Kinerja Semua Emiten Pakan Ternak di Bawah Pasar, Kecuali yang Satu Ini

Oleh : Kormen Barus | Kamis, 24 September 2020 - 03:38 WIB

Mentan Amran Sulaiman saat tinjau jagung sebagai pakan ternak
Mentan Amran Sulaiman saat tinjau jagung sebagai pakan ternak

INDUSTRY.co.id, Jakarta-Terhitung sejak Januari 2015 hingga September 2020, performa Indeks Industri Dasar dan Kimia Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang cukup baik dan sanggup mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, bagaimana dengan kinerja saham-saham emiten pakan ternak?

Riset Lifepal.co.id menunjukkan, dari empat emiten produsen pakan ternak yang melantai di BEI, hanya satu emiten yang memiliki performa baik selama lima tahun terakhir. Kinerja saham emiten tersebut sukses mengalahkan pasar maupun IHSG.

Sementara itu, satu emiten dari industri yang sama juga mampu mengalahkan IHSG namun tidak bisa mengalahkan Indeks Industri Dasar dan Kimia BEI.

Kinerja 5 tahun CPIN mengalahkan seluruh emiten pakan ternak

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi satu-satunya emiten pakan ternak yang kinerjanya mampu mengalahkan pasar, selama lima tahun dari 1 Januari 2015 ke 1 September 2020. Dalam rentang waktu tersebut, performa saham CPIN naik 51,7%.

Bicara soal laba, CPIN membukukan penurunan laba bersih sebesar 4,27% dari periode sebelumnya yaitu Rp 1,7 triliun di Semester I 2019 jadi Rp 1,6 triliun di Semester I 2020.

Meski demikian, aset CPIN justru terlihat naik 9,03% dari Rp 29,3 triliun pada 31 Desember 2019 menjadi Rp32 triliun di akhir Semester I 2020.

Saham JPFA tak lagi perkasa

Sejak April 2016 hingga November 2019, performa saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) selalu mengalahkan pasar dan kompetitor lainnya yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), maupun PT Sierad Produce Tbk (SIPD).

Pengamatan Lifepal, memasuki Desember 2019 kinerja JPFA justru makin loyo hingga pada Maret 2020 saat Covid-19 merebak di Indonesia, kinerja JPFA tidak bisa mengungguli Indeks Industri Dasar dan Kimia BEI serta CPIN.

Meski demikian, performa JPFA saat ini masih bisa mengalahkan IHSG, dan dalam periode 1 Januari 2015 hingga 1 September 2020, kinerja saham JPFA naik 25,3%.

Laba bersih JPFA yang baru saja mengakuisisi merek So Good ini anjlok 81,3% dari Semester I 2019 yaitu Rp 829 miliar jadi Rp 155,1 miliar di semester I 2020.

Bersamaan dengan itu, aset JPFA justru naik 10,3% dari 31 Desember 2019 yaitu Rp 25,1 triliun jadi Rp 27,7 triliun.

MAIN, jadi saham pakan ayam dengan kinerja terburuk

Dalam rentang waktu 1 Januari 2015 ke 1 September 2020, kinerja MAIN tercatat -74%, hal ini membuat MAIN menjadi saham terburuk di sub sektor pakan ternak. MAIN juga tidak bisa mengalahkan IHSG maupun Indeks Industri Dasar dan Kimia BEI.

Patut diketahui pula di periode yang sama pada tahun 2019, perusahaan ini berhasil mencatatkan laba bersih Rp 145 miliar, namun di Semester I 2020 MAIN justru mencatatkan rugi bersih Rp 44,2 miliar.

Grafik Lifepal menunjukkan, sama halnya dengan MAIN, SIPD pun juga tidak bisa mengalahkan pasar. Performa SIPD dari Januari 2015 hingga 1 September tercatat -51,9%. Laba bersih SIPD juga merosot 66,4% dari Semester I 2019 ke Semester I 2020.

Seperti itulah performa dari saham emiten sub sektor pakan ternak. Bisa dikatakan bahwa di semester I 2020, seluruh emiten mengalami penurunan laba dan bahkan salah satu dari mereka mengalami kerugian.

Sebagai saham perusahaan pakan ternak dengan performa terbaik, penurunan laba CPIN merupakan yang terkecil di antara yang lain.

Catatan penulis. Untuk membuat riset data ini, Lifepal.co.id menganalisis pergerakan saham empat emiten di sub sektor pakan ternak dari sektor industri dasar yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama minimal lima tahun terakhir. Lifepal juga membandingkan pergerakan saham mereka dengan pergerakan IHSG maupun Indeks Industri Dasar dan Kimia Bursa Efek Indonesia di BEI. Olah data dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis lifepal.co.id.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mantan Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Muchyar Yara

Selasa, 20 Oktober 2020 - 07:00 WIB

Gerakan Kritisi terhadap Pemerintahan Meningkat

Gerakan mengkritisi pemerintahan Presiden Jokowi nampaknya semakin membesar, ditambah lagi yang terakhir dengan disahkannya UU Cipta Kerja

Revisi UU Otonomi Khusus Harus Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Papua

Selasa, 20 Oktober 2020 - 06:30 WIB

Revisi UU Otonomi Khusus Harus Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Papua

Revisi UU Otsus yang dilakukan pemerintah bersama DPR RI dilakukan untuk memastikan Papua dan Papua Barat tetap mendapatkan dana otonomi khusus. Sekaligus memastikan pembangunan tetap meningkat.…

Presiden Jokowi

Selasa, 20 Oktober 2020 - 06:00 WIB

Akhir Oktober Libur Panjang, Tetap Waspada Covid-19

Disampaikan Presiden, pasca libur panjang beberapa bulan lalu, terjadi lonjakan kasus COVID-19. Ia mengingatkan agar hal sebut tidak terjadi pada libur panjang dan cuti bersama pada akhir bulan…

Dayonmarhanlan XII Pontianak Laksanakan Tatap Muka Pertama

Selasa, 20 Oktober 2020 - 05:30 WIB

Dayonmarhanlan XII Pontianak Laksanakan Tatap Muka Pertama

Tujuan diselenggarakannya Entry Briefing adalah sebagai ruang untuk memperkenalkan diri sebagai pejabat Danyonmarhanlan XII yang baru, menyampaikan rencana pembinaan dan operasi Yonmarhanlan…

345 Bintara dan Tamtama Remaja Perkuat Korps Baret Ungu

Selasa, 20 Oktober 2020 - 05:00 WIB

345 Bintara dan Tamtama Remaja Perkuat Korps Baret Ungu

Bintara dan Tamtama Remaja tersebut resmi menyandang Baret Ungu Korps Marinir, setelah disematkannya baret pada Upacara Pembaretan yang dipimpin langsung oleh Komandan Korps Marinir (Dankormar)…