Tim Pendaki Termuda Pelajar BPK Penabur Berhasil Taklukan Kilimanjaro

Oleh : Herry Barus | Senin, 14 Oktober 2019 - 11:30 WIB

Tim Pendaki Termuda Pelajar BPK Penabur Berhasil Taklukan Kilimanjaro
Tim Pendaki Termuda Pelajar BPK Penabur Berhasil Taklukan Kilimanjaro

INDUSTRY.co.id - Tanzania-Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di Benua Afrika dengan ketinggian 5.895 mdpl yang masuk ke dalam jajaran 7 gunung tertinggi di dunia. Beriklim tropis, suhu rata-rata di permukaan adalah 25-30 derajat Celcius, dan di puncaknya bisa mencapai -20 derajat Celcius. Gunung yang berada di negara Tanzania ini merupakan salah satu destinasi favorit para pendaki dunia.


Tim pendaki cilik kakak beradik dari SMP dan SMA BPK Penabur Jakarta, Jonathan Philip berusia 13 tahun dan Matthew Richard berusia 15 tahun berhasil menggapai puncak Kilimanjaro, Uhuru Peak 17 Maret 2019 setelah mendaki selama 5 hari lamanya.

Untuk dapat mencapai puncak tertinggi di benua Afrika itu tentu dibutuhkan fisik dan mental yang kuat agar berhasil mencapai puncak Kilimanjaro. Menurut statistik, hanya 40% pendaki yang berhasil mencapai Puncak Kilimanjaro dalam pendakiannya. 

"Sebelum pendakian, kami harus berlatih fisik selama tiga bulan dengan jogging, trekking, naik turun Gunung Gede," jelas Jonathan putra bungsu  Sanny Hadinata dan David Edward.

 

Dijelaskan Jonathan, perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta Senin malam, 11 Maret 2019 menuju Bandara Kilimanjaro di Tanzania. Ketika tiba keesokan harinya, Jonathan dan Matthew langsung ke Moshi untuk bermalam dan memeriksa kelengkapan pendakian. "Pendakian sendiri dimulai pada hari Rabu pagi pukul 10.00 ke kaki gunung Kilimanjaro," ujar Jonathan.

Rabu siang, rombongan pendaki yang terdiri para pelajar BPK Penabur, guide dan porter memulai pendakian ke camp pertama, yaitu Mandara Hut di ketinggian 2.720 mdpl dengan melalui hutan yang mirip hutan di Indonesia, seperti di gunung Gede atau Pangrango. Hanya saja disana udaranya terasa sangat kering. 

"Ketika malam tiba, kami melakukan evaluasi tentang perjalanan pada hari itu dan mengecek tingkat oksigen di darah kami. Ternyata kesehatan kami tetap prima usai melakukan perjalanan yang lumayan mudah karena belum terlalu dingin dan tidak terlalu terjal," jelas Matthew.

Pada malam hari, suhu di Mandara Hut sangat dingin jika dibandingkan dengan ketinggan serupa seperti di Lembah Suryakencana, Gunung Gede. Awalnya suhu tidak terlalu dingin sehingga Jonathan dan Matthew tidur hanya menggunakan jaket polar dan selimut. Tapi, ternyata saat tengah malam suhu berubah sangat dingin dan terpaksa harus masuk kedalam sleeping bag untuk menahan suhu -20 Celcius.

Hari kedua pendakian, para pendaki berjalan menuju ke camp 2, yaitu Horombo Hut di ketinggian 3.700 mdpl, yang ketinggiannya setara dengan gunung Rinjani dan Semeru. Perjalanan hari itu sangat berangin dan parapendaki harus memakai flannel dan jaket windbreaker. Perjalanan kali ini terbilang susah, karena harus naik turun banyak bukit dan jalur yang dinaiki sangat terjal.  

"Dan kita belum bisa melihat tujuan, sehingga sempat membuat frustasi kapan akan sampai," keluh Jonathan.

Setelah berjalan 6-7 jam, akhirnya sampai juga di Horombo Hut. Semua wajah orang yang tiba di tempat ini terlihat sangat lelah. Suhu di sore hari sudah mulai terasa dingin disertai angin yang bertiup cukup kencang sehingga memaksa untuk segera istirahat tidur di dalam hut agar dapat memulihkan tenaga kembali.
          
Pagi terasa cerah, pada hari ketiga ini para pendaki harus melakukan proses aklimatisasi ke Zebra Rock di ketinggian 4.100 mdpl. Proses aklimatisasi harus dilakukan agar tubuh dapat menyesuaikan diri terhadap kadar oksigen yang lebih tipis dan suhu yang dingin. Diatas ketinggian 4.000 mdpl, kita tidak boleh berjalan terlalu cepat agar badan dapat menyesuaikan diri pada kondisi oksigen yang sudah mulai menipis. 

"Aklimatisasi juga dilakukan agar tubuh kita bisa cooldown setelah melalui pendakian yang sangat melelahkan. Proses aklimatisasi sendiri tidak melelahkan, hanya memakan waktu 2-3 jam. Dan kami dihimbau untuk beristirahat yang cukup karena keesokan harinya harus melakukan pendakian yang sangat susah," jelas Matthew. 

Memasuki hari keempat, Jonathan dan Matthew melakukan pendakian ke camp 3, yaitu Kibo Hut di ketinggian 4.750 mdpl, hampir setinggi Cartensz Pyramid, gunung tertinggi di Papua Indonesia yang juga merupakan salah satu dari Seven Summit. 

"Hari keempat pendakian sangat sangat panjang dan sangat berangin karena kami sudah mulai memasuki kawasan alpine desert yang tidak mempunyai vegetasi, jadi tidak ada yang menghadang angin. Dan pada ketinggian 4.300an, saya terkena AMS (Acute Mountain Sickness), yang disebabkan oleh kadar oksigen yang semakin menipis," ungkap Jonathan.

Dijelaskan Matthew, AMS dapat disebabkan oleh ritme jalan yang terlalu cepat, sehingga diputuskan untuk melambatkan ritme jalan. AMS mempunyai gejala, yaitu sakit kepala di bagian belakang yang berkelanjutan. Terlebih lagi, ketika sarapan sangat sedikit, sehingga kekurangan energi untuk melakukan perjalanan.      

Ketika sampai di Kibo Hut, Jonathan dan Matthew langsung menuju hut dan memakai baju yang akan dipakai untuk summit attack. Baju yang dipakai adalah longjohn thermal, polar jacket, down jacket, dan windbreaker yang mempunyai lapisan ekstra downjacket. Dan celana yang dipakai adalah longjohn thermal, polar pant, dan ski pant. 

Setelah mengenakan semua itu, mereka menuju tempat makan. Namun makanan yang dihidangkan baru sampai 20-30 menit kemudian padahal perut sudah terasa sangat lapar. Menu makan malam yang disajikan adalah spaghetti polos dan sayuran. 

Sore itu, akhirnya terpaksa hanya makan spaghetti polos. Setelah itu dibriefing tentang summit attack. Ternyata, pada hari itu para pendaki hanya mempunyai 2 jam untuk tidur karena summit attack pada pukul 10.30 malam. Tentu membuat semua tercengang karena tidak mendapat asupan makan dan tudur yang cukup, terlebih beberapa dari rombongan pendaki ada juga yang terkena AMS (Acute Mountain Sickness). 

"Pada malam itu, kami hanya bisa berharap agar saat kami bangun, AMS kami akan mereda dan kami bisa melanjutkan perjalanan," harap Jonathan.

Tibalah saat yang dinanti, tepat pukul 10 malam, Jonathan dibangunkan oleh Matthew dan menyuruh untuk siap-siap berjalan. Pada malam itu, para pendaki hanya disediakan teh dan biscuit sebagai pengganjal perut. Setelah makan ala kadarnya para pendaki diajak keluar untuk briefing terakhir sebelum berjalan. 

"Itu merupakan malam yang sangat dingin. Suhu mencapai -10-20 celcius. Karena dingin, air di dalam water bladder saya pun beku dan akhirnya saya hanya bisa minum dari termos," ungkap Matthew.

Perjalanan malam hari ke puncak Kilimanjaro sangatlah susah karena terjalnya jalur pendakian sehingga kami harus berjalan zig-zag karena tidak dapat langsung berjalan lurus terlebih lagi jalanan dipenuhi dengan batu kerikil sehingga sering membuat terpeleset. 

"Kaki saya mulai mati rasa karena dinginnya suhu. Dan tidak ada yang bisa saya lakukan tentang itu, hanya berjalan dan terus berjalan. Saking lelah, ngantuk, dan dinginnya udara, saya sering tertidur saat berdiri, bahkan saya pernah terlelap saat sedang berjalan. Hingga saya tidak ingat sebagian besar perjalanan summit attack pada hari itu," kenang Jonathan.

Setelah melakukan perjalan 12 jam lamanya, Jonathan dan Matthew akhirnya tiba di puncak pertama, yaitu Gilman’s Point yang memiliki ketinggian 5.685 mdpl. Gilman’s Point bukanlah puncak tertinggi dari gunung tersebut, melainkan poin pertama yang harus dilalui lewat kawah gunung tersebut. 

Dari Gilman’s Point masih ada sekitar 2 jam untuk dapat tiba di puncak Kilimanjaro, yaitu Uhuru Peak, 5.895 mdpl. Pemandangan dari atas Giliman's memang sangat indah, karena kawah dipenuhi dengan salju serta glacier abadi yang terlihat sangat megah dan besar. 

Istirahat 15 menit berlalu begitu cepat, perjalanan harus dilanjutkan dari Gilman’s Point dengan teknik melipir melalui pinggir kawah agar dapat mencapai Uhuru Peak. Disini, AMS (Acute Mountain Sickness) Jonathan mulai kambuh lagi sehingga harus beristirahat kembali. Setelah penyakit mereda pendakian dilanjutkan ke Stella Point yaitu poin kedua dengan ketinggian 5.756 mdpl. Diketinggian ini jalan Jonathan menjadi sangat lambat karena sangat ngantuk dan lelah.

Perjalanan mendaki ditempuh dalam waktu 1 jam hingga sampai juga di Stella Point. Stella Point ini mirip dengan Gilman’s hanya saja lebih tinggi dan dekat ke puncak. Saat sampai Stella Point, guide mengecek apakah kondisi para pendaki masih mampu untuk pergi ke puncak atau tidak. 

"Ketika saya dicek, saya agak takut karena saya mengalami AMS, sehingga mungkin saja tidak diperbolehkan untuk naik ke puncak," ujar Jonathan. 

Ditambahkan Jonathan, pada saat dia dicek, ternyata guide nengijinkan untuk lanjut ke Uhuru Peak. Dalam perjalanan summit attack Jonathan banyak merenung karena tidak percaya bahwa bisa melewati semua ujian itu hingga mencapai puncak tertinggi Gunung Kilimanjao. Ketika tiba di Uhuru Peak para guide menghimbau untuk tidak berlama-lama di puncak karena takut cuaca akan segera memburuk.

"Kami hanya berfoto-foto sebentar dan langsung menuju ke bawah. Saya tidak yakin apa yang terjadi, tapi saat kita turun, kita tersesat. Seharusnya, saat kita turun kita bisa melihat padang pasir, tapi malah kita turun ke sebuah lembah. Tapi untungnya, dari lembah tersebut bisa melihat Kibo Hut," jelas Matthew.

Ketika sampai di Kibo Hut, hari sudah sore menjelang malam, Jonathan dan Matthew hanya bisa membuat Milo sebelum tertidur lelap. Keesokan harinya, Jonathan bertanya kepada para pendaki setim tentang apa yang terjadi kemarin karena dia tidak ingat apa-apa. Ternyata, setelah melewati Stella Point saat perjalanan turun, Jonathan mulai pusing berat, jadi itulah mungkin kenapa dia tidak ingat apa-apa. 

Malam terakhir di Kibo Hut telah berlalu, usai sarapan guide mengatakan bahwa para pendaki akan langsung turun ke Marangu Gate dengan menempuh jarak 38 km yang ditempuh dalam waktu 1 hari. Mendengar itu para pendaki langsung packing barang dan bergegas jalan ke bawah. Perjalanan turun terasa mudah karena jalan selalu mengarah turun, kecuali di kawasan Moorland yang harus naik turun bukit. Makan siang dilakukan di Mandara Hut dengan menu yang tidak enak, namun tetap dimakan agar tidak kelaparan. 

Saat turun dari Mandara, ungkap Jonathan, kaki mulai terasa pegal dan loyo. Dan saat sampai di Marangu Gate, Jonathan langsung terduduk dan saat berdiri kembali otot di depan tulang keringnya tidak bisa dirasakan. Tapi Jonathan merasa sangat senang karena perjalanan kali ini sukses.

"Tabah Sampai Akhir!" seru Jonathan dan Matthew mengakhiri perjalanan.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

NIVEA Hadirkan World of Imagination

Kamis, 14 November 2019 - 11:34 WIB

NIVEA Hadirkan World of Imagination Perkuat Daya Imajinasi dan Eratkan Ikatan Ibu Anak

NIVEA Crème Tin kembali mengukuhkan komitmennya untuk mempererat bonding time atau ikatan antara ibu dan anak melalui NIVEA #SentuhanIbu 2019 World of Imagination yang akan diselenggarakan…

Bank Muamalat dan Barata Indonesia

Kamis, 14 November 2019 - 11:29 WIB

Bank Muamalat Salurkan Pembiayaan ke Supplier Barata Indonesia

Jakarta – PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. melakukan kerja sama Supply Chain Financing (SCF) dengan PT Barata Indonesia (Persero). Bank syariah pertama di Indonesia ini menyalurkan fasilitas…

Ilustrasi Pabrik Kaca Lembaran

Kamis, 14 November 2019 - 11:01 WIB

Bidik Pasar Ekspor, Kemenperin Dorong Industri Kaca Tambah Kapasitas Produksi

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong industri kaca nasional menambah kapasitas produksinya guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus membidik pasar…

Princess Cruises Perluas Manfaat Captain’s Circle Loyalty kepada Para Tamu Muda

Kamis, 14 November 2019 - 11:00 WIB

Princess Cruises Perluas Manfaat Captain’s Circle Loyalty kepada Para Tamu Muda

Princess Cruises akan memperluas program yang memenangkan penghargaan Captain’s Circle Loyalty kepada para tamu dari segala usia dengan memberi penghargaan kepada tamu-tamu muda setia dengan…

Alibaba Group

Kamis, 14 November 2019 - 10:58 WIB

UC dan Huawei Kerjasama Perdayakan Ekosistem Digital di Era Globalisasi 4.0

Jakarta - UCWeb, bisnis subsider Alibaba Innovation Initiatives Business Group, diundang oleh Huawei HMS untuk menghadiri APAC Developer Day 2019 yang diadakan di Singapura, sebagai mitra lama…