INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT. Bank Tabungan Negara Persero Tbk menargetkan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dapat turun 87 basis poin ke 2,47 persen di akhir tahun, dari saat ini yang sebesar 3,34 persen (gross).

Direktur Kredit Komersial BTN Oni Rahardjo di Jakarta, Senin (17/4/2017) mengatakan BTN masih melakukan restrukturisasi kredit bermasalah yang sebagain merupakan kredit lama sejak tahun lalu.

BTN juga akan memperkuat sistem internal untuk memitigasi kredit bermasalah, salah satu upayanya dengan peningkatan tenaga analis kredit tahun ini.

"Kami targetkan NPL bisa di 2,47-2,49 persen tahun ini," ujar dia.

Lini kredit konsumer atau kredit non-perumahan juga menjadi perhatian BTN. Setidaknya pada tahun ini, NPL kredit konsumer BTN ditargetkan turun dan berada di kisaran satu persen.

Sementara itu, Unit Usaha Syariah BTN mencatat kualitas pembiayaan yang lebih baik dari konvensional. Rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) di Unit Usaha Syariah BTN turun menjadi 0,95 persen per triwulan I 2017 dari 1,62 persen di periode sama tahun lalu.

"Penurunan NPF ini karena kesesuaian model pembiyaan, berdasarkan cashflow termasuk imbal jasa, jadi kita sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan nasabah, kombinasi penagihan dan restrukturisasi. Makanya NPF bisa rendah," ujar Oni.

Sementara itu Direktur Utama BTN Maryono kepada awak media menginginkan NPL dapat menurun, agar tren pertumbuhan laba yang agresif dapat terjaga. Dia menginginkan pertumbuhan laba di atas 20 persen seperti triwulan I 2017 dapat terus berlanjut di tiga triwulan sisa tahun ini.

Laba bersih BTN di triwulan I 2017 sebesar Rp 594 miliar, sementara aset yang terkumpul sebesar Rpp214,31 triliun.