INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memperkirakan terjadi penurunan laba bersih dan pendapatan sepanjang tahun ini masing-masing sekitar 25% akibat pandemi COVID-19.
"Untuk menjaga pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, BRI melakukan penyesuaian terhadap strategi perusahaan baik di sisi operasional dan bisnis," ungkap Manajemen dalam keterbukaaan informasi BEI yang dikutip, Rabu (24/6/2020).
Di masa pandemik, BRI tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan pekerja dengan mengaktifkan protokol Business Continuity Management yang menerapkan 3 Pillar of Crisis, yaitu people first, business process dan good corporate governance.
Selama masa PSBB dan penerapan kebijakan WFH (work from home), BRI juga melakukan mitigasi risiko dan meningkatkan awareness terhadap data security. Sebagai langkah antisipatif pada sisi bisnis, BRI fokus untuk melakukan selective growth yang fokus melakukan penyaluran di wilayah dan sektor yang kurang/tidak terdampak COVID-19.
BRI juga melakukan prioritasisasi program restrukturisasi kredit yang terdampak COVID-19. Dengan pembelakukan PSBB dan himbauan physical distancing, BRI menyadari bahwa terjadi perubahan pola transaksi keuangan masyarakat menjadi digital. Oleh karenanya, BRI mengandalkan layanan transaksi digital untuk kebutuhan transaksi nasabah.
Di masa PSBB, BRI harus melakukan pembatasan jam kerja operasional di kantor cabang guna menerapkan standar protokol COVID-19, dan diterapakannya program work from home bagi sebagian pegawai. Adapun, kontribusi terhadap pendapatan akibat pembatasan operasional sekitar 51-75%.
Hingga saat ini, BRI menegaskan tidak melakukan PHK pegawai, hanya penyesuaian jam kerja dan penentuan WFH dan WFO.