INDUSTRY.co.id - Jakarta- Merdeka finansial dalam artian ketersediaan penghasilan non gaji untuk menopang hitup bukanlah omong kosong. Setiap orang yang memiliki gaji bulanan mampu merdeka finansial melalui investasi yang dirancang secara seksama dan optimal untuk mencapai target asset.
Dalam pidato saat pelantikan masa bakti kedua, Presiden Jokowi pernah mencanangkan visi kemakmuran dengan target bersama nilai produk domestik bruto (PDB) per kapita mencapai Rp 320 juta per tahun ketika perayaan 100 tahun kemerdekaan RI pada tahun 2045 atau 25 tahun lagi. Target PDB per kapita tersebut melonjak dari kisaran Rp 56 juta saat ini. Pada saat itu PDB nasional diharapkan melonjak menjadi USD 7 triliun, dari 1 triliun dolar AS saat ini. Angka kemiskinan mendekati nol persen sehingga Indonesia masuk lima besar perekonomian dunia.
Namun, upaya mencapai visi itu semakin berat akibat pandemi saat ini. Penurunan harga komoditas primer andalan ekspor yang memperlemah daya beli masyarakat dan memicu resesi ekonomi. Selain itu, upaya pemerintah menopang daya beli melalui stimulus defisit 6,3% GDP tahun ini dan usulan 5,2% untuk tahun depan tentu ada batasnya. Di sisi lain, ada kesulitan merealisasikan stimulus itu dan kompleksitas daya serap pasar serta kestabilan profil makroekonomi.
Untuk itu, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat menyarankan, baik individu maupun komunal terlebih dahulu harus mengubah paradigma perilaku terutama terkait gaya belanja, sumber penghasilan dan utang. Perubahan paradigma ini sangat penting agar upaya merancang strategi investasi beragam jenis asset dapat berjalan lancar demi menepis risiko Middle Income Trap 2030.
“Prinsipnya adalah ketika menua dan pensiun, pembiayaan hidup tidak lagi bersumber kepada penghasilan gaji (labor income), tapi lebih kepada non-labor income melalui pencairan aset yang diakumulasikan semasa kerja. “
Sebagai gambaran, Bahana TCW sebagai salah satu anggota Indonesia Financial Group (IFG) – Holding Perasuransian dan Penjaminan memberi taksiran nilai aset dan dana yang harus dialokasikan oleh seorang generasi milenial yang ingin bekerja selama 25 tahun lagi dan berharap hidup selama 20 tahun sebelum wafat. Taksiran aset sendiri diperoleh dengan mengalikan visi target PDB per kapita (Rp 320 juta per tahun) dengan masa tuai (harvest) yakni ekspektasi hidup hingga wafat (asumsi 20 tahun). Maka total aset setelah pensiun harus mencapai Rp 6,4 miliar. Walau dapat diraih melalui investasi, kami sangat memahami angka ini mengagetkan dan mengintimidasi bagi sejumlah pihak.
Apabila ada investasi dengan imbal hasil portfolio sebesar 10,5% per tahun, maka generasi milenial itu perlu mengalokasikan dana investasi untuk masa depan sebesar Rp4,32 juta per bulan. Tentunya, semua angka ini dinilai memberatkan.
Namun, Bahana TCW percaya bahwa setiap orang mampu medeka finansial asalkan disiplin dan memahami rancangan strategi investasi.
“Kita bisa mempelajari prinsip investasi sepanjang hayat dari Nabi Yusuf kepada Raja bahwa kita harus selalu berusaha untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing serta memiliki cadangan untuk kehidupan di masa depan,” ungkap Budi.
Mengutip saran Nabi Yusuf, ada beberapa tahapan investasi yang mencakup fase growth, protection and distribution. Aset yang paling tepat untuk fase growth meliputi talenta, property, saham, dan emas dalam satu dekade ke depan. Sementara, aset terbaik untuk fase protection adalah surat berharga negara (SBN) karena memiliki credit risk terendah. Fase distribution merupakan proses peluruhan atau pencairan dan transfer aset dimana “pohon” dicairkan secara berkala menjadi “buah” alias non labor income.
Mengatur alokasi dana investasi juga dapat dirancang dengan persentase tertentu terhadap pendapatan. Misalnya saran David Bach penulis buku Automatic Millionaire, dimana seseorang bisa mulai dengan 5% pendapatan pada lima tahun pertama mulai bekerja. Seiring dengan peningkatan kecakapan berinvestasi, alokasi investasi pada growing aset seperti talenta, properti dan saham bisa ditingkatkan hingga 20%. Ketika mendekati usia pensiun dan sejalan dengan rumus alokasi growing asset (100 - umur), alokasi investasi dapat diturunkan hingga kembali 5% pendapatan.
Acuan untuk Cuan
Di samping merancang investasi dengan mengukur fase growth, protection, dan distribution, Bahana TCW menyarankan agar investor juga harus memiliki acuan untuk cuan sebagai ukuran dan menganalisa berbagai aset guna mencapai hasil yang optimal.
Berdasarkan pengalaman melintasi berbagai krisis sejak tahun 1997, Bahana TCW melihat persepsi mengenai saham sebagai sarana investasi jangka panjang yang paling menguntungkan sebagai anggapan yang kurang tepat.
Konsep “Acuan” berdasarkan pada temuan statistik bahwa dalam jangka panjang kinerja capital gain saham bersesuaian dengan sektor riil yang diukur berdasarkan average GDP nominal growth.
Temuan menarik bahwa selama 12, 15 dan 20 tahun terakhir hingga Juni 2020 terlihat kesesuaian nilai rata-rata per tahun GDPN (sektor riil) dan pasar modal (JCI). Namun terlihat volatilitas JCI lebih dari 3 kali lipat lebih besar ketimbang GDPN. Terlihat rasio RelStd untuk Amerika Serikat ternyata jauh lebih besar ketimbang Indonesia.
Acuan untuk Cuan untuk keputusan ambil untung dapat dipertimbangkan adalah bila kinerja saham melebih (rata rata plus satu standar deviasi sektor riil). Sebagai contoh, bila digunakan data selama periode 12 tahun, berarti ambil untung bila kinerja tahunan IHSG telah melewati 15,39% (8,78% + 6,61%). Yang diambil adalah “buah” keuntungan sebesar 15,39% ini. Sementara untuk Kembali membeli, dapat disarankan pola asimetrik ketika penurunan saham melebihi -3 standar deviasi sektor riil.
Selain itu, ada beberapa temuan. Pertama, angka GDP nominal cenderung menurun. Hal ini nampak sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat bersamaan dengan berakhirnya era booming komoditas sejak tahun 2012. Kedua, angka rata-rata pertumbuhan GDPN yang lebih besar ketimbang IHSG. Kami menduga dengan dominasi investor asing, kinerja tidak memuaskan pasar saham cenderung terkait dengan peningkatan risiko mata uang (currency risk) yang mengkhawatirkan investor asing. Pelemahan Rupiah secara fundamental juga disebabkan pelebaran defisit neraca berjalan.
Dengan dua temuan ini, bahwa investor asing sebetulnya lebih menyukai SBN ketimbang aset saham. Itu sebabnya kinerja SBN selama 10 tahun terakhir lebih besar ketimbang saham, apalagi dalam konteks rasio nilai rata-rata dibagi volatilitas, seperti terlihat pada tabel dibawah ini.
Budi Hikmat juga mempertimbangkan agar investor tetap bullish pada aset SBN mengingat investor asing kembali melirik aset tersebut meski sempat keluar di saat krisis. Penurunan yield SBN ini menjadi semacam prasyarat untuk rally aset saham yang lebih persisten selain ditopang faktor penguatan daya beli yang meningkatkan arus cash flow perusahaan.
Sebagai kesimpulan,mengingatkan agar setiap individu merencanakan dengan cermat masa tabur dan tuai (invest dan harvest) guna meraih kemerdekaan finansial. Kisah inklusif Nabi Yusuf dapat menjadi panduan bersama.
“Masa depan diraih melalui peningkatan produktivitas dan daya saing agar kita memiliki cadangan untuk mengantisipasi pergiliran siklus “sapi kurus memakan sapi gemuk”. Ketika mendekati masa pensiun, hindari masih memiliki utang dan berinvestasi pada aset yang tidak likuid. Selain itu, tentunya menjaga kesehatan emosional, sosial, dan spiritual,” papar Budi.
“Semasa menabur (investasi), kelola berbagai growing asset yang dananya berasal dari pendapatan bulanan dengan penuh disiplin. Manfaatkan analisis siklus bisnis yang sangat penting untuk membangun harapan cuan setiap asset class yang lebih realistis. Hindari penawaran investasi dengan return too good to be true. Sebab pasti disertai oleh risiko kehilangan pokok yang sangat besar,” tambahnya.
Jangan lupa, terapkan acuan untuk cuan untuk mengendalikan kerakusan dibandingkan menuruti kecemasan yang sekaligus menjadi dasar keputusan asset class rebalancing dimana kita mengurangi aset yang bernilai terlalu mahal (overvalued asset) dan menambah aset yang masih murah tapi berpotensi naik (undervalued asset). Manfaat surat berharga (SBN) sebagai asset terbaik untuk tujuan proteksi bahkan distribusi.