Merasa Dimarjinalkan, Seluruh Elemen Mata Rantai IHT 'Geruduk' Istana Jokowi Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Oleh : Ridwan | Senin, 20 September 2021 - 16:02 WIB

Cukai Rokok (ilustrasi)
Cukai Rokok (ilustrasi)

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Seluruh elemen mata rantai industri hasil tembakau (IHT) secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana kenaikan cukai hasil tembakau atau cukai rokok tahun 2022. 

Pernyataan penolakan kenaikan cukai rokok tersebut disampaikan secara resmi oleh gabungan elemen mata rantai IHT dalam aksi penyerahan pernyataan sikap bersama "Masyarakat Pertembakauan Menolak Cukai" kepada Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin (20/9/2021).

Pernyataan sikap ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo, Ketua umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (FSP RTMM) SPSI Sudarto, Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Koperasi 
Ritel Indonesia (Akrindo) Anang Zunaedi, Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) Muhammad Nur Azami dan elemen IHT lainnya. 

Ketua APTI Soeseno, menegaskan pihaknya berharap pemerintah dapat melihat realitas di lapangan, bahwa saat ini para petani tembakau sedang berjuang untuk bertahan di masa pandemi dan menghadapi tantangan kondisi iklim yang sulit. 

Menurutnya, faktor alam telah membuat hasil panen tembakau tahun ini tidak maksimal. Ditambah lagi serapan hasil tembakau petani belum sesuai harapan dan terancam merugi. 

“Kami mohon jangan kondisi para petani tembakau dipersulit dengan kenaikan cukai. Petani sebagai hulu IHT akan semakin terpuruk bila cukai dinaikkan lagi,” ujar Soeseno.

Sementara itu, Sudarto selaku Ketua Umum FSP RTMM SPSI, menyebut bahwa sudah hampir 10 tahun IHT terus mengalami penurunan.

Menurutnya, sudah Selayaknya pemerintah perlu memberi perhatian serius untuk menyelamatkan industri padat karya tersebut, bukannya hanya fokus pada kepentingan pendapatan negara lewat kenaikan cukai. 

“Pemerintah harus paham dan peduli korban sesungguhnya dari kebijakan kenaikan cukai yang selama ini termarjinalkan adalah buruh tani dan buruh rokok," katanya.

Dijelaskan Sudarto, kenaikan cukai berdampak pada industri yang secara pasti akan memukul para buruh yang mayoritas terlibat di produksi sigaret kretek tangan. 

"Tolong bantu selamatkan mata pencaharian kami dengan tidak menaikkan tarif cukai 2022, lindungi industri padat karya," ujar Sudarto.

Dari sektor hilir IHT, Asosiasi Koperasi Ritel Indonesia (Akrindo) juga berharap pemerintah mempertimbangkan untuk menunda kenaikan cukai. Di masa pandemi, para pelaku koperasi retail dan UMKM retail sedang berupaya menyembuhkan kondisi ekonomi mereka.

“Saat ini adalah situasi yang tidak mudah bagi para peretail koperasi dan UMKM. Kami sedang mencari keseimbangan ekonomi, apalagi mengingat dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), sektor retail belum tersentuh, belum ada insentif. Posisi kami akan semakin lemah dengan kenaikan cukai rokok, 
sebab selama ini rokok punya kontribusi 20%-25% terhadap omset penjualan,” papar Wakil Ketua Umum DPP Akrindo, Anang Zunaedi.

Selain sembako, jelas Anang, rokok merupakan produk sekunder yang dibeli masyarakat. 

“Kondisi saat ini daya beli konsumen belum pulih. Ditambah lagi harga rokok naik karena kenaikan cukai, ini makin menghimpit gerak dan penghasilan pedagang. Dampak kenaikan cukai itu tidak hanya di hulu, tapi juga termasuk kami para pedagang di hilir sektor IHT,” ujarnya.

Mewakili suara konsumen, Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) bersama mata rantai IHT juga dengan tegas menolak kenaikan cukai. 

Koordinator KNPK, Muhammad Nur Azami menegaskan suara 
penolakan ini adalah empirik yang menyuarakan suara arus bawah tentang realitas bahwa kondisi IHT sedang carut marut.

“Petani kondisinya susah, pedagang juga merasakan hal yang sama, konsumen juga daya belinya lemah. Semua sedang susah, maka wacana kenaikan cukai adalah kebijakan ugal-ugalan,” tegas Azami. 

Kondisi perekonomian masyarakat yang mulai bergeliat setelah PPKM di beberapa daerah dilonggarkan, seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah untuk mendorong konsumsi masyarakat. 

“Seluruh rantai industri rokok pada akhirnya ikut hancur saat daya beli konsumen tidak sanggup mengejar kenaikan harga rokok. Ketika kondisi serba sulit seperti sekarang, pemerintah harus terus berupaya agar daya beli konsumen dan tingkat konsumsinya pulih. Kemampuan konsumen ini yang akan jadi roda penggerak seluruh rantai industri,” tutupnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Rangkaian Hari Habitat Dunia BTN Gelar Akad Kredit Massal 3.000 Unit

Minggu, 17 Oktober 2021 - 21:48 WIB

Rangkaian Hari Habitat Dunia BTN Gelar Akad Kredit Massal 3.000 Unit

Pasuruan-PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menggelar akad kredit massal sebanyak 3.000 unit di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Hari Habitat Dunia yang diperingati…

 Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso (kmps)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 19:10 WIB

OJK Siapkan Delapan Arah Kebijakan Strategis Tahun 2022

Manado-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan delapan kebijakan strategis di tahun 2022 untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia dengan terus mengoptimalkan manfaat sektor jasa keuangan…

Orangtua Ajarkan Anak Tentang Internet (Ist)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 17:00 WIB

Begini Cara Mengajarkan Keamanan Berinternet pada Anak

Sebelum mengedukasi anak mengenai keamanan berinternet, Idayanti Sudiro seorang Certified Life and Wellness Coach menyampaikan, terdapat hal yang harus dipahami oleh orang tua, yaitu menyadari…

Ilustrasi Bermain Media Sosial (Ist)

Minggu, 17 Oktober 2021 - 16:15 WIB

Melihat Sisi Positif dari Bermain Media Sosial

Seiring perkembangan zaman, kehadiran media sosial semakin beragam. Media sosial merupakan sebuah media yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan…

Pertamina SMEXPO 2021

Minggu, 17 Oktober 2021 - 16:08 WIB

Meningkat Dibanding Tahun Sebelumnya, Sebanyak 20 Negara Tercatat Menjadi Potential Buyer di Pertamina SMEXPO 2021

Total sebanyak 20 negara selain Indonesia tercatat menjadi potential buyer produk UMK peserta Pertamina SMEXPO 2021.