Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Kecewa Regulasi yang Berubah-Ubah sehingga Berdampak Buruk pada Target Investasi

Oleh : Kormen Barus | Senin, 08 Juni 2020 - 10:42 WIB

Hasanuddin,Ketua Umum ADPPI
Hasanuddin,Ketua Umum ADPPI

INDUSTRY.co.id, Jakarta-Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI) sependapat dengan Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) yang disampaikan beberapa hari lalu, bahwa hambatan dalam pengembangan panasbumi lebih disebabkan oleh ketidakpastian regulasi Sehingga target investasi panasbumi sulit tercapai, khususnya berkenaan dengan harga jual listrik.

Menurut Hasanuddin,Ketua Umum ADPPI, berkenaan dengan regulasi yang terus berubah-ubah, mengakibatkan regulasi bukannya memberikan penataan dalam mengusahaan panasbumi, malah menjadi salah satu bagian resiko dalam pengusahaan.

Dia mengatakan, Investasinya (PLTP) saja berjangka panjang (25-50 Tahun), regulasinya malah berjangka pendek, UU Panasbumi saja usianya 13 tahun; Tahun 2003 terbit (UU Nomor 27), tahun 2014 dirubah (UU Nomor 21). Begitu pula dengan tariff listrik, yang menurut UU telah diatur, malah tidak dilaksanakan, dan membuat aturan baru yang skemanya bertolak belakang dengan UU Nomor 21 Tahun 2014. "Ini menempatkan regulasi menjadi faktor resiko, bukan mengatur,"ujarnya.

Tidak hanya pada pengusahaan panasbumi untuk pemanfaatan tidak langsung (PLTP), juga dengan pemanfaatan langsung (Wisata, dlsb). Peraturan Pemerintahnya saja hingga saat ini belum terbit, sebagaimana diamanatkan UU, kini malah akan dihapus melalui UU Ciptaker..

Pengusahaan pemanfataan langsung (Wisata, dlsb) kewenangan penyelenggaran pengusahaan panasbumi untuk pemanfaatan langsung, yang semula (berdasarkan UU 21 Tahun 2014 tentang Panasbumi) dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota), kini renacananya akan diambil alih oleh pemerintah pusat. 

Padahal pada pemanfataan ini, peran pemerintah daerah justru sangat membantu dalam penyelenggaraannya, karena tidak mungkin pemerintah pusat dapat menyelenggarakan pengusahaannya secara operasional.

Semestinya, lanjut Hasanuddin, bukan diambil alih, tetapi memperkuat UU Nomor 21 Tahun 2014 dengan pemberian pendelegasian pembinaan dan pengawasan kepada pemerintah daerah, baik untuk pemanfaatan langsung maupun untuk pengusahaan panasbumi untuk PLTP.

ADPPI menduga bahwa ketidakpastian ini sengaja dibuat, untuk menghambat pertumbuhan pemanfaatan energi pansbumi sebagai energi terbarukan, dengan tetap mempertahankan sumber energi fossil atau tak terbarukan

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menlu Retno Marsudi (Foto Dok Industry.co.id)

Kamis, 29 Oktober 2020 - 14:15 WIB

Giring AS Tingkatkan Investasi, RI Tawarkan Pulau Terluar

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk memperkuat kerja sama di tengah pandemi covid-19. Sehingga, pemulihan ekonomi kedua negara semakin cepat.

Samsung Galaxy Note20 Series yang merupakan penyempurnaan Kemampuan Kerja Galaxy Note10 Series. (Foto: Samsung.com)

Kamis, 29 Oktober 2020 - 13:17 WIB

Kinerja Galaxy Note10 Series Kini Disempurnakan Samsung Galaxy Note20 Series

Jakarta - Peluncuran dua varian Samsung Galaxy Note20 Series beberapa waktu lalu menandai peningkatan kemampuan kerja sebuah perangkat phablet keluaran PT Samsung Electronics Indonesia dibandingkan…

Ahyudin, Ketua Dewan Pembina ACT/Presiden Global Wakaf bicara pentingnya pangan

Kamis, 29 Oktober 2020 - 11:50 WIB

Wakaf Perkuat Kedaulatan Pangan Masyarakat

Wakaf Pangan menjadi kekuatan energi pangan Bangsa Indonesia, dengan wakaf ini produksi pangan dapat didistribusikan ke masyarakat kecil ataupun yang mengalami bencana.

Ilustrasi Virus Covid-19 (Photo by detikNews)

Kamis, 29 Oktober 2020 - 11:15 WIB

Menekan Penyebaran COVID-19 di Masa Libur Panjang

Mengupayakan disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan untuk menekan penularan virus COVID-19, pemerintah dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia, TNI, Polisi Pamong Praja,…

Pupuk Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2020 - 09:47 WIB

Pupuk Indonesia Telah Salurkan 6,9 Juta Ton Pupuk Bersubsidi

Pupuk Indonesia mencatat, stok pupuk subsidi yang tersedia saat ini sebanyak 1,4 juta ton, terdiri dari Urea, NPK, ZA, SP-36 dan Organik. Selain itu, Perseroan pun selalu menyiapkan stok pupuk…