Cerahnya Industri Komoditas Timah

Oleh : Dhiyan W Wibowo | Rabu, 03 Mei 2017 - 14:57 WIB

Pekerja PT Timah - foto - IST
Pekerja PT Timah - foto - IST

INDUSTRY.co.id - Seperti halnya komoditas batu bara yang masih mengalami fluktuasi harga, komoditas bijih timah yang telah mengalami kenaikan dibanding tahun 2016 lalu juga masih menyimpan risiko tekanan harga. Di tengah potensi tekanan pada harga, PT Timah Tbk justru mentargetkan kenaikan produksi dan penjualan.

Memasuki tahun Ayam Api,   bisnis pertambangan timah menghadapi tekanan pelemahan harga setelah pada tahun sebelumnya komoditas pertambangan ini sempat mengalami penguatan fantastis.  Tekanan datang dari negeri Tirai Bambu yang berencana menghilangkan pajak ekspor timah sebesar 10%, yang dikhawatirkan akan berimbas pada tingginya pasokan di pasar global, dan berisiko meluber ke pasar Indonesia.

Andri Hardianto, analis dari PT Asia Tradepoint Futures beberapa waktu lalu mengungkapkan,  harga timah bisa saja tertekan oleh kekhawatiran membengkaknya produksi. Pasalnya di dalam negeri saja  produsen timah dalam negeri, PT Timah Tbk  berencana untuk meningkatkan produksi menjadi 30.000 ton pada tahun ini dibanding 24.000 ton di tahun 2016.

Angka ekspor timah Indonesia pun mengalami peningkatan. Sementara itu pemerintah Tiongkok berencana menghapuskan tarif ekspor timahnya yang sebesar 10%. “Ini dapat mengakibatkan membanjirnya timah murni dari China," kata Andri.

Pada tahun lalu, harga timah dunia memang mengalami peningkatan sebesar 45%.  Pada perdagangan 30 Desember 2016, harga timah di bursa London Metal Exchange ditutup di posisi US$21.125 per ton. Bandingkan dengan harga  per penutupan 30 Desember 2015 yang sebesar US$14.600 per metrik ton.

Pelemahan sempat terjadi medio akhir Februari lalu, ketika harga  turun 1,02% atau 195 poin menjadi US$18.955 per ton. Artinya telah terjadi  koreksi sebesar 10,27% sepanjang tahun berjalan, dan menjadi satu-satunya logam dasar di LME yang harganya melemah sejak awal 2017.

Namun memasuki April, timah kembali mengalami penguatan harga. Setidaknya jika melihat pada perdagangan  di bursa komoditas Malaysia yang menetapkan harga future timah sebesar US$ 20.200 per ton per tengah April lalu.

Di tengah 'kegalauan' harga, produsen penghasil timah di dalam negeri, PT Timah Tbk, berani mentargetkan kenaikan produksi  di tahun 2017, dengan   target volume produksi bijih timah sebesar 35.100 ton dan produksi logam timah sebesar 35.550 ton. Sementara volume penjualan ditargetkan sebesar 35.550 metrik ton atau naik 33,3% dibanding realisasi penjualan 2016 yang sebesar 26.670 metrik ton.

Disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Sutrisno S Tatetdagat dalam pernyataan pers yang diterima redaksi , dengan proyeksi peningkatan ekspor tersebut, perseroan  mematok target laba bersih sebesar Rp862 miliar pada tahun ini, atau meningkat signifikan sebesar  242% dibandingkan pada 2016.

Menurut Sutrisno, optimisme perseroan berangkat dari   peningkatan volume produksi dan penjualan, potensi kenaikan harga timah pada tahun ini, serta didukung oleh langkah efisiensi yang terus dilakukan.

Terkait harga,  Sutrisno menyebut  tren harga timah di tahun ini bakal menguat. Hal itu bakal didukung oleh  permintaan yang masih tinggi,  dan persediaan timah dunia yang menurun sementara permintaan tetap tinggi. Penurunan persediaan timah terjadi sebagai imbas aksi penyelamatan lingkungan, sehingga industri timah memangkas produksi seperti yang terjadi di Tiongkok dan Indonesia.

Ia menyebut stok timah di akhir 2016 hanya sebesar 3.746 ton,  turun dari kondisi stok tahun 2015 yang sebesar 6.140 ton. Belum lagi tahun ini diperkirakan terjadi kenaikan permintaan timah  oleh  industri elektronik, manufaktur dan produk kimia. Sejauh ini negara dengan konsumsi timah terbesar  antara lain Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, nakhoda PT Timah Tbk M Riza Pahlevi Tabrani juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya perseroan  menargetkan kinerja keuangan 2017 bakal naik signifikan dibanding realisasi laba bersih tahun lalu Rp 251,969 miliar.

Disampaikan Riza, kenaikan laba bersih perseroan akan ditopang dari target peningkatan volume penjualan logam timah dan proyeksi harga timah yang masih terus meningkat sepanjang tahun ini. Pasokan yang masih terbatas, termasuk akibat pengetatan aturan ekspor timah dari Indonesia di tengah permintaan yang masih tinggi membuat harga timah diprediksi akan terus menguat pada 2017.

“Harga rata-rata timah diperkirakan bisa mencapai US$21,750 per metrik ton pada 2017,” ujarnya awal April lalu.

Sejauh ini  konsumsi logam timah pada tahun 2016 mencapai 352.700 metrik ton dan produksi 341.390 metrik ton, sehingga ada kekurangan logam timah sebesar 11.310 metrik ton.

Riza juga mengemukakan, optimisme cerahnya industri komoditas timah sejalan dengan prediksi lembaga-lembaga ekonomi dunia yang menyebut pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia akan lebih baik pada tahun ini. Dana Moneter Internasional misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 3,5% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bertumbuh sebesar 5,1%.

“Pertumbuhan ekonomi meningkat, otomatis industri elektronik, manufaktur dan produk kimia yang menggunakan timah akan meningkat,” kata Riza.

Sejauh ini,  logam timah yang dihasilkan di dalam negeri sebesar  90% dialokasikan untuk pasar ekspor,  dan hanya sedikit yang diserap di pasar domestik. Ini yang membuat nilai tambah yang diperoleh pun kecil. Berbeda jika logam timah diolah dalam negeri menjadi solder dan lainnya maka nilai tambah yang dihasilkan bakal lebih besar. Sementara logam timah yang diproduksi PT Timah Tbk selama ini diolah menjadi solder, tin chemical dan food caning.

Merunut kinerja PT Timah Tbk pada tahun lalu, perusahaan berkode  TINS di lantai bursa ini berhasil menorehkan pendapatan  sebesar Rp 6,97 triliun atau naik  sebesar 1,37% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,87 triliun. Sementara itu  laba bersih yang berhasil diraup tercatat sebesar Rp 251,97 miliar atau naik 148% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 101,56 miliar. Sedangkan beban pokok pendapatan mengalami penurunan sebesar 5,09% menjadi Rp 5,87 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 6,19 triliun.

Pada 2017 direncanakan  produksi bijih timah, target produksi logam, dan target produksi penjualan sebesar 30.000 ton. Hal ini tentunya didukung dengan rencana perseroan melalui peningkatan kapasitas produksi baik penambangan maupun peleburan. Untuk mendukung pencapaian TINS pada 2017 dianggarkan belanja modal sebesar Rp 2,65 triliun.

Perseroan juga akan  fokus pada penemuan cadangan baru lewat cara intensifikasi dan ekstensifikasi. Pada 2016, produksi bijih yang dilakukan Timah sebesar 24.121 ton atau turun dibandingkan dengan 26.361 ton pada 2015. Pada 2016, produksi logam timah sebesar 23.756 Mton atau turun dibandingkan dengan 27.431 Mton pada 2015.

Per 31 Desember 2016 jumlah cadangan TINS sebesar 335.909 ton. Sebesar 79% dari cadangan tersebut atau 264.806 ton berada di laut, sedangkan 21% atau 71.103 ton berada di darat. Adapun jumlah sumber daya TINS yang dicatatkan pada periode yang sama adalah 737.546 ton, yang sebesar 67%  berada di laut dan 33% berada di darat.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

Kamis, 26 Mei 2022 - 18:00 WIB

Ketua MPR RI Hadiri Pernikahan Ketua MK dengan Idayati

Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo turut bahagia atas kelancaran prosesi pernikahan Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi Anwar Usman dengan adik kandung Presiden…

Presiden Jokowi

Kamis, 26 Mei 2022 - 17:19 WIB

Pandemi Melandai, Presiden Jokowi Harap Aktivitas Seni dan Budaya Bangkit

Presiden Joko Widodo berharap melandainya pandemi menjadi momentum aktivitas seni dan budaya untuk bangkit kembali setelah terhenti selama dua tahun. Pernyataan ini disampaikan Presiden setelah…

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bersama Anindya Bakrie saat berfoto bersama Menteri Investasi Inggris Lord Grimstone

Kamis, 26 Mei 2022 - 15:30 WIB

Bertemu Menteri Investasi Inggris, Bahlil Pastikan Kerja Sama RI-Inggris Bakal Diteken pada KTT G20 di Bali

Di sela kunjungan kerjanya ke Davos, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia bertemu dengan Menteri Investasi Inggris Lord Grimstone kemarin siang (25/5)…

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI Mardani H. Maming

Kamis, 26 Mei 2022 - 15:00 WIB

Ini Kontribusi 50 Tahun HIPMI untuk Indonesia Menuju Era Keemasan

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sedang menuju era keemasan yang tahun ini akan menginjak usia 50 tahun. Anggota HIPMI di seluruh Indonesia akan tetap berjuang untuk membangun ekonomi…

Mentan SYL menyaksikan Porang yang akan diolah

Kamis, 26 Mei 2022 - 14:52 WIB

Kementan Dukung Investor Bangun Pabrik Olahan Porang Skala Besar di Lombok Barat

Pabrik pengolahan porang menjadi tepung glukomanan berkadar 90 persen mulai dibangun di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.