INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan berpotensi melemah dan bergerak pada kisaran 5.519-5.618 pada perdagangan Jumat (31/03/2017). Hal itu tampaknya bakal terjadi setelah IHSG mampu memantapkan tren kenaikan sejak dua pekan terakhir ini di tengah berlanjutnya aliran dana masuk (capital inflow) ke Indonesia.
“Sejauh ini IHSG masih bergerak pada fase konsolidasi yang wajar dengan titik support di posisi 5.519 dan titik resistensi terdekat di posisi 5.618,” ujar William Suryawijaya, analis Asjaya Indosurya Securities, di Jakarta, Jumat (31/03/2017).
William mengemukakan, momentum penurunan IHSG pada hari ini masih dapat terus dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental yang kuat serta mempunyai likuiditas yang cukup.
“Keputusan pelaku pasar untuk mengakumulasi di saat koreksi adalah hal yang wajar dan merupakan pilihan yang tepat karena aliran dana masuk ke pasar modal Indonesia saat ini sedang berlangsung,” papar William.
Kondisi tersebut, demikian William, ditopang oleh munculnya pengumuman data perekonomian pergantian bulan yang diperkirakan masih dapat terkendali menjelang pergantian bulan. Hal tersebut diyakini dapat menopang pergerakan IHSG kedepan. Dengan demikian, kendati IHSG berpotensi melemah pada perdagangan hari ini, tetapi laju pergerakannya tetap berpotensi untuk melanjutkan kenaikan.
Hal serupa dikemukakan oleh Yuganur Wijanarko, analis PT KGI Sekuritas Indonesia. Yuganur berpendapat kendati pergerakan IHSG saat ini sudah masuk ke fase jenuh beli (overbought), tetapi hal itu tidak akan mempengaruhi tren kenaikan jangka pendek.
Karena itu, Yuganur memprediksi IHSG pada perdagangan hari ini akan terus melanjutkan pola kenaikannya menuju titik resistensi terdekatnya di level 5.620. Sementara itu, demikian Yuganur, titik support IHSG saat ini berada di level 5.490.
Menurut Yuganur, kondisi jenuh beli itu terjadi karena IHSG yang mengalami reli kenaikan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir tidak memicu aksi ambil untung (profit taking) yang seperti biasanya dilakukan oleh para pelaku pasar yang mengkhawatirkan kondisi perkembangan ekonomi di luar Indonesia.***