INDUSTRY.co.id - Jakarta- Survei yang dilakukan perusahaan finansial multinasional Mastercard menunjukkan bahwa tingkat kesetaraan gender dalam hal kapabilitas atau pendidikan tinggi meski masih perlu pembenahan, seperti dalam partisipasi lingkungan pekerjaan.
"Penelitian Mastercard Index of Women Advancement 2017 menunjukkan adanya peningkatan bagi peranan wanita, khususnya di Indonesia, dalam hal pendidikan, dunia kerja maupun kepemimpinan," kata Direktur PT Mastercard Indonesia Tommy Singgih dalam siaran pers yang diterima Redaksi di Jakarta, Kamis (20/4/2017)
Studi Mastercard mengenai Perkembangan Wanita (Women's Advancement) 2017 yang dikeluarkan terkait dengan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April mengungkap bahwa secara umum perkembangan perempuan dalam hal peluang kerja maupun posisi-posisi kepemimpinan di Indonesia masih cenderung stagnan.
Kaum perempuan di Tanah Air dinilai juga masih mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan tetap maupun berkontribusi terhadap perekonomian sebagai pengusaha, pimpinan perusahaan maupun tokoh politik.
Indeks Women's Advancement mengukur tingkat sosial ekonomi wanita di 19 negara di Asia Pasifik dan terdiri atas tiga indikator utama yang berasal dari subindikator tambahan: kemampuan (pendidikan menengah dan pendidikan tinggi); pekerjaan (partisipasi dalam lingkungan kerja dan pekerjaan reguler); kepemimpinan (pemilik bisnis, pemimpin bisnis, dan pemimpin politik).
Skor dalam indeks itu menunjukkan proporsi wanita terhadap setiap 100 pria. Skor 100 menunjukkan kesetaraan gender. Indeks dan laporan yang menyertainya tidak mewakili kinerja keuangan Mastercard.
Dari studi tersebut diketahui bahwa di beberapa negara, termasuk Indonesia, tercatat bahwa meskipun perempuan memiliki modal pengetahuan yang baik, perempuan cenderung mengalami tantangan untuk beberapa hal berikut, seperti mendapatkan pekerjaan tetap yang stabil, memainkan peranan dalam bidang politik, menjadi pengusaha, dan meraih posisi sebagai pimpinan perusahaan.
Khususnya di Indonesia, para wanita telah memiliki akses yang baik terhadap pendidikan tingkat lanjut (33,2 persen). Namun, mereka masih kurang terwakili dalam hal partisipasi lingkungan kerja dibandingkan dengan laki-laki.
Dari 19 negara di kawasan Asia Pasifik, kesenjangan terbesar untuk tingkat partisipasi tersebut terdapat di Indonesia, tingkat partisipasi wanita mencapai 51 persen dibandingkan pria sebanyak 83,7 persen.
Selain itu, sebanyak 36,6 persen perempuan di Indonesia bekerja di sektor informal yang tidak menyediakan hak khusus, seperti asuransi kesehatan, rencana pensiun, maupun hak cuti berbayar. Hal itu juga ditemukan di negara berkembang lainnya, seperti India (14,6 persen) dan Vietnam (34,4 persen).
Di negara maju, persentase tersebut adalah 94,8 persen di Hong Kong, 90,7 persen di Jepang, dan 90,8 persen di Singapura.
"Akses merupakan hal yang sangat penting untuk melibatkan wanita dalam perekonomian dan meningkatkan partisipasi mereka terhadap dunia kerja," kata Tommy Singgih.