INDUSTRY.co.id, Jakarta-PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) perusahaan yang bergerak dalam bidang pengembangan gudang modern, tahun 2020 menargetkan pertumbuhan pendapatan yang lebih besar dari tahun ini yaitu di atas Rp250 miliar. Hal itu dimungkinkan bisa tercapai lantaran tahun depan tarif sewa pergudangan modernnya mengalami kenaikan.
Head of Corporate Finance & Investor Relations MMLP, memaparkan, nilai aset perseroan saat ini telah mendapatkan apresiasi sehingga diharapkan bisa menggenjot revenue dan ebitda di tahun depan. Untuk pergudangan yang saat ini dikelola oleh MLLP sebanyak 9 unit yang tersebar di berbagai lokasi.
“Ya jumlah tersebut termasuk gudang yang baru saja selesai dibangun,”ujarnya di Hotel Santika, Kawasan Green Terace, TMII, Jakarta, Jumat (19/12/2019)
Dari sisi kinerja, Asa menyebut, perseroan telah membukukan kinerja positif hingga kuartal III 2019. Tercatat pada periode tersebut perusahaan mampu membukukan revenue sebesar Rp245,02 miliar. Capaian ini tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (year on year).
Untuk tahun depan, lanjut Asa, faktor selain penambahan dua gudang (gudang baru) juga karena ada kenaikan rental yang sudah berjalan. Pendapatan kira - kira di atas 250 miliar. Untuk sewa yang naik semuanya. Sejauh ini, lanjut Asa, untuk nilai aset MLLP hingga periode sembilan bulan lalu sebesar Rp6,68 triliun atau naik 15,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp5,8 triliun. Sementara itu untuk utang juga tumbuh tinggi yaitu 69,4 persen dari Rp473,18 miliar menjadi Rp801,44 miliar. "Pertumbuhan utang memang cukup tinggi tapi kalau dibandingkan dengan equity masih sangat aman. Ekuitas kita sebesar 6,9 persen atau Rp4,12 triliun," ujarnya.
Menurut Asa Siahaan, dalam menghadapi persaingan gudang yang semakin ketat, MMLP telah mengembangkan berbagai inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tenant untuk menjaga kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Pada periode III 2019, MMLP juga membukukan pertumbuhan Ebitda yang sama yaitu 11,3 persen dari Rp166,72 miliar menjadi Rp185,55 miliar. Kemudian untuk nett income sebesar Rp124,67 miliar atau tumbuh 61 persen dari sebelumnya Rp77,42 miliar.
Menurut Asa, perseroan tumbuh karena dari space gudang yang disewakan dari 2014 hingga saat ini yang terus membaik. Kalau CAGR kita tumbuh 15 persen lebih juga ebitda tumbuh baik. Selama sembilan bulan kemarin ebitda kita hampir Rp186 miliar.
“Tahun ini ada beberapa gudang yang mengalami kenaikan biaya rental atau penyewaan. Hal tersebut yang membantu mendorong pertumbuhan EBITDA di tahun 2019 ini,”ujarnya.
Lakukan Skema recycle.
Asa menjelaskan juga, MMLP pada tahun depan berencana menaruh investasi pada aset eksisting mereka melalui skema recycle. Dimana, recycle merupakan bentuk investasi ulang pada aset perusahaan. Hasil pendapatan dari strategi ini, nantinya akan dialirkan untuk mendanai proyek baru mereka.
MMLP akan menciptakan ekosistem untuk efisiensi kapital melalui strategi ini. Di tahap awal, ada 4 aset yang akan kami monetisasi. Total valuasi dari aset tersebut mencapai Rp 2 triliun," jelas Asa saat ditemui di Jakarta Timur, Jumat (20/12).
Aset yang akan di monetisasi tersebut adalah Gudang Unilever Mega DC, Li & Fung Warehouse, Intirub Business Park, dan Selayar Warehouse. Semua aset tersebut berada di kawasan MM2100, Bekasi.
Selain kawasan MM2100, emiten penyedia jasa gudang penyimpanan tersebut memiliki total 9 aset yang tersebar di daerah lain, yakni Delta Silicon III di Cikarang, lalu Intirub Business Park di Halim Cililitan, Warehouse Block AE, Warehouse Lazada di Depok, Cibatu Warehouse di Jababeka, dan Cileungsi Warehouse di Cileungsi.
Menilik laporan keuangan perseroan per September 2019, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini mengantongi peningkatan pendapatan dan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk.
Pendapatan meningkat 11,30% di angka Rp245,02 miliar dari Rp220,13 miliar pada kuartal III 2018. Adapun laba bersih yang diatribusikan melesat 61% menjadi Rp124,67 miliar dari hanya Rp77,42 miliar.
Peningkatan ini dikontribusikan oleh Warehouse Block AE yang terisi penuh serta meningkatnya okupansi warehouse Cileungsi Warehouse menjadi 37%. Pada periode yang sama tahun lalu, okupansi Cileungsi Warehouse hanya 28%.