Lima Langkah Link Match Pendidikan Vokasi dan Dunia Industri

Oleh : Herry Barus | Selasa, 22 September 2020 - 14:20 WIB

Ilustrasi pabrik mobil (Foto Ist)
Ilustrasi pabrik mobil (Foto Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta-- Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, menyebut ada lima syarat minimal agar link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri dapat terjadi. “Ada paket link and match itu lima minimal," ujar Wikan di Jakarta, belum lama ini/

 Ia menjabarkan, syarat pertama terciptanya link and match antara vokasi dengan dunia industri adalah pembuatan kurikulum bersama. Di mana kurikulum tersebut harus disinkronisasi setiap tahun dengan industri. “Harus disetujui," katanya.

 Kedua, pihak industri wajib memberikan guru atau dosen tamu. Minimal pengajaran dari dosen dan guru tamu ini dilakukan minimal 50 jam per semester. Syarat ketiga, pemberian magang kepada siswa SMK dan mahasiswa vokasi dari industri yang dirancang bersama. Wikan mengatakan, pihaknya mewajibkan magang minimal satu semester. "Jangan sampai tiba-tiba industri cuma disodori magang suruh terima saja, tidak dari awal sudah dirancang (bersama)," ucap Wikan.

 Kemudian syarat keempat adalah sertifikasi kompetensi. Menurut Wikan, kompetensi merupakan hal yang sangat penting untuk lulusan vokasi. Sertifikat dibutuhkan untuk menunjukan level kompetensi lulusan vokasi.

 Syarat yang kelima adalah komitmen menyerap lulusan sekolah vokasi oleh industri. "Paket link and match hingga level menikah yang kami rancang yaitu mengembangkan teaching factory. Jadi teaching industry masuk ke dalam kurikulum," tutup Wikan.

 Wikan seperti dilansir laman Kemdikbud menegaskan, link and match antara pendidikan vokasi dan industri tidak hanya sekadar tanda tangan MoU, foto-foto kemudian masuk koran. Ia menganalogikan pada hubungan dua orang yang sedang berpacaran dan sampai pada jenjang menikah.

 Dengan  konsep lima syarat tersebut. Wikan menargetkan 80 persen lulusan pendidikan vokasi dapat terserap ke dunia industri. Sedangkan 20 persen lainnya bisa berbisnis atau ke pekerjaan lain. "Sekarang ada 90 persen ada, 70 persen ada," ujarnya.

 Wikan mengungkapkan, saat ini terdapat stigma bahwa lulusan sekolah vokasi bakal menjadi pengangguran. Dirinya mengatakan anggapan ini dapat terbantahkan dengan peningkatan kompetensi siswa SMK melalui link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia industri. "Kompeten artinya lulusan itu sudah berani bilang aku bisa apa, bukannya ini ijazahku. Kalau dia bilang ini ijazahku, itu artinya dia (hanya) bilang aku sudah belajar apa,” katanya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua DPR RI Dr. (H. C.) Puan Maharani

Rabu, 21 Oktober 2020 - 15:15 WIB

Puan Maharani: Penundaan Pilkada Bisa Menghambat Kinerja Pemda Tangani Covid-19

Puan menjelaskan, Gubernur maupun Bupati/Wali Kota adalah pemimpin politik di bidang eksekutif tingkat daerah yang kehadiran dan keputusan-keputusan strategisnya sangat dibutuhkan dalam menghadapi…

Donald Rachmat General Director MG Motor Indonesia

Rabu, 21 Oktober 2020 - 15:00 WIB

Donald Rachmat Sebagai General Director MG Motor Indonesia

Donald Rachmat yang resmi menempati posisi General Director MG Motor Indonesia sejak Oktober 2020. Berbekal pengalaman lebih dari 17 tahun di industri otomotif, Donald memiliki pengetahuan dan…

Migas Ilustrasi

Rabu, 21 Oktober 2020 - 14:56 WIB

Hingga Kini Proyek Blok Rokan Belum Juga Jalan! Ternyata Ini Penyebabnya

Jakarta-- Proyek pembangunan pipa minyak Blok Rokan sepanjang 360 kilometer sampai saat ini belum jalan. Padahal, kontraktor telah terpilih yakni PT Pertamina Gas (Petragas) yang merupakan anak…

REKOMENDASI KLINIK KECANTIKAN YANG TERPERCAYA

Rabu, 21 Oktober 2020 - 14:45 WIB

Kecantikan Artis Korea Selalu Jadi Dambaan, Kulit Putih Mulus, Rahang Dagu Kecil Tirus dan Awet Muda! Berikut Rekomendasi Klinik Kecantikan Terpercaya yang Bisa Bikin Anda Seperti Artis Dambaan

Jakarta-Saat ini perawatan wajah sudah menjadi gaya hidup. Mulai dari kosmetik, skincare, hingga treatment di klinik kecantikan tak akan lepas dari kebutuhan para kaum hawa. Bahkan para laki-laki…

Ilustrasi jaminan pensiun

Rabu, 21 Oktober 2020 - 14:30 WIB

Sungguh Miris! Hanya 16% Pekerja di Indonesia yang Miliki Jaminan Hari Tua & Pensiun

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu mengungkapkan bahwa hanya sedikit pekerja Indonesia yang memiliki jaminan hari tua dan jaminan pensiun.