untuk menguatkan strategi penanganan risiko iklim. Harapannya, hal ini dapat diikuti juga dengan kajian terkait risiko fisik (physical risk), serta memasukkan unsur peluang selain risiko, dan secara bertahap memasukkan aspek lingkungan yang lebih luas,” jelas Rizkiasari.

Beberapa inisiatif yang mendukung terciptanya efektivitas perbankan berkelanjutan di Indonesia juga ditemukan, antara lain insentif OJK berupa peningkatan kapasitas untuk perbankan terkait keuangan berkelanjutan, serta insentif Bank Indonesia yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 21/13/PBI/2019 yang mencakup Loan to Value dan Financing to Value bagi properti berwawasan lingkungan serta kemudahan uang muka bagi kendaraan bermotor berwawasan lingkungan.

WWF berharap bank sentral dan otoritas keuangan, sebagai penentu kebijakan keuangan, dapat mengambil langkah kepemimpinan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial.

Hal tersebut akan membangun kepercayaan diri pemerintah dalam menentukan arah yang lebih ambisius, serta mengirimkan sinyal yang tepat kepada lembaga jasa keuangan atas proyeksi perubahan aturan dan pengawasan yang akan datang.

Di tengah periode yang penuh tantangan ini, intervensi yang ambisius serta koordinasi di tingkat nasional dan internasional menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi tantangan global secara kolektif.

WWF akan memperbarui hasil analisis secara daring di laman SUSREG Tracker dua kali dalam setahun, dan merilis laporan tahunan terkait perkembangan regulasi dan kegiatan terkini, menampilkan praktik-praktik positif yang telah diterapkan, termasuk ruang untuk perbaikan yang dibutuhkan.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Direktur (Presdir) JNE, Mohamad Feriadi saat menerima plakat Ramadhan Bahagia oleh Bendahara Jurnalis Filantropi Indonesia (Jufi) Ahmad Zuhdi

Jumat, 01 Juli 2022 - 22:54 WIB

Kunci Sukses PT JNE, Berbisnis Melibatkan Tuhan

PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) menjadi salah satu perusahaan logistik ternama di Tanah Air.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati

Jumat, 01 Juli 2022 - 18:52 WIB

Menkeu: Anggaran Perlinsos Naik Seiring Guncangan yang Dirasakan Masyarakat

Jakarta, Kemenkeu – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, anggaran perlindungan sosial (perlinsos) mengalami kenaikan seiring dengan guncangan yang dirasakan oleh masyarakat.

Menkeu Sri Mulyani (Foto Dok Industry.co.id)

Jumat, 01 Juli 2022 - 18:41 WIB

Tegas! Sri Mulyani: Kami Tak Akan Lagi Berikan Program Pengampunan Pajak!

Jakarta Selatan, Jumat (1/7/2022), menegaskan pihaknya tidak akan lagi memberikan program pengampunan pajak.

Ikan Gurame Asam Manis (Foto: Instagram: dcost.seafood)

Jumat, 01 Juli 2022 - 18:30 WIB

3 Rekomendasi Tempat Makan Seafood Nikmat, dijamin Bikin Ketagihan

Bagi kamu pecinta hidangan laut, ada satu rekomendasi restoran yang wajib kamu coba nih! Ya, namanya D'Cost, ini merupakan jaringan restoran seafood terbesar di Indonesia.

Direktur SDM dan Hukum PT ASABRI (Persero) Sri Ainin Muktirizka beserta jajaran menghadiri langsung Penanaman Pohon di Polda Kepulauan Riau

Jumat, 01 Juli 2022 - 18:16 WIB

ASABRI Tanam Pohon di Sejumlah Kesatuan Kepolisian

Dalam memperingati Hari Ulang Tahun Ke-76 Bhayangkara yang jatuh pada 1 Juli 2022, PT ASABRI (Persero) melaksanakan Program Pelestarian Alam melalui Penanaman Pohon di sejumlah kesatuan Kepolisian.