INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengemukakan dirinya beberapa waktu lalu diberitahu soal analisa dari PwC di tahun 2015 yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan wisatawan medis terbesar didunia dengan jumlah 600.000 orang dalam setahun.
Menurut Luhut angka tersebut mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 wisatawan medis di tahun yang sama.
Luhut menilai bahwa alasan masyarakat memilih berobat ke luar negeri lantaran didalam negeri kurang mempunyai layanan medis untuk menyembuhkan penyakit-penyakit khusus.
"Untuk itu, maka hari ini saya bersama jajaran K/L terkait duduk bersama untuk berkoordinasi tentang rencana pengembangan wisata medis di Indonesia," ungkap Luhut seperti dilansir redaksi Industry.co.id dari laman media sosial miliknya pada Jumat (28/8).
Dikatakannya, rencana ini berdasar atas berbagai pertimbangan, diantaranya adalah fakta bahwa bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar USD 3,000 - USD 10,000 per orang.
"Sementara masyarakat kita lebih senang berobat ke Penang dan Singapura karena merasa disana layanan kesehatannya terhitung murah dan lebih cepat sembuh," ucapnya.
Selain itu, menurut Luhut jumlah wisatawan medis secara global juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
"Ada satu cerita yang saya dengar yaitu pengalaman seorang dokter mata bahwa banyak pasien yang biasa berobat ke Singapura sekarang berobat ke Indonesia karena mereka kurang nyaman dengan adanya karantina," imbuhnya.
"Melihat fakta-fakta di atas, saya kira pengembangan wisata medis di Indonesia menjadi sangat realistis, dan saya rasa perlu kita bangun “distrust” tentang pengalaman berobat di luar negeri guna menumbuhkan rasa percaya wisatawan medis Indonesia, dan yang paling penting bagi saya adalah lewat industri wisata medis ini, kita mampu melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera," jelas Luhut.
Selain itu, potensi besar lainnya yang dilihat ialah dari sektor “Wellness & Herbal Tourism” yakni, berupa 30,000 spesies tanaman herbal di Indonesia.
"Ini juga akan kita kembangkan untuk menarik wisatawan mancanegara datang dan membelanjakan uangnya di sektor wisata kebugaran dan herbal di Indonesia," ujarnya.
Adapun terkait pengembangan industri wisata medis, sejatinya perlu ada dukungan dari pemerintah melalui promosi masif serta fasilitas-fasilitas penunjang, seperti membangun rumah sakit internasional.
Kemudian berikutnya mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri, sehingga menurut Luhut, kualitas dan tarif layanan medis dibIndonesia bisa sebanding dengan negara-negara yang lebih dulu melakukan hal ini, bahkan tidak menutup kemungkinan lebih baik dari keduanya.
"Saya ingin Rumah Sakit berstandar internasional seperti John Hopkins yang berada di Amerika Serikat, ada cabang nya di Indonesia. Maka dari itu, saya meminta kepada BKPM untuk dapat mencari investor potensial guna membangun rumah sakit berkelas internasional di Jakarta, Bali, dan Medan," ungkapnya.
Ditambahkannya, untuk keahlian spesialis tertentu, dirinya akan mempertimbangkan ijin untuk dokter asing, namun tetap harus sesuai kebutuhan.
"Mereka tidak hanya sekedar datang, tetapi sambil berkolaborasi dengan para dokter dan tenaga medis lokal sehingga nantinya Rumah Sakit menjadi “teaching hospital” dan mereka harus diasistensi selalu oleh dokter-dokter spesialis dari Indonesia," terang Luhut.
Untuk itu, dirinya mengusulkan kepada K/L terkait untuk mengkaji peraturan yang memungkinkan dokter asing bekerja di Indonesia dengan mempertimbangkan komposisi dan durasi izin bekerja, serta nilai tambahnya.
"Saya berharap momentum krisis pandemi ini bisa betul-betul kita manfaatkan untuk membenahi infrastruktur, fasilitas penunjang, serta regulasi layanan kesehatan di Indonesia agar bisa lebih baik lagi dengan menciptakan perencanaan yang bagus dan terpadu untuk industri wisata medis dalam negeri," pungkasnya.