Bank DBS Rilis Taksonomi Keuangan Berkelanjutan dan Transisi Pertama di Dunia

Oleh : Krishna Anindyo | Jumat, 10 Juli 2020 - 08:15 WIB

Bank DBS Indonesia (Photo by DBS Bank)
Bank DBS Indonesia (Photo by DBS Bank)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sebagai upaya DBS untuk bermitra dengan nasabah korporasi dari industri utama yang melakukan transisi menuju ekonomi rendah karbon (low-carbon economy), DBS menerbitkan Kerangka Kerja dan Taksonomi Transisi Keuangan Berkelanjutan (Sustainable and Transition Finance Framework and Taxonomy).

Kerangka Kerja dan Taksonomi Transisi Keuangan Berkelanjutan yang pertama di dunia oleh sebuah bank akan menjadi landasan untuk bekerja bersama nasabah korporasi yang sedang memperkuat agenda keberlanjutan mereka.

Taksonomi ini dimaksudkan sebagai acuan untuk memandu nasabah korporasi beradaptasi dan membangun ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, kelangkaan sumber daya dan mengatasi masalah kritis isu global seperti kesenjangan sosial.

Untuk mendorong transparansi yang lebih besar dalam kegiatan ekonomi berkelanjutan dan transisi ekonomi, taksonomi menguraikan cara DBS mengelola transaksi yang diklasifikasikan sebagai “Hijau”, “Transisi” dan/atau berkontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan PBB (UN SDGs).

Hal ini juga merangkum daftar yang luas terkait kegiatan ekonomi yang memenuhi syarat – seperti penggunaan plastik daur ulang untuk membuat pakaian, atau upgrade jaringan listrik untuk mengintegrasikan energi terbarukan yang terpisah-pisah.

“Pengenalan kerangka kerja ini menegaskan upaya bank DBS untuk memajukan pembangunan berkelanjutan dengan memfasilitasi kategorisasi, pemantauan dan pelaporan pembiayaan berkelanjutan tidak hanya di DBS tetapi juga di industri perbankan,” ujar Tan Su Shan, Group Head of Institutional Banking melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Industry.co.id pada Jumat (10/7/2020).

“Sebagai bank yang digerakkan oleh tujuan yang berkesinambungan, kami senantiasa berupaya agar bisnis kami memberikan dampak positif. Kerangka kerja ini  bukti nyata komitmen tersebut, dengan pendekatan komprehensif yang dirangkum tiga T - Transisi, Transaksi, dan Transparansi. Disamping pencapaian tujuan keberlanjutan DBSI, kami juga mendorong nasabah untuk bertransisi menuju efisiensi karbon dalam kegiatan operasional dengan mempertimbangkan keberlanjutan yang layak secara komersial,” lanjutnya.

“T” kedua adalah untuk transaksi keuangan berkelanjutan yang telah kami selesaikan. Sebagai catatan, kami membukukan dan mendapat mandat (closed and mandated) hampir 100 transaksi senilai SGD12 miliar  selama dua setengah tahun ini. “T” ketiga adalah penekanan atas transparansi. Kami terbuka untuk melakukan diskusi yang membangun terkait cara-cara mencapai pembangunan berkelanjutan sambil menciptakan nilai tambah bagi semua pihak,” tambahnya.

Dengan peluncuran taksonomi ini, DBS akan menjadi bank Singapura pertama yang menawarkan Pembiayaan Transisi (Transition Financing). DBS melakukan pendekatan ilmiah yang berhati-hati untuk mengevaluasi kualitas transisi kegiatan ekonomi dan apakah klien memiliki strategi untuk mengadaptasi bisnis guna tujuan Perjanjian Paris.

“Pembiayaan Transisi penting karena mencapai tujuan iklim memerlukan pengurangan  signifikan atas emisi karbon,” tutur Yulanda Chung, Head of Sustainability, Institutional Banking Group.

“Di banyak sektor, nasabah korporasi menyadari bahwa solusi pengurangan emisi karbon masih di tahap awal. Karenanya, solusi dengan skala yang memadai belum dapat dicapai karena kendala hambatan biaya dan teknologi,” ujarnya.

“Pembiayaan Transisi memiliki banyak interpretasi. Pada dasarnya kami tidak dapat mengabaikan nasabah korporasi yang beroperasi dalam kategori kurang ‘dark-green’ namun menjadi bagian utama ekonomi yang berperan membatasi kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat. Setiap langkah transisi menuju pengurangan  emisi karbon, seiring waktu akan membuat perbedaan  signifikan secara kumulatif,” pungkasnya.

Pelaksanaan kerangka kerja ini akan melibatkan tata kelola dan proses pelaporan yang baik untuk transparansi. Kerangka ini memperoleh masukan CICERO Green yang memberikan pandangan tentang taksonomi ini dan memberikan tinjauan  umum dan kualitatif terhadap risiko dan tujuan iklim dan lingkungan.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Pengendalian hama lewat penyemprotan

Kamis, 06 Agustus 2020 - 19:08 WIB

Wuih, Penyemprotan Basmi Hama di Tanjab Timur

Pertengahan Juli lalu petani bersama dengan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) melakukan pengamatan rutin di area pertanaman padi Desa Simpang Datuk, Kecamatan Nipah Panjang,…

Panen Padi (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 06 Agustus 2020 - 18:49 WIB

Petani Kena Pajak PPN yang Beromzet Rp4,8 Miliar

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (Kepala BKF) Febrio Kacaribu mengatakan kontribusi sektor pertanian sangat besar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, rata-rata sebesar 13%. Namun, kontribusi…

tinplate/ iluastrasi

Kamis, 06 Agustus 2020 - 18:33 WIB

Leader dalam Pasar Tinplate! Latinusa Bakal Pertahankan Pangsa Pasar di atas 60% Tahun Ini

Jakarta-Presiden Direktur PT Pelat Timah Nusantara Tbk (Latinusa) Jetrinaldi, dalam paparan publiknya, di Jakarta, Kamis (6/8/2020), mengatakan, produsen tunggal produk tinplate, PT Pelat Timah…

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita beserta jajarannya menyambangi Laboratorium Sentral SUCOFINDO yang didampingi oleh Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Bachder Djohan Buddin.

Kamis, 06 Agustus 2020 - 18:01 WIB

Menperin Sambangi Laboratorium Sentral Sucofindo, Pastikan Kapabilitas untuk Dukung Industri Nasional

Cibitung (5/8) – Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita beserta jajarannya menyambangi Laboratorium Sentral SUCOFINDO guna pastikan kapabilitas untuk dukung industri…

PERSIK Kediri FC (Foto Ist)

Kamis, 06 Agustus 2020 - 18:00 WIB

Jelang Kompetisi Liga 1, 10 Agustus PERSIK Kediri Latihan Perdana

PERSIK Kediri segera bergerak melakukan persiapan jelang lanjutan bergulirnya Shopee Liga 1 2020 pada Oktober mendatang.