INDUSTRY.co.id - Jakarta, Secara berangsur Telkom menanggalkan ketergantungan pada bisnis legacy, beralih memperkuat digitalisasi. Dana sebesar Rp 29,2 triliun disiapkan untuk menggeber pembangunan infrastruktur broadband.

Advertisement

Penggunaan produk voice melalui sambungan kabel di telepon rumah bahkan selular kini mulai menurun. Begitupula dengan kiriman pesan singkat atau SMS setelah aplikasi digital dalam bentuk blackberry massanger (BBM) maupun whatsapp (WA) digandrungi. Masyarakat kini malah bisa melakukan komunikasi dalam bentuk panggilan suara maupun video melalui dua aplikasi tersebut.

Bagi operator telekomunikasi, perkembangan ini memaksa mereka melakukan transformasi digital. Sebab makin sulit mengharapkan pertumbuhan bisnis dari layanan legacy. Diakui Direktur Keuangan PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) Harry M Zain. Sejak Idul Fitri tahun 2016 lalu, jumlah penggunaan SMS Telkomsel sudah decline (menuurun). Sementara pada sisi lain jumlah penggunaan data meningkat tajam. Orang sudah pakai WA dan BBM, itu otomatis (penggunaan) datanya meningkat karena pakai OTT (over the top), ujarnya.

Advertisement

Telkom beruntung sebab telah mengantisipasi perubahan teknologi itu sejak beberapa tahun lalu dengan membangun dan memodernisasi jaringan infrastrukturnya. Nah ketika perubahan bisnis terjadi, Telkom mampu memetik buahnya. Indikator kesuksesan Telkom terlihat dari kinerja tahun buku 2016 yang tumbuh di atas industri yang rata-rata hanya sebesar 8%.

Telkom bahkan mampu mencetak triple double digit untuk pendapatan, EBITDA dan laba bersih. Berdasarkan laporan keuangan Telkom tahun 2016 terlihat, perusahaan ini berhasil mengumpulkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 116,33 triliun atau tumbuh sebesar 13.5%. Sementara itu, laba bersih tercatat meningkat 24.9% mencapai Rp 19,35 triliun dan EBITDA tumbuh 15,7% menjadi Rp 59,50 triliun.

Advertisement

Menariknya pertumbuhan signifikan ditunjukan oleh bisnis Data, Internet, & IT Services yang mencapai 31,5%. Hal ini sebagai hasil transformasi Telkom menjadidigital telecommunication company, ujar Direktur Utama Telkom, Alex J Sinaga, dalam laporannya saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkom di Jakarta, April lalu.

Sukses tadi membuat Telkom makin menggebu untuk fokus pada bisnis digital dan meninggalkan bisnis legacy. Harapannya, dalam beberapa tahun lagi seluruh pendapatan Telkom hanya bersumber dari digital.

Advertisement

Alex mengatakan tahun 2016 merupakan milestone bagi Telkom untuk mulai menghilangkan ketergantungan pada bisnis legacy, dimana 52% pendapatan bersumber dari digital. Nah tahun ini tentunya target kita akan lebih dari 52%, sekitar 56% sehingga yang legacy-nya tinggal 44%. Tahun berikutnya akan begitu lagi, secara gradually sampai 100% akhirnya semua berasal dari bisnis digital, ujarnya.

Untuk mewujudkan tekad tadi, Telkom harus menggeber pembangunan infrastruktur broadband. Tentu saja ini tidak mudah dan murah, karena itu Telkom berkomitmen untuk menggelontorkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 23%-25% dari total pendapatannya. Angka itu setara dengan Rp 29,2 triliun bila mengacu pada total pendapatan Telkom di tahun 2016 yang mencapai Rp 116,33.

Capex tadi menurut Alex menunjukan peningkatan sebesar 10,6% dari tahun sebelumnya. Selain memperkuat infrastruktur broadband, belanja modal ini akan dipergunakan memperkuat jaringan selular (kapabilitas, coverage dan kualitas layanan), serta untuk perluasan data center, satelit, tower dan lain-lain.

Sebagaimana diketahui sejak April 2017 Telkom mulai mengoperasikan Satelit Telkom 3S, dan saat ini Telkom juga tengah menyelesaikan pembangunan Satelit Telkom 4 yang diperkirakan mengorbit pada tahun 2018. Satelit Telkom 4 akan membawa 60 transponder, terdiri dari 48 C-Band dan 12 extended C-Band.

TelkomGroup juga sedang menyelesaikan pembangunan kabel laut SEA-US sepanjang 15.000 kilometer yang membentang dari Indonesia ke Amerika. Kabel laut ini menghubungkan lima area dan teritori yaitu Manado (Indonesia), Davao (Philippines), Piti (Guam), Oahu (Hawaii-United States) dan Los Angeles (California, United States). Hingga Desember 2016,progresspembangunan SEA-US sudah sebesar 80%.

Untuk menghubungkan SEA-ME-WE 5 dan SEA-US dengan jaringan domestik, Telkom tengah menyelesaikan Indonesia Global Gateway (IGG) yang terbentang dari Manado ke Dumai sepanjang 5.800 km dan diharapkan dapat selesai pada 2018.

"Hingga Desember 2016, pembangunan IGG sudah hampir 30%. Selesainya seluruh pembangunan SEA-ME-WE 5, SEA-US dan IGG akan mewujudkan mimpi lndonesia sebagai hub telekomunikasi internasional," ujar Alex J Sinaga.

Tahun 2016, sebagai upaya menjadikan Indonesia sebagai hub telekomunikasi internasional, Telkom telah merampungkan pembangunan South East Asia-Middle East-Western Europe 5 (SEA-ME-WES) sepanjang 20. 000 km dari Dumai, Indonesia ke Marseilles, Perancis melalui konsorsium bersama sejumlah operator telekomunikasi lainnya. Hingga Desember 2016, jumlah seluruh jaringan pita lebar fiber optic yang dibangun Telkom Group telah mencapai 106.600 km.

Untuk memperkuat bisnis mobile, Telkom melalui entitas anak usaha Telkomsel juga telah melaksanakan pembangunan 25.744 BTS baru sepanjang 2016, yang mana 92,4% di antaranya merupakan BTS 36/46. Hingga Desember 2016.

"Telkomsel memiliki total BTS sebanyak 129.033 unit, dengan komposisi BTS 3G atau 4G sebesar 61,1%. Saat ini layanan 4G. Telkomsel telah hadir di 189 kota atau kabupaten dan menjadikan Telkomsel operator 4G terbesar di Indonesia," kata Alex.

Langkah menggeber pembangunan infrastruktur bagi Telkom merupakan bagian dari investasi dalam menggenjot pertumbuhan organik. Sementara dari sisi anorganik Telkom tidak mengabaikan. Saat ini kata Alex pihaknya terus mengincar perusahaan-perusahaan berbasisis digital di Asia Pasifik untuk diakuisisi sebagai bentuk memacu pertumbuhan anrganik. Sayangnya Alex belum mau mengungkap bagaimana status serta perkembangan akuisisi yang sedang dilakukan.

Sebagai perusahaan publik kita tidak bisa men-disclose seluruh status dari anorganik kita, itu akan umumkan kalau sudah deal. Tetapi program anorganik merupakan pekerjaan sehari-hari Telkom sebagaimana pekerjaan organik, imbuhnya.

Kombinasi pertumbuhan organik dan organik yang dilakukan Telkom secara bersamaan merupakan upaya Telkom dalam mengejar angka kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.000 triliun hingga tahun 2020 mendatang. Kalau itu tercapai, Telkom dikatakan Alex sudah masuk dalam jajaran Top 10 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Asia Pasifik.Hingga 31 April 2017, kapitalisasi Telkom tercatat mencapai Rp 413,30 triliun sehingga butuh effort besar dalam mencapai target Rp 1.000 triliun dalam tempo tiga tahun ke depan.