Universal Robots, Masa Depan Proses Produksi dengan Robot Kolaboratif

Oleh : Herry Barus | Rabu, 16 Oktober 2019 - 19:00 WIB

Universal Robots, Masa Depan Proses Produksi dengan Robot Kolaboratif
Universal Robots, Masa Depan Proses Produksi dengan Robot Kolaboratif

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Universal Robots (UR), produsen robot kolaboratif (cobot) yang paling tepercaya dan digunakan secara luas di seluruh dunia, membantu Vinacomin Motor Industry Joint Stock Company (VMIC), anak perusahaan Grup Vinacomin yang juga raksasa batu bara dan pertambangan milik pemerintah Vietnam, untuk siap menuju masa depan produksi dengan robot kolaboratif (collaborative robot/cobot).

VMIC, salah satu BUMN pertama yang menggunakan cobot, telah melihat peningkatan produktivitas dua hingga tiga kali lipat, serta membaiknya kualitas produk yang memicu kenaikan pesanan hingga 50 persen.
Darrell Adams, Head of Southeast Asia & Oceania, Universal Robots mengatakan, “Cobot terus memberi manfaat besar bagi bisnis di Asia Tenggara dalam mengubah proses manufaktur dan tetap kompetitif. VMIC contohnya, sudah mengotomatisasi proses yang dulu sangat manual, hingga kini bisa menikmati produktivitas tinggi dan kualitas hasil yang lebih baik.

“UR berada di lini depan teknologi cobot. Di Indonesia, UR mempercepat transisi ke produksi yang lebih cerdas dan pertumbuhan berkelanjutan untuk berbagai bisnis. JVC Electronics Indonesia (JEIN) misalnya, telah meningkatkan produktivitas, kualitas hasil dan keselamatan pekerja, dengan penghematan biaya tahunan lebih dari USD 80.000. Hal ini memicu adopsi teknologi cobot yang lebih besar karena perusahaan menyadari potensi besar otomatisasi. Di Indonesia, cobot digunakan di industri otomotif, elektronik, tekstil, farmasi, alas kaki, dan pengolahan makanan,” tambah Adams.

Pertumbuhan Adopsi Robotik di Indonesia

Adopsi robot mulai menguat di Indonesia. Menurut International Federation of Robotics, Indonesia menempati peringkat ke-26 dunia untuk penggunaan robot operasional. Tahun lalu, Indonesia mendaftarkan 8.655 robot, naik 9 persen dari sebelumnya 7.913 unit pada 2017. Industri otomotif menjadi pengguna terbesar di Indonesia, dengan mencatat pembelian robot mencapai 29 persen dari seluruh transaksi pada 2018, diikuti industri elektronik sebesar 12 persen .


Umumnya, Indonesia lebih lambat dalam mengadopsi otomatisasi dan teknologi baru dibandingkan negara-negara tetangga. Menurut A.T. Kearney, Indonesia agak tertinggal ketimbang negara-negara seperti Singapura, Thailand dan Malaysia dalam implementasi Industri 4.0. Untuk menjembatani kesenjangan ini, Presiden Joko Widodo meluncurkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’ dalam persiapan menuju Industri 4.0 dan mendorong adopsi otomatisasi . Jika berhasil, tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa mencapai enam hingga tujuh persen dari 2018 hingga 2030 .

Cobot UR10 diimplementasikan di VMIC

Proses manual mendominasi pekerjaan di VMIC yang memproduksi suku cadang kendaraan pertambangan. Ketergantungan pada buruh ini berujung pada produktivitas rendah dan kualitas yang tidak konsisten. Jumlah dan pesanan pelanggan rendah sehingga mempengaruhi pendapatan pekerja. Saat menyadari pentingnya otomatisasi, perusahaan mengerahkan dua cobot UR10 untuk melakukan dua tugas; pick and place serta merawat mesin.
VMIC menjangkau integrator sistem otomasi lokal Vnstar Automation JSC (Vnstar), yakni mitra Servo Dynamics Engineering (Servo), distributor UR di Vietnam, untuk mengotomatiskan prosesnya.

“Meskipun baru dalam bidang robotika, tim teknik VMIC berhasil mengerahkan cobot dalam waktu sebulan setelah menerima tiga hari pelatihan teori dan dua hari praktik dari tim kami. Kami juga menyediakan dukungan teknis proaktif dan responsif, memastikan tidak ada gangguan alur kerja,” ujar Kelly Kao, Director, Servo Dynamics Engineering Co., Ltd.
“Fitur keselamatan cobot yang canggih memungkinkan karyawan untuk bekerja dengan cobot secara aman dan tanpa batasan. Tidak ada perubahan yang diperlukan untuk ruang kerja, menghemat biaya sambil meningkatkan produktivitas,” Kelly Kao menambahkan.

Pham Xuan Phi, Chief Executive Officer VMIC mengatakan, “Sejak menggunakan cobot, produktivitas kami meningkat dua hingga tiga kali lipat dan kualitas produk sekarang sangat konsisten. Ini menyebabkan peningkatan pesanan 50 hingga 60 persen berlanjut pada peningkatan pendapatan pekerja. Return on Investment (ROI) di Vietnam untuk investasi robot seperti itu biasanya antara enam hingga delapan tahun, namun kami berharap bisa mencapainya dalam satu atau dua tahun.”

“Dengan cobot UR10, pabrik produksi hanya membutuhkan lebih sedikit pekerja. Sehingga kami bisa menugaskan orang untuk pekerjaan di level yang lebih tinggi, meningkatkan kepuasan pekerja dan mengurangi risiko kecelakaan di tempat kerja,” tambahnya.

Dalam beberapa tahun ke depan, VMIC berencana menambah tiga hingga lima cobot UR untuk mengotomatisasi lebih banyak proses di pabrik mereka.
Informasi lebih lanjut tentang bagaimana VMIC menggunakan cobot UR, silakan klik di sini.
Tentang Universal Robots

Universal Robots didirikan pada 2005 untuk membuat teknologi robot dapat diakses semua orang dengan mengembangkan robot industri kecil, ramah pengguna, harga terjangkau, dan fleksibel yang aman untuk digunakan. Sejak robot kolaboratif (cobot) pertama diluncurkan pada 2008, perusahaan telah mengalami pertumbuhan cukup besar dengan cobot ramah pengguna yang kini dijual di seluruh dunia.

Perusahaan, yang merupakan bagian dari Teradyne Inc., berkantor pusat di Odense, Denmark, dan memiliki anak perusahaan dan kantor regional di Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Republik Ceko, Polandia, Hongaria, Romania, Rusia, Turki, Cina, India, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Meksiko. Pada 2018, Universal Robots memiliki pemasukan USD 234 juta.

 

 

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Senin, 06 Juli 2020 - 16:25 WIB

Terima Kasih Pak Jokowi, Industri Keramik Sudah Nikmati Harga Gas Baru

"Tentunya dengan stimulus harga gas baru ini, Asaki bisa lebih agresif memanfaatkan peluang pasar di kawasan ASEAN dan peluang baru untuk pasar Australia yang selama ini dikuasai produk keramik…

BRI AGRO

Senin, 06 Juli 2020 - 16:20 WIB

BRI AGRO Siapkan Dana Buy Back Saham Perseroan

Emiten PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) berencana melakukan kembali saham perseroan yang telah dikeluarkan dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Suryani Motik KADIN dan Angga Prawira HIPMI

Senin, 06 Juli 2020 - 16:18 WIB

Kinerja OJK Bikin Geleng-geleng, KADIN dan HIPMI: Fasilitas dan Gaji Mereka Hotel Bintang 5, Tapi Layanan Bak Hotel Melati

"Padahal fasilitas dan gaji yang mereka dapatkan bagai hotel bintang 5, tapi layanan yang diberikan bak hotel melati tanpa bintang," ujar Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI)…

Prajurit Satgas Yonif 754 Membagikan Paket Bahan Makanan Kepada Masyarakat Kampung Nayaro Distrik Mimika Baru

Senin, 06 Juli 2020 - 16:10 WIB

Prajurit Satgas Yonif 754 Bagikan Sembako Kepada Masyarakat Nayaro

Prajurit Komando Taktis (Kotis) Satgas Pengamanan Daerah Rawan (Pamrahwan) Yonif 754/ENK/20/3 Kostrad semangat membagikan paket bahan makanan kepada masyarakat Kampung Nayaro Distrik Mimika…

Wujud kalung anti-virus corona buatan Balitbangtan Kementan RI. (Detik.com)

Senin, 06 Juli 2020 - 16:03 WIB

Heboh Klaim Kementan tentang Kalung Anti Corona dan Membunuh 42% Virus

Jakarta-Klaim Kementerian Pertanian tentang kalung eucalyptus (kayu putih) yang mampu membunuh 42% virus perlu ditanggapi dengan kritis. Apalagi ada upaya untuk melakukan produksi secara massal…