INDUSTRY.co.id - Jakarta - Aset kripto terpopuler setelah bitcoin, Ethereum akan berevolusi menjadi Ethereum 2.0 yang dikabarkan akan masuk ke fase pertama pada Desember 2020.

“Ethereum 2.0 akan menyelesaikan permasalahan yang selama ini terjadi di Ethereum, misalnya scalling dan gas fee yang mahal,” kata CTO Indodax William Sutanto dalam keteranganya yang dikutip INDUSTRY.co.id, Kamis (5/11/2020).

Evolusi Ethereum 2.0 ini diprediksi akan mendorong kenaikan harga  koin Ether (ETH). “Nantinya, bisa saja permintaan ETH meningkat sehingga harga ETH bisa saja naik secara drastis. Ini bisa juga mempengaruhi harga aset kripto lain karena orang-orang juga akan semakin paham kepada bitcoin, ETH, dan cryptocurrency lainnya,” sebutnya.

Harga ETH saat ini masih berada di level Rp5,8 juta di market Indodax dan Bitcoincoid. ETH di sepanjang tahun ini sudah meningkat lebih dari 200%. Pada awal tahun 2020, harga ETH masih berada di level Rp1,8 juta.

Menurut William, ETH juga layak untuk dikoleksi mengingat besarnya fundamental dan utilitas aset kripto ini. Selain itu, aset kripto terpopuler bitcoin juga meningkat lebih dari 100%. Kini, harga bitcoin masih bertahan di Rp208 juta. Pada awal tahun 2020, bitcoin hanya berada pada level Rp99 juta.

“Bitcoin dan ETH adalah aset kripto yang paling aman sebagai sebuah investasi pada saat ini. Bitcoin adalah cryptocurrency paling tua dan sudah dianggap sebagai safe haven asset oleh banyak investor, yang statusnya bisa disandingkan dengan emas. Sedangkan Ethereum adalah jaringan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di dalam ekosistem blockchain,” ucapnya.