Pasar SBN Masih Menarik Bagi Asing Hingga Akhir Tahun

Oleh : Herry Barus | Sabtu, 19 Juni 2021 - 09:39 WIB

Budi Hikmat, Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management,
Budi Hikmat, Kepala Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management,

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Paska meningkatnya angka positif covid-19 di Indonesia terutama di DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir diperkirakan akan mempengaruhi perekonomian dalam negeri. Perpanjangan  masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro selama 15-28 Juni 2021 imbas peningkatan angka covid-19 diperkirakan angka menekan laju pertumbuhan positif yang mulai berjalan selama kuartal II-2021.

Sentimen negatif ini sempat berdampak pada pelaku pasar yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di level 6.078,57 atau turun 10,47 poin pada perdagangan Rabu (16/6/2021). Kondisi yang tidak mudah ini dikhawatirkan akan mempengaruhi pilihan investor khususnya asing untuk menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia baik melalui instrumen saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Di lain pihak, berdasarkan analisis PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), dalam jangka pendek kondisi pasar keuangan Indonesia khususnya perdagangan SBN masih akan atraktif khususnya bagi investor asing. 

Menurut Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi Bahana TCW Budi Hikmat, ”Terlepas dari adanya sentimen negatif di pasar akibat merebaknya kasus Covid-19 di Indonesia, namun kami melihat room untuk stabilitas pasar SBN tetap tumbuh masih ada dapat tetap terjaga di tahun ini. Kami melihat ada sejumlah faktor yang akan mempengaruhi ekspektasi investor dalam berinvestasi di SBN yaitu stabilitas ekonomi Indonesia, yield SBN kita yang masih tinggi dan likuiditas di pasar global yang masih berlebih. Stabilitas ekonomi dan yield SBN yang tinggi kami perkirakan masih akan mampu menarik investor asing ke Indonesia”.

Saat ini, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga. Nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi terjaga dibawah target, neraca perdagangan Mei surplus 2,636 miliar dollar AS, dan juga BI kemungkinan akan tetap menjaga suku bunga acuan sebesar 3,5% yang membuat real rate Indonesia tetap positif dan menunjukkan kebijakan moneter yg prudent,.

Sementara itu, rilis data makro di Amerika Serikat dimana angka inflasi melonjak hingga 5% (YoY) yang sempat menimbulkan spekulasi kebijakan percepatan tappering oleh The Fed dan dapat memicu capital inflow dalam waktu dekat.

 

Budi menjelaskan bahwa sepertinya data inflasi AS tidak akan begitu berpengaruh bagi investor global karena inflasi AS sebesar 5% tersebut bersifat temporer. Hal ini terlihat dari penyumbang terbesar angka inflasi AS adalah kenaikan biaya transportasi dalam hal ini harga mobil bekas. Sementara indikator utama seperti harga bahan pokok masih stabilterkendali.

Budi menambahkan bahwa The Fed juga menyatakan hal yang sama bahwa inflasi hanya bersifat temporer dan akan segera membaik. The Fed juga berulang kali berkomentar bahwa belum ada pembicaraan terkait tappering dalam waktu dekat.Dalam proyeksi terbaru, Fed menunjukan inflasi mulai turun pada tahun 2022.  Akibatnya, ekspektasi inflasi pasar jangka panjang berangsur turun. Adapun rilis opini anggota Fed mensinyalkan kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada tahun 2023.  Sedangkan taper kami perkirakan baru akan dimulai pada awal 2022 mendatang. Menurut pandangan kami, saat ini pelaku pasar global percaya dengan sinyal yang diberikan oleh The Fed bahwa kebijakan moneter masih akan tetap akomodatif, setidaknya hingga akhir tahun ini. Dan dalam pandangan kami, saat ini pelaku pasar global sangat percaya dengan sinyal yang diberikan oleh The Fed tersebut.

Berdasarkan analisa kami, diperkirakan paling cepat Amerika Serikat baru akan memulai taper pada awal 2022

Dengan kondisi seperti ini, diperkirakan pelaku pasar global akan tetap menyalurkan likuiditas yang berlebih di pasar emerging market yang masih menawarkan yield yang tinggi hingga akhir tahun ini. Yield SBN Indonesia tenor 10 tahun sebesar 6,576 persen dipandang masih menarik dibandingkan yield obligasi tenor 10 tahun AS yang diperkirakan dalam kisaran antara 1,2837-1,884%.

Ini terlihat dari dana asing yang masuk ke SBN per tanggal 15 juni sebesar Rp6,6 tiliun. Pergerakan pasar Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga positif bahkan pada Jumat (11/6) lalu, perdagangan di ICBI mencetak rekor tertinggi yaitu ditutup pada 320,06. “Kami memperkirakan tren positif net buy asing di pasar SBN akan terus berlanjut selama Semester II tahun ini,” tutup Budi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

Rabu, 04 Agustus 2021 - 21:30 WIB

Menperin Agus Bakal Percepat Industri Nasional Bertransformasi Terapkan Teknologi Industri 4.0

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu implementasi industri 4.0 di berbagai sektor industri nasional melalui berbagai upaya. Satu di antaranya pelaksanaan program Indonesia Industry…

 Manajemen SIG dan TCC meresmikan kerja sama kedua perusahaan dengan membunyikan alat musik angklung asal Indonesia dan wadaiko asal Jepang.

Rabu, 04 Agustus 2021 - 21:28 WIB

Jalin Kemitraan dengan TCC, Posisi SIG Sebagai Penyedia Kebutuhan Bahan Bangunan Terbesar di Level Regional Kian Kokoh

Jakarta-PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) secara resmi menjalin kemitraan strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation (TCC), Jepang, yang telah masuk dalam jajaran pemegang saham PT Solusi…

Menperin Agus Gumiwang

Rabu, 04 Agustus 2021 - 21:05 WIB

Menperin Agus Rangkul FKPPI Kuatkan IKM di Daerah

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita berharap Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) turut ambil bagian dalam penguatan industri kecil di daerah.

Pada penutupan perdagangan Senin (8/6) saham BBTN melonjak 11,37% ke level Rp1.175.

Rabu, 04 Agustus 2021 - 20:56 WIB

Didorong Kinerja Apik, Analis Rekomendasikan Beli Saham BBTN dengan Target Price Rp2.600

Jakarta-Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) pada semester I/2021 dinilai sejumlah analis cukup baik. Kinerja yang apik ini membuat sejumlah analis merekomendasikan beli untuk…

Muhammadiyah

Rabu, 04 Agustus 2021 - 19:23 WIB

1 Triliun dari Muhammadiyah, Nggak Pake Pasir!

Di tengah simpang siur soal sumbangan Rp2 triliun dari keluarga pengusaha Sumsel untuk penanganan Covid19, kabar bahwa Muhammadiyah telah menyalurkan lebih dari Rp1 triliun mengemuka.  Publik…