Laba Bersih IPCC Anjlok 20,50 Persen di 2019

Oleh : Wiyanto | Jumat, 22 Mei 2020 - 12:19 WIB

Kendaraan alat berat yang akan diberangkatkan dari pelabuhan IPCC (Doc:IPCC)
Kendaraan alat berat yang akan diberangkatkan dari pelabuhan IPCC (Doc:IPCC)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dapat menjaga angka rasio marjin pada dobel digit. Sepanjang 2019, Operating Margin tercatat sebesar 24,8 persen; Net Margin sebesar 25,9 persen; dan EBITDA margin sebesar 29,8 persen. Di sisi lain, angka RoE tercatat 12,61 persen dan RoA sebesar 10,70 persen.

"Sepanjang 2019, perseroan mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp523,22 miliar atau bertumbuh 0,26 persen dibandingkan perolehan pendapatan di 2018 sebesar Rp521,84 miliar," demikian siaran pers IPCC di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Perolehan pendapatan tersebut ditopang oleh Pelayanan Jasa Terminal yang memiliki kontribusi sebesar 93,20 persen terhadap total pendapatan perseroan dimana mengalami kenaikan 0,08 persen sepanjang 2019 menjadi Rp487,64 miliar dari Rp487,25 miliar di tahun sebelumnya. Sementara itu, Pelayanan Rupa-Rupa Usaha dan Pengusahaan Tanah, Bangunan, Air, dan Listrik yang berkontribusi masing-masing 0,85 persen dan 0,53 persen terhadap total pendapatan bertumbuh masing-masing 28,87 persen menjadi Rp4,45 miliar dan 245,58 persen menjadi Rp2,80 miliar sepanjang 2019. Di sisi lain, perolehan pendapatan dari Pelayanan Jasa Barang dengan kontribusi 5,42 persen terlihat lebih rendah 6,54 persen menjadi Rp28,33 miliar dibandingkan tahun sebelumnya seiring masih rendahnya kontribusi dari pendapatan kargo alat berat dan spareparts di Terminal Internasional.

Kenaikan perolehan pendapatan dari segmen Pelayanan Jasa Terminal sejalan dengan meningkatnya kegiatan bongkar muat di Terminal IPCC, terutama pada segmen kendaraan CBU baik di Terminal Domestik maupun Internasional. Pada Terminal Domestik meningkat dengan telah pindahnya bongkar muat semua kapal roro domestik dari PTP ke IPCC. Sementara itu, pada segmen Alat Berat dan General Cargo/spareparts lebih banyak didominasi oleh kelas menengah dengan berat pada kisaran 30 hingga 50 ton/M3 sehingga kontribusi ke pendapatan masih lebih rendah dibandingkan pada segmen CBU.

Direktur Utama IPCC Ade Hartono mengungkapkan pada tahun 2019 arus bongkar muat untuk jenis alat berat mengalami penurunan di terminal internasional namun, pertumbuhan arus bongkar muat untuk CBU baik internasional dan domestik yang masih tinggi mampu mensubsitusi penurunan dari segmen alat berat. Volume Ekspor-Impor alat berat memang turun 40,89% namun, untuk ekspor impor CBU naik 18,44%; volume CBU domestik juga naik 115,58%. "Jadi karena porsi CBU paling besar terhadap pendapatan, kami masih membukukan kenaikan tipis pada pendapatan, ungkap Ade," kata dia di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, beban pokok pendapatan sepanjang 2019 mengalami kenaikan 12,41 persen menjadi Rp305,58 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp271,84 miliar. Kenaikan beban ini ditopang oleh sub beban Tenaga Kerja dengan total Rp102,02 miliar atau naik 15,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp88,56 miliar; berikutnya sub beban Sewa sebesar Rp77,87 miliar atau naik hanya 1,11 persen dari sebelumnya sebesar Rp77,01 miliar; lalu sub beban Kerjasama Mitra Usaha naik 18,35 persen dari Rp64,28 miliar di tahun sebelumnya menjadi Rp76,07 miliar sepanjang 2019; dan sub beban lainnya. Adapun peningkatan cukup signifikan terjadi pada sub beban Penyusutan yang naik 134,12 persen menjadi Rp21,80 miliar sejalan dengan adanya penambahan aset untuk mendukung jalannya oeprasional.

Meski terjadi peningkatan beban namun, perseroan tetap mampu mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp135,30 miliar sepanjang 2019. Angka tersebut terlihat lebih rendah 20,50 persen dibandingkan perolehan 2018 sebesar Rp170,19 miliar. Begitupun dengan angka EBITDA yang terlihat lebih rendah 19,78 persen menjadi Rp155,92 miliar dibandingkan Rp194,37 miliar pada 2018. “Di tahun 2020 ini selain dari rencana pengembangan, diantaranya implementasi Automatic Gate System IPC Car Terminal, kerjasama dengan para PBM, tindak lanjut pengoperasioan Pelabuhan Patimban, dan lainnya kami juga sangat fokus untuk melakukan efisiensi pada biaya dimana mulai tahun ini kami sudah mulai menerapkan modul budget control di sistem keuangan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan akan ter-manage dengan baik tambah Ade.

Di tempat lain, perseroan mencatatkan peningkatan aset sebesar 0,77 persen menjadi Rp1,26 triliun dibandingkan tahun lalu sebesar Rp1,25 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan adanya tambahan aset seiring aksi pembelian aset yang dilakukan perseroan untuk menunjang operasional. Tercatat, aset tetap bertambah 40,84 persen sepanjang 2019 menjadi Rp354,39 miliar dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar Rp251,63 miliar. Posisi kas IPCC di tahun 2019 juga semakin kuat dengan raihan kas operasional di tahun 2019 sebesar Rp162,78 milar dari posisi sebelumnya di periode yang sama dengan kondisi minus Rp129,62 miliar. Sementara itu, liabilitas perseroan meningkat 26,25 persen menjadi Rp191,60 miliar dari Rp151,77 miliar di tahun lalu seiring masih adanya kewajiban perseroan berupa Beban Akrual dan Utang Dividen yang masing-masing berjumlah Rp53,64 miliar dan Rp63,41 miliar.

Meski terlihat adanya penurunan kinerja sepanjang 2019 seiring imbas belum sepenuhnya pulih industri komoditas, infrastruktur, maupun perkebunan dimana pada kondisi normal dapat memberikan kontribusi yang sangat besar dengan adanya penumpukan alat berat di terminal IPCC namun, perseroan masih dapat memberikan kinerja yang positif. Hal ini tidak terlepas dari komitmen dan misi perseroan untuk memberikan dan memaksimalkan nilai tambah kepada para stakeholder dan juga kepada pemegang saham IPCC untuk terus berupaya memberikan kinerja yang positif secara berkesinambungan (continuous positive growth). Tahun 2020, tentu menjadi tahun yang berat tidak hanya bagi domestik tapi juga global dengan adanya pandemi Covid-19 yang dipastikan akan menggerus pertumbuhan ekonomi cukup signifikan baik ekonomi domestik dan global. Namun kami bersyukur di kuartal I -2020 , IPCC masih membukukan pertumbuhan volume arus bongkar muat untuk ekspor impor di CBU. Sementara untuk alat berat, ekspor impor masih melambat, namun penurunannya mulai mengecil. Arus bongkar muat untuk domestik baik CBU dan Alat Berat masih dalam trend kenaikan yang besar. Kalau melihat performa segmen CBU masih bisa tumbuh sampai kuartal I 2020, dan besaran penurunan di alat berat yang lebih rendah, kami berharap bisa mempertahankan performa kami, sehingga potensi dari usaha efisiensi biaya yang telah kami lakukan akan memberikan peningkatan kualitas pada kinerja kami, tutup Ade.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ambulans

Senin, 25 Mei 2020 - 07:45 WIB

Nekat, Wanita Ini Sewa Ambulans untuk Mudik

Kepolisian di Tabanan, Bali, berhasil menghentikan aksi seorang ibu dan anaknya yang nekat menyewa mobil ambulans untuk mudik ke Jember, Jawa Timur.

Para pemudik lebaran yang hendak pulang kampung (ist)

Senin, 25 Mei 2020 - 07:08 WIB

Jubir COVID-19: Pemudik Jangan Kembali ke Jakarta Dulu

“Pahami, bahwa dalam situasi yang saat ini terjadi, kita tidak boleh menggunakan cara pikir, cara tindak, seperti situasi di masa-masa lalu. Inilah yang kemudian beberapa kali pemerintah,…

Perjalanan Bisnis Akim dari Penjual Nasi Liwet Ke Suplier Scrab

Senin, 25 Mei 2020 - 07:00 WIB

Perjalanan Bisnis Akim dari Penjual Nasi Liwet Ke Suplier Scrab

Semula Akim menekuni penjual nasi liwet, namun wanita asal Solo ingin meningkatkan penghasilan dengan mencoba peluang baru dibidang Suplier Scrab

Menkeu Sri Mulyani (Foto Dok Industry.co.id)

Senin, 25 Mei 2020 - 06:00 WIB

DRP Nilai Menkeu Sri Mulyani Tak Hormati Kesepakatan Politik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkirim surat kepada DPR RI untuk mengonsultasikan kebijakannya yang belakangan banyak dikritik kalangan legislator di Parlemen, terutama Komisi XI DPR…

Bintara Marinir Sidoarjo Tingkatkan Ketahanan Pangan dengan Teknik Hidroponik

Senin, 25 Mei 2020 - 04:00 WIB

Bintara Marinir Sidoarjo Tingkatkan Ketahanan Pangan dengan Teknik Hidroponik

Dalam rangka peningkatan ketahanan pangan, Bintara Tidur Dalam Yonif 3 Marinir bercocok tanam menggunakan teknik Hidroponik dan Aquaponik di Mess Bintara Yonif 3 Marinir Gedangan, Sidoarjo,…