Gawat, Industri Manufaktur RI Kian Kritis

Oleh : Ridwan | Rabu, 19 Februari 2020 - 14:22 WIB

Ilustrasi Industri Manufaktur (Foto: Ridwan/Industry.co.id)
Ilustrasi Industri Manufaktur (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kinerja industri manufaktur Indonesia terus mengalami pelemahan. Data-data terkini menunjukkan terjadinya perlambatan pertumbuhan yang cukup serius. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan industri pengolahan terus mengalami perlambatan sejak dua tahun terakhir. Sepanjang tahun lalu, industri manufaktur hanya mencatatkan pertumbuhan produksi 3,8% yeay on year (yoy), turun dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 4,62%.

Penurunan ini dipicu lemahnya kinerja beberapa sektor manufaktur antara lain, industri peralatan listrik turun 17,08%, industri logam dasar turun 15,41%, dan industri alat angkut lainnya turun 3,89%. 

Untungnya, penurunan tidak terlalu dalam karena beberapa subsektor industri manufaktur besar dan sedang masih mencatatkan pertumbuhan. Industri percetakan dan reproduksi media rekaman tercatat tumbuh paling tinggi sebesar 19,58%. sementara, industri pakaian tumbuh 18,51%, diikuti industri minuman 17,11%, industri furniturn 6,63%, dan industri pengolahan lainnya 6,42%.

Pertumbuhan beberapa sektor tersebut menopang pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang pada tahun 2019 yang naik 4,01% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Melemahnya performa sektor manufaktur secara keseluruhan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 2019. Pasalnya, sektor ini menyokong produk domestik bruto (PDB) Indonesia sangat besar dan menyerap paling banyak jumlah pekerja dibanding sektor lain.

Dengan pertumbuhan yang melambat otomatis daya dorong manufaktur ke PDB juga semakin kendor. Terbukti, sepanjang tahun lalu, BPS mencatat kontribusi manufaktur ke PDB hanya 19,70%. Sumbangan tersebut turun dibandingkan tahun 2018 sebesar 19,86%. Bisa dibilang, kontribusi tersebut adalah yang terendah sejak 2014 yang sempat tercatat sebesar 21,26%.

Dengan rendahnya sumbangan ke PDB, tak heran jika pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun lalu turut mengalami perlambatan. Berdasarkan catatan BPS, pertumbuhan ekonomi periode tersebut hanya 5,02%. Angka tersebut melambat dari pertumbuhan 2018 yang masih menyentuh angka 5,17%.

Celakanya, perlambatan sektor manufaktur diprediksi masih berlanjut hingga akhir tahun 2020, Hal itu teridentifikasi dari data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis IHS Markit. IHS Markit mencatat, PMI manufaktur Indonesia bulan Januari 2020 di level 49,3. Posisi ini turun dari periode Desember 2019 yang nberada di level 49,5. Angka tersebut sudah dibawah batas aman 50. Kondisi itu menunjukkan manufaktur Indonesia kian memasuki masa kritis.

PMI menjadi salah satu alat untuk melihat kondisi manufaktur. Jika suatu negara memiliki nilai PMI di atas 50, maka bisa dikatakan industri manufaktur di negara bersangkutan tengah tumbuh atau ekspansi. Sebaliknya, apabila PMI di bawah 50, maka ada indikasi industri manufaktur sedang mengurangi produksi, dan ekspansi juga terbilang minim.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, industri manufaktur RI tengah tertekan akibat rendahnya permintaan dari negara tujuan ekspor utama seperti China dan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, efek perang dagang membuat permintaan produk seperti elektronik, otomotif turun sangat tajam. 

"Tak hanya itu, perlambatan konsumsi khususnya kelas menengah dan atas di dalam negeri membuat penjualan produk manufaktur melambat," kata Bhima saat dihubungi Industry.co.id di Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Lebih lanjut, Bhima menjelaskan, ada banyak faktor utama yang mempengaruhi lemahnya sektor manufaktur di dalam negeri antara lain, permasalahan arah kebijakan pajak, menurunnya pendapatan di sektor komoditas, dan lebih terjangkaunya harga barang impor dibanding produk lokal.

Dari sisi dayan saing, kata Bhima, Indonesia belum mampu memanfaatkan celah perang dagang dan bersaing dengan Vietnam. Namun, lanjutnya, masih ada solusi untuk meningkatkan kembali sektor manufaktur di dalam negeri antara lain, menurunkan biaya logistik dan energi (harga gas industri), insentif perpajakan harus tepat sasaran, menjaga daya beli khususnya kelas menengah dan meningkatkan confidence kelas atas, serta memproteksi terhadap banjirnya produk impor terutama dari China.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana. Ia melihattren perlambatan manufaktur akan terus berlanjut. "Itu terlihat dari pesimisme kalangan dunia usaha dan adanya upaya koreksi APBN pemerintah 2020," kata Danang.

Bukan hanya soal perang dagang lagi, tapi juga soal kekawatiran dunia pada merebaknya virus corona. Ini akan secara langsung mempengaruhi target-target perdagangan dan pariwisata serta industri penunjangnya, seperti transportasi dan logistik.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengakui bahwa industri manufaktur tengah mengalami tekanan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari perekonomian global yang sedang melambat. 

Namun demikian, ia melihat ke depan industri manufaktur masih memiliki potensi untuk terus bertumbuh. Salah satunyas ditopang hilirisasi industri minyak sawit (crude palm oil/CPO) melalui program mandatori biodiesel di dalam negeri. Selain itu, Kemenperin juga terus berupaya mengurangi ketergantungan industri farmasi dan industri kimia terhadap impor bahan baku. "Akan kita kurangi dengan mengundang investasi sebanyak mungkin," terang Sigit. 

Untuk membangkitkan gairah manufaktur, Kemenperin juga terus mengupayakan penurunan  harga gas industri. Ia mengakui, persoalan ini cukup pelik karena melibatkan banyak instansi lain. Namun, ia berjanji, pihaknya akan terus mengupayakan penurunan harga gas industri tersebut sesuai Perpres Nomor 40 Tahun 2016 yaitu sebesar US$ 6 per MMBTU.

Bila rencana tersebut terealisasi, kata Sigit, maka akan memberikan nilai tambah bagi industri yang cukup besar. "Kalau input sektor industri berkurang, maka kapasitas dan utilisasi naik, sehingga outputnya juga turut naik," tutup Sigit.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

On Robot

Selasa, 07 April 2020 - 22:25 WIB

OnRobot Soft Gripper Brings Highly Flexible, Food-Grade-Certified Handling to Challenging Pick-and-Place Applications

The new OnRobot food-grade Soft Gripper is able to pick a wide array of irregular shapes and delicate items in food and beverage, cosmetics and pharmaceuticals production, as well as manufacturing…

Atal Depari Ketum PWI

Selasa, 07 April 2020 - 22:15 WIB

Lindungi Wartawan, Ketum PWI Atal Depari: Panduan Peliputan Wabah Covid-19 Berlaku Mulai Rabu 8 April 2020

Wartawan yang akan meliput wabah Covid-19 harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai Covid-19. Selain itu wartawan yang sedang dalam status diduga atau dalam pengawasan penyakit Covid-19…

Prajogo Pangestu

Selasa, 07 April 2020 - 21:36 WIB

Tambah Rp10 miliar, Total Gelontoran Sumbangan Covid-19 Prajogo Pangestu Capai Rp40 miliar

Prajogo Pangestu, Founder dan Chairman Barito Pacific Group kembali menyalurkan bantuan untuk penanganan pandemi COVID-19 sebesar Rp 10 Miliar. Bantuan dikirimkan ke Yayasan BUMN Hadir Untuk…

Kuehne + Nagel

Selasa, 07 April 2020 - 21:05 WIB

Kuehne + Nagel launches eShipAsia to meet the logistics needs of Intra-Asia shippers

Kuehne + Nagel launches eShipAsia – an online logistics platform enabling Intra-Asia shippers to optimise every shipment based on the route, transit time and cost instantly.

Bambang Widjojanto: Aktivis Hak Azasi (Foto Dok Berita Satu)

Selasa, 07 April 2020 - 21:00 WIB

Janji Keadilan untuk Pak Ketua MA Baru

Selamat dan sukses kepada DR. M. Syarifuddin yang sudah terpilih sebagai Ketua MA menggantikan DR M. Hatta Ali yang memasuki usia pensiun.