INDUSTRY.co.id - Jakarta– Sebagai bentuk upaya mewujudkan keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya)melalui Tim Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) resmi meluncurkan program binaan start-up berbasis teknologi pengelolaan sampah organik. Program ini sejalan dengan arahan dari Kementerian BUMN untuk mendukung dan melakukan pembinaan ekonomi masyarakat di tengah masa pandemi Covid-19 yang ditujukan untuk UMKM dan inkubasi start -up.

Advertisement

Menggandeng 2 (dua) start-up lokal yakni DIOOLA Indonesia dan REXIC yang merupakan sociopreneur berbasis pengelolaan sampah dan rehabilitasi lingkungan untuk mengelola limbah sampah organik berbasis zero waste, program binaan start-up ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi dan mendaur ulang kembali penumpukan sampahorganik yang berasal dari sampah makanan sisa yang berada di sepanjang rest area JTTS dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan.

DIOOLA Indonesia dan REXIC merupakan finalis dari ajang Innovation Challenge dan Bussines Summit 2020 yang diadakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dimana Hutama Karya mendukung penuh kegiatan tersebut. Dari 20 finalis kompetisi inovasi nasional bagi semua pelaku start-up pemula di Indonesia, Hutama Karya melirik kedua startup tersebut untuk menjadi calon mitra binaan perusahaan kedepannya dengan harapan dapat berkolaborasi dalam berbagai program perusahaan, salah satunya berkaitan dengan kelangsungan bisnis yang mendukung peningkatan kelestarian lingkungan.

Advertisement

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Tjahjo Purnomo menjelaskan bahwa untuk tahap pertama ini, Hutama Karya telah memberikan bantuan modal usaha kepada DIOOLA Indonesia dan REXIC, yang digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan bisnis masing-masing start-up dalam mengolah kembali sampah organik di sekitar rest area JTTS.

“Dengan semakin bertambahnya ruas tol yang beroperasi di JTTS, tentunya akan berdampak pada peningkatan jumlah pengunjung rest area yang secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah sampah organik yang berasal dari makanan sisa. Nah melalui program binaan start-up ini, nantinya sampah organik dari makanan sisa di rest area JTTS akan di daur ulang oleh DIOOLA Indonesia dan REXIC sehingga menjadi berbagai produk yang bermanfaat, ramah lingkungan dan bernilai ekonomis di antaranya adalah pupuk organik dan maggot. Setelah kamiberikan bantuan modal usaha, dalam jangka waktu 6 bulan ke depan akan kami evaluasi perkembangan bisnisnya. Jika progresnya positif, kami akan rintis menjadi mitra binaan Hutama Karya,” terang Tjahjo.

Advertisement

Lebih lanjut Tjahjo menyampaikan bahwa Hutama Karya telah mengacu pada ISO 26000 untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau disebut Sustainable Development Goal (SDGs) dimana keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan bisnis, sekaligus kelestarian alam dan lingkungan di dalamnya. Peluncuran program binaan start up berbasis pengelolaan sampah organik melalui metode biokonversi oleh larva Black Soldier Fly (BSF) kedepan diharapkan dapat mencegah penumpukan sampah berlebih dan mendaur ulang kembali sampah organik yang berasal dari sisa-sisa makanan yang berasal dari para pengguna jalan tol di rest area JTTS dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Sebelumnya, Hutama Karya sendiri telah melakukan aksi penghijauan disekitar Gerbang Tol pada seluruh ruas JTTS yang dikelola Hutama Karya.

“Dari berbagai produk yang dihasilkan oleh start-up ini, selain mewujudkan lingkungan hijaudi sekitar JTTS, juga dapat membantu start-up lokal ini untuk naik kelas. Kami menargetkankolaborasi Hutama Karya dengan start-up lokal yang akan kami bina ini dapat segeradirealisasikan dan kedepan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk pengelolaan sampah di restarea saja namun di seluruh layanan publik yang dikelola oleh perusahaan.” tutup Tjahjo, EVPSekretaris Perusahaan Hutama Karya.

Advertisement

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2020 menyebutkan bahwa terdapat timbunan sampah sebanyak 36,729,694.34 ton yang berasal darisampah rumah tangga, perkantoran, pasar tradisional, pusat perniagaan dan beberapa tempat umum lain setiap tahunnya.

Disisi lain hanya sebesar 19,541,572,90 ton sampah atau sekitar 53.2% saja yang telah berhasil dikelola dan dapat didaur ulang kembali. Penumpukan dan peningkatan sampah ini dikarenakan sistem penanggulangan dan pengelolaan sampah yang sampai saat ini belum cukup maksimal sehingga menimbulkan permasalahan sampah yang menjadi polemik lingkungan yang membutuhkan solusi dalam penyelesaiannya baik dari hulu tempat pembuangan sampah hingga hilir di tempat pembuangan akhir.