INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pertumbuhan ekonomi India mengalami kontraksi sebesar minus 23,9 persen pada kuartal II 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontraksi ekonomi tersebut menjadi salah satu yang terparah dibandingkan negara-negara lain pada periode yang sama.
Mengutip CNN.com, Selasa (1/9), pertumbuhan negatif India lebih dalam dibandingkan prediksi sejumlah ekonom. Namun, India tidak mengalami resesi karena pada kuartal I 2020 lalu, ekonomi India tumbuh sebesar 3,1 persen.
Penyebab kontraksi ekonomi India tak lain adalah penguncian wilayah (lockdown) akibat pandemi covid-19. Kebijakan lockdown itu, menghancurkan kinerja permintaan, konsumsi rumah tangga, dan investasi.
Ekonom dari Capital Economics Shilan Shah mengatakan kuartal II 2020 menandai titik terendah bagi ekonomi India. Namun, tanda-tanda pemulihan bisa sangat lambat meskipun lockdown telah dilonggarkan.
Indikasinya adalah penurunan tipis aktivitas manufaktur pada Juli dan output dari industri infrastruktur tetap tertekan.
"Cepatnya penyebaran virus corona akan mengurangi permintaan domestik. Terlebih lagi, respons fiskal yang mengecewakan terhadap krisis akan menimbulkan pengangguran yang lebih tinggi, kegagalan perusahaan, dan sektor perbankan yang melemah akan membebani investasi dan konsumsi," katanya.
Tak hanya India, pandemi telah memberikan pukulan signifikan bagi ekonomi setiap negara. Bahkan, negara anggota G7, seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, secara resmi berada dalam resesi.