INDUSTRY.co.id, Sape NTB- Sekitar 30 an warga NTT masih tertahan dan terlantar di Pelabuhan Sape, NTB. Berdasarkan keterangan Florianus Pangkal, salah seorang dari 30 warga NTT yang masih tertahan di Sape NTB, seperti dirangkum dari laman SorotNTT.com, bahwa mereka tidak diizinkan oleh Pemerintah Provinsi NTT untuk menyeberang ke Labuan Bajo Flores atau masuk wilayah NTT.

“Penumpang tidak diizinkan untuk menyeberang oleh Pemprov NTT”, tulis Florianus Pangkal via pesan handphone pada Jumat (24/4/2020).

Florianus Pangkal, mengatakan, di tengah ketidakpastian yang mereka alami, Pemerintah Provinsi NTT sepertinya  menutup mata. Padahal untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka harus memenuhinya sendiri tanpa ada yang membantu.

“Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang ke 30 warga NTT masih berkumpul di ruang tunggu Pelabuhan Sape. Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk menghubungi pihak-pihak tertentu. Namun, sampai saat ini belum ata tanggapan yang memadai. Tidak ada bantuan dari pemerintah NTT, lebih khusus untuk kebutuhan kami. Kami menginap di terminal, tidur langsung di lantai, tanpa ada alas tidur.” ujar Florianus seperti di tulis SorotNTT.

Pemuda asal Manggarai itu berharap mereka segera diizinkan untuk dapat lewat dan kembali ke daerah mereka masing-masing. Mereka juga bersedia untuk mengikuti segala pengecekan terkait Covid-19 dan karantina.

“Harapannya kami bisa melakukan penyeberangan Sape-Labuan Bajo. Semoga pemerintah memberikan izin dan dibuka peluang untuk penumpang dan kendaraan roda dua yang akan ikut menyemberang ke Labuan Bajo, lanjutnya

Seperti diberitakan, sejak diberlakukan aturan baru yang dikeluarkan pemerintah terkait pelarangan segala bentuk pelayaran dan penerbangan. Florianus  sangat mengharapkan agar nasib ke 30 penumpang Kapal itu segera dipastikan oleh Pemerintah Provinsi NTT atau daerah masing-masing.

Pelarangan Pemprov ini sebagai tindak lanjut dari imbauan pemerintah pusat hingga daerah untuk tidak mudik. Banyak orang harus membatalkan rencana ke daerah tujuannya, termasuk juga orang-orang yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya atau untuk mengunjungi sanak-keluarganya di kampung.