INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode maret 2017 sebesar 99,95 atau turun 0,38 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,39 persen lebih besar dari penurunan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,01 persen.
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani diperdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan daya beli petani.
“NTP Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan terbesar jika dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya, yaitu sebesar 1,37 persen. Sedangkan NTP Provinsi Papua Barat mengalami kenaikan tertinggi, yaitu sebesar 0,58 persen,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto di Jakarta (3/4/2017).
Sedangkan pada maret 2017, terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,10 persen, disebabkan oleh turunnya dua dari tujuh kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga. Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi atau deflasi perdesaan.
Dari 33 provinsi yang dihitung IKRT-nya pada periode Maret 2017, 9 provinsi mengalami deflasi, sedangkan 24 provinsi mengalami inflasi.
“Provinsi aceh mengalami deflasi tertinggi sebesar 0,78 persen, sedangkan Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tertinggi, yaitu sebesar 0,73 persen,” tutupnya.