INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah berencana untuk melakukan pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka dalam waktu dekat.
Terkait wacana tersebut, Muhammad Zainal, WASH (Water, Sanitation & Hygiene) Specialist UNICEF Indonesia mengatakan bahwa ada beberapa catatan penting yang harus dipahami dan dipatuhi.
"UNICEF sejalan dengan Pemerintah dalam hal pembukaan kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka karena penutupan sekolah akibat pandemi COVID-19 dalam jangka panjang akan memberikan dampak negatif terhadap anak khususnya dari segi pendidikan, diantaranya meningkatnya risiko anak putus sekolah, kendala tumbuh kembang dan kualitas pembelajaran yang disebabkan adanya perbedaan akses pembelajaran jarak jauh, serta kesehatan mental dan psikososial karena minimnya interaksi anak dengan guru, teman dan dunia luar," kata Zainal pada peluncuran SoKlin Antisep, Selasa (6/4/2021).
Namun, lanjut Zainal, pembukaan kembali sekolah harus diikuti dengan diterapkannya protokol kesehatan dan sekolah aman yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa, guru, keluarga dan masyarakat. "Disamping itu, layanan pendidikan selama pandemi juga harus mempertimbangkan kondisi tumbuh kembang dan psikososial siswa," tambahnya.
Menurutnya, penerapan protokol kesehatan yang baik dan lingkungan sekolah yang aman tentunya merupakan faktor yang harus dipenuhi jika pembelajaran tatap muka kembali dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi angka infeksi Covid-19 melalui klaster sekolah.
Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, sekitar 14% dari total kasus Covid-19 Indonesia berasal dari anak sekolah. Maka dari itu, edukasi mengenai bagaimana cara melindungi diri dan keluarga dari virus tersebut sangatlah penting untuk dilakukan, tak terkecuali anak-anak.
Dalam meningkatkan akses terhadap WASH serta mewujudkan perubahan perilaku kebersihan agar hak anak akan lingkungan yang bersih dan sehat dapat dipenuhi, dibutuhkan pula upaya yang terpadu dari berbagai pihak.
“UNICEF memahami pentingnya peran dunia usaha dalam hal ini. Oleh karena itu, kami mengapresiasi kesempatan bekerjasama dengan Wings Group Indonesia. Dukungan Wings Group Indonesia kepada UNICEF telah membantu upaya pencegahan penularan COVID-19 melalui promosi praktik kebersihan yang benar dan mendukung akses sanitasi aman yang berkelanjutan untuk anak-anak dan keluarganya,” tutupnya.
Sementara itu, dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV yang ditemui pada peluncuran SoKlin Antisep menerangkan bahwa sejak bulan Februari 2021 distribusi vaksin sudah mulai dijalankan di Indonesia dan saat ini angka cakupannya terus meningkat. Namun, menirutnya, kasus aktif COVID19 masih cukup tinggi, sehingga kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penularan harus tetap diperhatikan, termasuk dari klaster keluarga.
"Bukti-bukti yang dilaporkan menunjukkan bahwa jalur utama penularan SARS-CoV-2 adalah kontak langsung yang dimediasi oleh droplet yang dikeluarkan saat berbicara, batuk, bersin dan aerosol. Penularan secara sekunder terjadi melalui permukaan benda yang terkontaminasi (fomites)," ungkap dr. Fitria
Dia menambahkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi transmisi fomites dan droplets tanpa perlindungan diri masing-masing sebesar 6,9% dan 32% dan turun sekitar 2,8% dan 30% jika menggunakan pelindung diri. Singkatnya, risiko infeksi menurun saat kita menerapkan protokol kesehatan dengan baik.
“Dengan dimulainya aktivitas di luar, termasuk aktivitas anak-anak nantinya untuk kembali sekolah, maka protokol kesehatan harus selalu diingat dan dijalankan setiap saat. Agar diri dan keluarga tetap terlindungi, biasakan selalu menjaga kesehatan tubuh dan kebersihan tubuh. Menjaga kesehatan tubuh dengan makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup. Menjaga kebersihan tubuh dengan biasakan diri mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, segera mandi setelah beraktivitas dari luar rumah, dan segera mengganti serta mencuci pakaian dengan detergen terbaik,” pungkas dr. Fitria.