Trada Alam Minera Dirikan Khatulistiwa Sinar Investama

Oleh : Abraham Sihombing | Rabu, 16 Oktober 2019 - 09:42 WIB

Seorang pekerja sedang mengawasi conveyer batu bara PT Gunung Bara Utama, anak usaha PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM). (Foto istimewa TRAM)
Seorang pekerja sedang mengawasi conveyer batu bara PT Gunung Bara Utama, anak usaha PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM). (Foto istimewa TRAM)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Manajemen PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) bersama PT Semeru Infra Energi mendirikan PT Khatulistiwa Sinar Investama. Pendirian anak usaha yang bergerak di bidang investasi tersebut telah disetujui Kementerian Hukum dan HAM pada 9 Oktober 2019.

“Di Khatulistiwa Sinar Investama, Trada Alam Minera menguasai kepemilikan saham hingga 99,99 persen atau setara dengan 2.499 unit saham bernilai nominal Rp249,9 juta. Adapun sisanya sebesar 0,01% dimiliki Semeru Infra Energi,” ujar Asnita Kasmy, Corporate Secretary TRAM, dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/10/2019).

Asnita berharap, pendirian PT Khatulistiwa Sinar Investama sebagai anak usaha dapat berdampak positif bagi kinerja TRAM di masa depan. Pasalnya, kinerja keuangan anak usaha tersebut nantinya dikonsolidasikan dengan laporan keuangan TRAM.

Seperti diketahui, setelah berganti nama dari PT Trada Maritime Tbk yang sebelumnya mengelola bisnis angkutan pelayaran laut, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) yang kini berusaha di sektor pertambangan batu bara menunjukkan kinerja yang semakin solid.

Penggantian nama itu dikarenakan TRAM berniat mengakuisisi sebuah perusahaan pertambangan. Akhirnya, tindakan korporasi tersebut terlaksana dan penggantian nama perusahaan diwujudkan kendati tanpa perubahan kode sahamnya, yaitu TRAM. Itu disetujui para pemegang saham Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (18/10/2017).

Setahun lebih setelah penggantian nama tersebut, tepatnya di sepanjang periode Januari-Juni 2019, kinerja fundamental Perseroan terlihat semakin solid dan saham-sahamnya juga aktif diperdagangkan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Di samping disebabkan oleh penggantian bisnis inti (core business) perseroan, kinerja positif tersebut tampaknya disebabkan juga oleh pengelolaan bisnis yang lebih efisien.

Perseroan pada akhirnya mengakuisisi PT Gunung Bara Utama (GBU), sebuah perusahaan tambang batu bara di Kalimantan, dan PT Ricobana Abadi, sebuah perusahaan jasa pertambangan. Pasca akuisisi, maka komposisi bisnis perseroan saat ini yang sebelumnya 100% adalah jasa angkutan pelayaran laut berubah menjadi 80% bergerak di bisnis pertambangan batu bara dan 20% di jasa angkutan pelayaran laut.

Agar dapat mengendalikan bisnis PT Gunung Bara Utama (GBU), Perseroan mengakuisisi seluruh porsi kepemilikan saham PT Semeru Infra Energi dan PT Black Diamond di GBU. Demikian pula yang dilakukan untuk mengendalikan bisnis PT Ricobana Abadi, dimana Perseroan mengambil alih saham-saham PT SMR Utama, selaku pemegang mayoritas PT Ricobana Abadi.

Per Juni 2019, kinerja keuangan Perseroan semakin kuat. Itu terlihat dari pendapatan yang dibukukan sebesar Rp2,11 triliun, atau naik 63,57%, dibandingkan di periode yang sama pada 2018 sebesar Rp1,29 triliun. Kenaikan itu mendorong lonjakan laba kotor sebesar 114,13% menjadi Rp367,08 miliar dibanding per Juni 2018 sebesar Rp171,43 miliar.

Pada paruh pertama 2019 ini, laba usaha tercatat sebesar Rp165,61 miliar, atau naik 30,91% dibanding periode yang sama pada 2018 sebesar Rp126,51 miliar. Bahkan, laba sebelum pajak (Pretax Profit) melesat lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp93,01 miliar dibanding per Juni 2018 sebesar Rp7,91 miliar.

Lonjakan laba sebelum pajak tersebut karena perseroan pada di pertama 2019 membukukan laba selisih kurs (forex gain) sebesar Rp8,28 miliar dibanding rugi kurs sebesar Rp22,73 miliar per Juni 2018.

Selain itu, perseroan per Juni 2019 mengalami penurunan beban keuangan menjadi Rp83,69 miliar dibanding periode yang sama 2018 sebesar Rp111,49 miliar. Kondisi tersebut dapat diartikan, bahwa perseroan mulai mengalami penurunan kewajiban sehingga berpotensi untuk meningkatkan kegiatan investasi internal maupun eksternal Perseroan di masa depan.

Per Juni 2019, perseroan mencatat laba Rp44,75 miliar, naik secara signifikan 89,94% dibanding per Juni 2018 sebesar Rp23,56 miliar. Peningkatan laba ini diharapkan dapat terus berlangsung hingga akhir tahun, mengingat rata-rata produksi harian GBU saat ini sudah mencapai 300.000 ton batu bara. Rata-rata produksi harian ini ke depan akan terus ditingkatkan untuk mencapai kinerja keuangan Perseroan yang optimal. (Abraham Sihombing)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Monita Tahalea Memandang “Dari Balik Jendela”

Sabtu, 04 April 2020 - 15:30 WIB

Monita Tahalea Memandang 'Dari Balik Jendela'

Jakarta-Setelah single "Sesaat yang Abadi" yang dirilis pada penghujung tahun 2018 berhasil mendudukkan MONITA TAHALEA di jajaran Nominasi AMI Awards 2019 untuk kategori Artis Pria/Wanita Solo…

Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah

Sabtu, 04 April 2020 - 15:05 WIB

Digulung Corona, 2.311 Pekerja Kena PHK

Sedikitnya terdapat 153 perusahaan yang merumahkan 9.183 orang pekerja karena dampak perlambatan ekonomi akibat wabah Corona. Selain itu, hingga 1 April 2020, total pekerja yang terkena PHK…

Honda Prospect Motor

Sabtu, 04 April 2020 - 15:05 WIB

Inilah Strategi Honda Antisipasi Penurunan Pasar Imbas Corona

PT Honda Prospect Motor (HPM) memfokuskan strateginya untuk menjaga tingkat pasokan yang sehat, sekaligus membawa berbagai layanannya ke rumah pelanggan.

Jomblo Mana Suaranya Single Terbaru dari Ikhlas Band

Sabtu, 04 April 2020 - 15:00 WIB

Jomblo Mana Suaranya Single Terbaru dari Ikhlas Band

Setelah merilis single “Assalamualaikum Cinta” dan “Hey Mantanku“, Ikhlas Band yang terdiri dari Edi Suranta Tarigan “Edot” (vokal), Prio Prihanggo “Anggo” (gitar), Ferdiansyah…

Singapore Airlines (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 04 April 2020 - 14:30 WIB

SIA Kurangi Kapasitas Operasional

Singapore Airlines menangguhkan layanan tambahan di semua jaringannya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri penerbangan, yaitu saat negara-negara di seluruh dunia menerapkan kontrol…