Gelar Konferensi Internasional, STEI Dorong Dosen Tingkatkan Kualitas Penelitian

Oleh : Hariyanto | Sabtu, 09 November 2019 - 13:45 WIB

STEI Dorong Dosen Tingkatkan Kualitas Penelitian
STEI Dorong Dosen Tingkatkan Kualitas Penelitian

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Gelar International Conference On Business Economy And Social Science 2019 (ICBESS) Ke-6,  Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) berupaya keras mendorong akademisi meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian. Pasalnya, kewajiban melakukan penelitian dan publikasi menjadi salah  satu ketentuan penerimaan tunjangan sertifikasi dosen. Apalagi penelitian tersebut berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Di era Industri 4.0 seperti sekarang ini, tentu banyak kemajuan khususnya di bidang digital yang memengaruhi sistem bisnis modern. Saya pribadi berharap konferensi ini dapat menghasilkan metode baru di bidang bisnis, ekonomi dan sosial yang dapat digunakan untuk membantu kinerja pemerintah," kata Anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Harry Azhar Aziz saat menjadi keynote speaker  Forum Ilmiah dan Konferensi Internasional ICBESS yang digelar STEI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (6/11/2019)

Menurut Harry yang juga dikenal sebagai ahli ekonomi dan juga politisi ini bahwa peran ilmu sosial ternyata tidak bisa lepas dari ilmu ekonomi dan  bisnis. Begitupun sebaliknya. "Pertumbuhan bisnis dan ekonomi dalam konteks ilmu sosial tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, tapi sedemikian rupa harus bermanfaat bagi rakyat banyak, khususnya masyarakat di Indonesia," tuturnya.

Dia mendorong para pengajar yang hadir dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang berdampak bagi metode, baik itu dalam lingkup bisnis maupun ekonomi, terutama ilmu-ilmu sosial. "Ternyata ilmu sosial tidak bisa lepas dari ilmu ekonomi dan ilmu bisnis. Entitas bisnis lama banyak yang mati, tapi entitas bisnis baru juga banyak yang tumbuh," ungkap Ketua BPK RI periode 2014-2019 ini

Pertanyaanya,  lanjut dia,  seberapa besar entitas bisnis-bisnis yang baru itu bisa merekrut sebanyak-banyak lapangan pekerjaan. Artinya, salah satu target pembangunan yakni pengurangan angka pengangguran di era digitalisasi sekarang ini bisa teratasi.

"Maka saya juga berharap forum ilmiah dan konferensi internasional ini diharapkan menghasilkan pemikiran-pemikiran dan model-model penelitian baru dengan tujuan menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul," tandasnya.

Harry mengingatkan para peneliti yang hadir pada event internasional itu atas komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) bervisi menciptakan  sumber daya manusia yang unggul, tidak bisa tidak, level-level pekerjaan skill profesional itu harus di maping sedemikian rupa agar diketahui berapa major force yang dibutuhkan sehingga apa yang dihasilkan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini betul-betul bisa padu dengan perkembangan teknologi dan informasi.

"Ini kesempatan emas bagi para peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang dibutuhkan bangsa. Baik dari ilmu akutansi, bisnis, ekonomi dan sosial," katanya.

Senada dengan Anggota BPK RI Harry Azhar Aziz, Ketua STEI Ridwan Maronrong memastikan bahwa konferensi ini ingin mendorong para dosen untuk menghasilkan publikasi internasional yang outputnya dapat dipublikasikan di jurnal internasional. Baik itu penelitian terkait manajemen dan akutansi.

"Penelitian yang dilakukan sekarang bisa menghasilkan inovasi-inovasi baru yang berkaitan dengan 4.0.  Yang kemudian bisa menjadi jalan keluar. Bisa menjawab tantangan yang terjadi dan bisa memberi jawaban jitu ke depan," tuturnya.

Apalagi, kata Ridwan, konferensi tersebut juga dihadiri  universitas-universitas dari dalam dan luar negeri. Semuanya bekerjasama untuk menggali pemikiran-pemikran dalam rangka memberi masukan ke pemerintah dan  dalam hal pengembangan ilmu, terutama akutansi dan manajemen.

"Kita tentu berharap terjadi kolaborasi kegiatan yang menghasilkan penelitian terutama model akutansi yang dapat membantu usaha kecil menengah dan mikro yang selama ini bisa digunakan di perusahan-perusahaan maju," katanya.

Ridwan menambahkan, ke depan semua pesera menginginkan terciptanya sistem model-model akutansi yang baik, baru, bisa diduplikasi dan bisa menjadi jawaban kebutuhan bangsa.

"Konferensi ini untuk saling menguatkan tentang standar akutansi dari pemikiran perguruan tinggi dalam era Revolusi Industri 4.0 pastinya,"jelas Ketua STEI Ridwan Maronrong.

Pada bagian lain Ridwan menyebut penemuan-penemuan dan perkembangan pada ilmu ekonomi, bisnis, dan sosial khususnya yang dihasilkan oleh para akademisi baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri belum banyak yang disampaikan kepada masyarakat luas. Padahal banyak yang bisa dipelajari dari temuan-temuan yang berasal dari hasil penelitian yang dihasilkan. Sekaligus secara tidak langsung membangun budaya akademisi yang positif yaitu saling berbagi dan mendiskusikan hasil-hasil penelitian.

Sejak beberapa tahun terakhir, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia ini telah berperan aktif mendukung kebijakan Kemenristekdikti. Berbagai kegiatan pendidikan, penelitian dan seminar yang berkaitan dengan
Ilmu Ekonomi, Bisnis, dan Sosial telah dilaksanakan dengan baik di tingkat lokal maupun nasional.

Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan wahana untuk mengembangkan sekaligus mengkomunikasikan berbagai penemuan dan perkembangan ilmu-ilmu tersebut kepada masyarakat, pemerintah, swasta, BUMN, pemerhati dan penggunanya.

STEI sebagai lembaga pendidikan tinggi telah ikut berperan serta mencerdaskan kehidupan masyarakat sejak 1969 dan hingga sekarang telah meluluskan mahasiswanya sebanyak lebih dari 22.500 alumni.

Saat sekarang, STEI telah memiliki kurang lebih 5000 mahasiswa aktif yang menobatkannya  menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang terbesar di Indonesia. Fakta ini menjadi bukti bahwa STEI telah dan akan terus mencari cara untuk mengembangkan dan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Forum Ilmiah yang berkesinambungan setiap tahunnya, yaitu ICBESS. ICBESS diikuti oleh kampus dari berbagai negara yakni; Indonesia, Malaysia, Australia, Maroco, Thailand, Timor Leste dan Korea Selatan.

Sementara itu kampus yang ikut dalam ICBESS ke 6 yakni :
University of Wollonggong Australia, Africa Business School, University Teknologi MARA, Mohammed VI University, Universitas Terbuka, Trisakti School of Management, IPMI International Business School, Universitas Mercu Buana, STIE Sakti Alam Kerinci, Ikatan Akuntan Indonesia, STIE Kasih Bangsa, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dan Universitas Pancasila.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Petani desa di tengah sawah (Foto: Dok Industry.co.id)

Minggu, 19 Januari 2020 - 17:29 WIB

Di Forum Mentan Sedunia, SYL Bawa Tiga Misi Indonesia untuk Pangan

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat ini berada di Berlin, Jerman. Mentan menghadiri Global Forum Food and Agriculture 2020, sebuah forum pertemuan dua tahunan Menteri pertanian sedunia.…

Fintech payment aplikasi Cashbac

Minggu, 19 Januari 2020 - 17:19 WIB

Cashcab Keuntungan Lebih Untuk Pelanggan Standard Chartered Bank

Cashbac kembali menghadirkan promo ‘Tanggal Tua Rasa Muda’ yang memberikan kesempatan para pengguna untuk berhemat bagi para penggunanya tanpa perlu mengkhawatirkan akhir bulan dan tetap…

Menghadapi Era Experience Economy Bersama SAMARA Media & Entertainment

Minggu, 19 Januari 2020 - 16:00 WIB

Menghadapi Era Experience Economy Bersama SAMARA Media & Entertainment

Saat ini, dunia industri sedang berada di era Experience Economy, dimana konsumen kini tidak lagi hanya menginginkan barang atau jasa, tapi juga menjadikan pengalaman sebagai bagian penting…

Ilustrasi video jurnalistik

Minggu, 19 Januari 2020 - 15:49 WIB

Konten Video Bisa Jadi Sarana Dakwah

Divisi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Ummat TV menggelar Pelatihan Videografer Dakwah di Kantor Redaksi Ummat TV, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu-Ahad (18-19/01/2020).

Pelecehan Seksual (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 19 Januari 2020 - 15:45 WIB

Reynhard Sinaga Predator Seksual Baru Diungkap Setelah Vonis Bersalah, Mengapa?

Reynhard Sinaga (36), sebagai 'predator seksual setan'. Baru diungkap 6 Januari 2020 kepublik, padahal sidang perkara dia di Pengadilan di Inggris sejak Juni 2018. Media Mainstrem sana memegang…