INDUSTRY.co.id, Surakarta- PT Bank Tabungan Negara (BTN) memperluas implementasi sistem electronic retribution atau e-retribusi di Pasar Klewer, setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Pasar Gede. Selain itu, sistem e-retribusi juga menjadi salah satu upaya dari misi pemerintah menjadikan kota Solo sebagai Smart City tahun 2018.

“Sistem e-retribusi mengurangi potensi fraud, aman, cepat, mudah karena pedagang cukup melakukan tapping pada mesin reader di pasar,” kata Direktur Utama Bank BTN, Maryono, saat meresmikan e-retribusi di Pasar Klewer, Surakarta, Jumat (21/4). Bagi pedagang pun, sistem e-retribusi bisa menghindarkan mereka dari pungutan lain di luar retribusi resmi yang ditetapkan pemerintah.

Peluncuran e-retribusi hasil kerjasama Bank BTN dan Pemkot Solo  dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, dan Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo di sela-sela seremoni peresmian wajah baru pasar Klewer yang pernah terbakar pada tahun 2014 silam.

Pasar Klewer sebagai pasar tekstil terbesar di Jawa Tengah mencakup setidaknya 2.639 pedagang  merupakan pasar ketiga yang menerapkan sistem e-retribusi bersama Bank BTN di Surakarta.

 Dua pasar sebelumnya adalah Pasar Gede, dan Pasar Ngudi Rejeki Gilingan, dengan jumlah pedagang masing masing 760 pedagang dan 236 pedagang, sebagian besar telah menerapkan e-retribusi .  Sistem e-retribusi direncanakan terus diperluas seiring dengan peningkatan sosialisasi dan infrastruktur di pasar.

Sementara itu, bagi Bank yang berkode saham BBTN ini, sistem e-retribusi dapat membuka akses pedagang terhadap layanan perbankan lainnya,  mulai dari transaksi perbankan, maupun pembiayaan. Dengan membuka layanan e-retribusi, jumlah nasabah BTN,  Dana Pihak Ketiga dan juga pengucuran kredit akan meningkat. “Hal ini sejalan dengan misi pemerintah untuk memperluas inklusi keuangan,” kata Maryono.

Pendekatan dengan para pedagang pasar lewat sistem e-retribusi, akan memudahkan Bank BTN memasarkan produk pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan pedagang. Salah satunya adalah KPR BTN Mikro.

Produk yang baru dirilis Februari lalu menawarkan plafon pinjaman sebesar 75 juta rupiah dengan tenor 10 tahun dan cicilan yang disesuaikan dengan kemampuan nasabah.

“Para pedagang sebagai pekerja di sektor informal bisa memanfaatkan KPR BTN Mikro untuk renovasi rumah, atau membangun tempat usaha,” kata Maryono.