Platform Multi-Cloud Menawarkan Kemampuan yang Baru dan Berbeda

Oleh : Herry Barus | Sabtu, 30 Mei 2020 - 14:30 WIB

Oracle
Oracle

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sebuah penelitan baru dari Forrester Consulting, yang diinisiasi oleh Oracle, menekankan peran penting dari platform multi-hybrid cloud untuk mengumpulkan berbagai macam informasi yang memungkinkan dapat menganalisa wawasan dan menginformasikan keputusan kritis dalam bisnis.

Tantangan bisnis saat ini adalah bahwa berbagai data dan  informasi umumnya disimpan dalam berbagai sistem termasuk cloud, sehingga sulit bagi perusahaan untuk memanfaatkannya dan  menciptakan nilai lebih.

Studi yang berjudul Moving the Needle: Manajemen Data untuk Era Multi-Hibrid TI, menjelaskan bahwa 82% dari 670 pengambil keputusan senior di bidang teknologi mengakui bahwa berinvestasi dalam strategi manajemen data yang tepat dapat menghasilkan hasil bisnis yang lebih baik. Tetapi 73% mengakui bahwa mereka memiliki strategi data yang berbeda ataupun data yang terpisah-pisah yang membuat mereka sulit menyediakan data yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan bisnis.

Chung Heng, Wakil Presiden Senior, Oracle Systems, JAPAC dan EMEA dalam siaran pers, Sabtu (30/5/2020) mengatakan, “Organisasi di Asia Pasifik sedang menuju kemajuan yang kuat dalam hal menyatukan sumber data dan mendapatkan nilai lebih dari keamanan data serta persyaratan tata kelola. Tetapi penelitian ini juga mengungkapkan bahwa fokus mereka yang kuat pada bidang-bidang tertentu ini kemungkinan membuat mereka terhambat  untuk menyadari beberapa manfaat dari multi-hybrid cloud yang mereka butuhkan saat ini, disamping menyediakan akses pada kemampuan unik mereka dalam mendukung diversifikasi. Faktanya, hanya sepertiga perusahaan di JAPAC yang tampaknya berfokus pada aspek manajemen data dibandingkan dengan lebih dari dua pertiga di Eropa.  Mereka perlu memahami hidup di lingkungan multi-hybrid cloud sesegera mungkin atau dapat berisiko tertinggal. "

Seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, dengan meningkatnya kompleksitas, ditambah dengan bekerja di lingkungan TI yang berbeda, 64% responden bergulat dengan tantangan mengelola infrastruktur multi-hybrid. Jadi tidak mengherankan apabila 70% organisasi menganggap perlunya menyederhanakan proses TI mereka sebagai prioritas utama.

Satu masalah yang disoroti oleh penelitian ini adalah bahwa kekhawatiran dan fokus di sekitar keamanan data dan tata kelola data telah membatasi bisnis untuk memperoleh manfaat utama. Menurut penelitian, adopsi hosting data multi-cloud didorong oleh kebutuhan untuk diversifikasi serta akses ke dalam kemampuan unik – yaitu 6 dari 10 responden menyebutkan “mengakses teknologi atau kemampuan spesifik” sebagai driver/pendorong untuk strategi multi-cloud mereka.

Namun, meskipun 83% dari perusahaan percaya bahwa persyaratan keamanan data adalah prioritas tinggi atau kritis, ketika mereka maju di sepanjang peta jalan manajemen data mereka, setengah dari responden mengatakan mereka saat ini tidak memiliki kemampuan memadai untuk memastikan perlindungan data dan mematuhi peraturan keamanan.

Dengan adanya tantangan ini, studi ini merekomendasikan agar organisasi mencari mitra teknologi mereka untuk menyediakan platform data terpadu yang akan memberikan visibilitas pada setiap lini di seluruh lingkungan hybrid mereka, bersamaan dengan fondasi keamanan yang cukup dan juga fleksibilitas untuk memenuhi kompleksitas data saat ini dan di masa depan.

Temuan Utama

• 82% menginginkan strategi data mereka agar mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang pelanggan dan pengalaman pelanggan yang lebih baik.

• 73% dari organisasi melaporkan strategi data yang berbeda dan data terpisah (siloed) yang menghentikan mereka dari mencapai tujuan ini.

• 36% dari data masih disimpan di tempat, 19% disimpan pada cloud publik dan 18% di cloud pribadi.

• Sifat data yang dikumpulkan oleh organisasi-organisasi ini telah banyak berubah - dengan 31% bersifat tabular / terstruktur dan sisanya merupakan data non-tabular / semi terstruktur atau tidak terstruktur. Yang terakhir adalah 18% data teks dan sisanya didistribusikan secara merata di seluruh gambar / video, data yang dihasilkan mesin, data streaming, dan lainnya.

• Sektor publik dan ritel menunjukkan kematangan strategi data yang rendah: 34% sektor publik dan organisasi layanan kesehatan memiliki strategi data yang tidak lengkap.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dukungan Menuju Indonesia Cashless Society di Era New Normal

Selasa, 14 Juli 2020 - 10:15 WIB

Shopee: Pembayaran Digital Meningkat di Era New Normal

Shopee, platform e-commerce terdepan di Asia Tenggara dan Taiwan, melihat adanya peningkatan masyarakat Indonesia memilih opsi pembayaran digital dalam memenuhi kebutuhan harian secara online.

Coronavirus (ist)

Selasa, 14 Juli 2020 - 10:10 WIB

Jubir COVID-19 Yurianto: Droplet Bertahan Lama Dalam Ruangan, Cegah dengan Masker bukan Face Shield

Marak pemberitaan mengenai penularan COVID-19 melalui udara beredar ditengah masyarakat membuat juru bicara penanganan COVID-19 Achmad Yurianto angkat bicara.  Menurutnya bahwa merujuk rilis…

Bambang Soesatyo Ketua MPR RI (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 14 Juli 2020 - 10:00 WIB

Home Industri Modifikasi Otomotif Berkembang Signifikan

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong berkembangnya home industri motor dan mobil custom (modifikasi otomotif) sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif. Terlebih orang nomor satu di…

Ilustrasi kredit perbankan

Selasa, 14 Juli 2020 - 09:55 WIB

Kabar Gembira! OJK Bakal Perpanjang Restrukturisasi Kredit

Berdasarkan hasil diskusi dengan kalangan perbankan, diputuskan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperpanjang restrukturisasi kredit.

Reklamasi Teluk Jakarta (Foto Ist)

Selasa, 14 Juli 2020 - 09:50 WIB

Inilah Keheranan Ahok, Soal Reklamasi Ancol di Zaman Gubernur Anies yang Menempel dengan Darat

Jakarta, Gubernur Anies Baswedan dinilai dianggap melanggar janji kampanye karena pernah menentang dengan keras reklamasi di masa Basuki Tjahaja Purnama menjabat Gubernur DKI Jakarta.